
"Bummmm... bummm" ledakan keras terdengar di sertai tanah bergetar.
"Resimen anti terorisme mengerahkan kenderaan lapis baja untuk menyelamatkan pasukan kita" ucap komandan mereka.
"Pasukan penyelamat akan tiba sekitar satu jam perjalanan untuk bisa sampai di lokasi kita terperangkap, pemberontak tak mungkin menyerah begitu saja, mereka sangat kuat".
"Tar tar tar tar" kembali rentetan tembakan makin gencar
"Pasukan Pemberontak kembali mengepung jarak mereka makin dekat" ucap sang komandan mulai panik.
"Tidak ada jalan untuk yang melarikan diri kita harus bertahan dengan sisa amunisi dan kekuatan yang ada"
"Tar tar tar tar" kembali Fhadlan nenembak.
"Ahhh ... ahhh ... ahhhh" tiga orang pemberontak yang berusaha mendekat roboh hanya berjarak sepuluh meter dari mereka.
"Suuuuut" terdengar seperti suara marcon terbang, saat sebuah granat tangan di lontarkan pada mereka.
Reflek Fhadlan melemparkan kerikil dan tepat mengenai benda tersebut.
"Tak .. bummmmm" granat tangan tersebut melenceng kemudian meledak tak jauh dari mereka.
Pasir berhamburan debu dan kerikil berterbangan membuat jarak pandang menjadi terbatas.
"Luar biasa anak muda kamu benar benar pahlawan hari ini" ucap komandan menepuk bahu Fhadlan.
Lebih dari dua jam mereka bertahan akhirnya pasukan penyelamat pun terlihat di kejauhan, rentetan senapan mesin dan senjata berat makin ramai terdengar, namun tembakan sudah tidak banyak yang mengarah pada mereka.
"Beni bawa pasukan sampean mundur, pasukan bantuan mereka di sokong thank baja dan senjata berat" sayup terdengar seseorang dalam bahasa Indonesia memberi komando.
__ADS_1
"Beni... mereka orang Indonesia" pikir Fhadlan membatin.
"Tak salah lagi mereka adalah Imperium Balqis yang ada di Indonesia" guman Fhadlan.
Sekitar setengah jam baku tembak berlangsung antara pemberontak dan pasukan penyelamat, akhirnya pasukan penyelamatan berhasil membawa mereka kembali ke kota Aden.
"Fhadlan untuk sementara tinggal di rumah paman Hamdi ya, sampai suasana benar benar aman untuk melintasi perbatasan ke Saudi Arabia" ucap paman Hamdi.
"Ya paman" ucap Fhadlan singkat, memang di hatinya sedang ada keinginan untuk menelusuri keberadaan Beni yang dia duga adakah Beni yang sama dengan Beni yang merampas kalungnya.
Selama di Yaman Fhadlan hanya tinggal berdua dengan paman Hamdi, karena anak dan istri paman Hamdi juga sudah meninggalkan kota Aden mengungsi ke Arab Saudi.
Fhadlan juga di sekolahkan pada sekolah madrasah setingkat smp di Indonesia. Saat itu Fhadlan dalam masa pencarian identitas diri, pencarian akan kebenaran dalam Islam. Yaman adalah tempat yang tepat karena Islam di sana masih murni dan sanadnya bersambung ke Rasulullah. Di samping itu Walisongo katanya juga berasal dari negeri Yaman.
"Bagaimana sekolahmu Lan" tanya paman Hamdi suatu pagi.
"Lancar paman, namun setidaknya dalam satu bulan pertama Fhadlan butuh banyak adaptasi, dari sistem pendidikan makanan, budaya dan bahasa yang jauh berbeda dengan Indonesia" jawab Fhadlan.
"Lan bawa semua makanan yang kita punya ke masjid, mulai hari ini kita sarapan dan makan di masjid" ucap paman Hamdi.
"Untuk apa paman?" tanya Fhadlan.
"Kota Aden sudah mulai kekurangan makanan kita bisa berbagi dengan tetangga yang sudah tak punya makanan" jelas paman Hamdi.
Di masjid terlihat ramai penduduk membawa makanan mereka masing mading, banyak juga yang datang tidak bawa apa apa, lalu semua makanan di kumpulkan dalam satu tempat atau wadah. Kemudian dibagi rata dengan semua yang hadir.
"Ayo habiskan sarapannya Lan, begini kebiasaan orang Yaman saat krisis makanan, semua makanan yang mereka punya di kumpulkan lalu di bagi rata, tak peduli dia bawa makanan atau tidak" jelas paman Hamdi.
"Cik cik cik" decak Fhadlan kagum.
__ADS_1
"Wajar kalau di Yaman banyak para wali hingga Wali Songo-pun berasal dari Yaman" pikir Fhadlan.
Fhadlan ingat salah satu hadits yang di ajarkan di sekolah kalau di akhir zaman akan muncul pejuang pejuang kebenaran di Yaman bahkan Rasulullah juga menganjurkan Yaman sebagai salah satu tempat berjihad paling bagus setelah Syam.
Yang membuat Fhadlan kerasan tinggal di Yaman karena Yaman memiliki karakter berbeda dengan negara Arab lainnya. Masyarakatnya lebih ramah, sopan dan berhati mulia. Sebenarnya Yaman dan Indonesia memilili ikatan yang sangat kuat.
Dulu, para ulama dari Yaman, hijrah ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam yang kemudian dikenal dengan Wali Songo. Proses membumikan Islam di Nusantara sangat berbeda dengan Islamisasi di Eropa. Di Cordoba misalnya, Islam tersebar menggunakan penaklukan/imperialisme. Sehingga ketika kekuasaan Islam lemah, maka Islam juga lenyap.
Ulama Yaman bukan ahli ibadah yang panatik, Yang paling kerasa adalah tetang pemahaman mereka terhadap Islam secara benar dan komprehensif dengan sikap toleransi dan moderat yang diajarkan ulama dan habaib Yaman, sangat cocok jika diterapkan di Indonesia.
Setelah sarapan paman Hamid naik mimbar setelah mengucapkan salam diapun berpidato.
"Saudara ku seiman, semenjak zaman para sahabat orang Yaman terkenal dan di puji Rasulullah, diakhir zaman orang orang Yaman juga di kabarkan Rasulullah sebagai pejuang agama allah"
"Kita di ciptakan untuk mengabdi pada Allah, kita di ciptakan untuk mengamalkan ajaran agamanya, inti dari agama itu adalah aqidah dan syariat, saudaraku"
"Agama bukan cuma urusan ibadah, kalau ibadah anak kecilpun bisa melakukannya. Tapi beragama itu juga menjalankan syariatnya, pada puncaknya mendiri kan kebenaran dan melarang kebatilan saudara ku"
"Artinya kita harus mengenal halal dan haram, hak dan bathil, siapa benar siapa salah dan harus berani membela yang benar, berani mencegah kezoliman"
"Dalam situasi saat ini banyak orang berpendapat tampa dalil alquran dan sunah Rasulullah, sehingga banyak perbedaan dan pengkotakan, hingga bermuculan kelompok kelompok yang menamakan dirinya mujahid tapi membrontak pada pemerintah"
"Ada mujahid pro demokrasi, ada mujahid pro khilafah, dan ada mujahid yang bermimpi mendirikan kembali kejayaan negeri Saba. Mereka bermimpi mendirikan Imperium Balqis, yang mereka klim berada di Yaman dengan kekuasaan membentang hingga ke Indonesia"
"Bagaimana mungkin mereka bisa mengaku sebagai Mujahid, sementara dana dana dan persenjataan canggih mereka berasal dari non muslim, tidak malu mereka mengaku mujahid sementara mereka memblokir bahan makanan untuk kaum muslim"
"Tidak malu mereka mengaku mujahid sementara mereka membantai ulama yang tidak sepaham dengan keinginan mereka"
"Sudah hampir tiga bulan semua pasokan makanan untuk penduduk kota Aden di cegat tentara bayaran Imperium Balqis, hingga hari ini kita masih punya makanan untuk berbagi, besok atau bulan depan kita tak akan memiliki apa apa untuk di makan bersama".
__ADS_1
"Saudaraku seiman demi Allah mereka telah berlaku zholim, ayo kita datangi mereka kita rebut kembali pasokan makanan kita yang telah mereka curi" pidato paman Hamdi berapi api.