FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 17


__ADS_3

Jam sembilan pagi Fhadlan membuka matanya, tubuhnya terasa sakit sakit, tenaganya seperti terkuras, lalu bertanya tanya dimana dia berada sekarang, melihat rungan tempat dia berbaring penuh dengan peralatan medis, di mana setiap ranjang berbaring tubuh tubuh tak bergerak dengang slang infus di tangan mereka mereka.


Fhadlan melihat jarum infus yang ada di tangan kirinya tubuhnya kembali merinding terbayang kejadian di mana dokter Ferdi mengoperasi Satrio. tak terasa tangannya sudah memeriksa bagian perutnya memastikan tidak ada sayatan dan jahitan.


Bertepatan saat itu perawat dan dokter yang bertugas memasuki ruang tempat korban kecelakaan gunung kawi tadi malam. Melihat pakaian dokter dan perawat ketakutan Fhadlan makin memuncak tubuhnya menggigil mengakibatkan tempat dia berbaring bergetar menimbulkan bunyi decitan. Perawat dan dokter spontan menjadi terusik dengan bunyi decitan tempat tidur Fhadlan, reflek mereka mendekat dan segera memeriksa keadaan Fhadlan.


"Anak ini sudah siuman, dia paling beruntung tanpa cedera di tubuhnya" ucap perawat pada dokter yang memeriksa.


Dokter memeriksa nadi dan panas tubuh Fhadlan,


"Semua normal cuma detak jantung sangat kencang, anak ini cuma shock berat ketakutan saat terbawa mobil yang terjun bebas kedalam jurang" ucap dokter.


"Siapa namamu nak?" Tanya dokter.


Fhadlan bukan menjawab tapi berusaha menghindar dengan seluruh bulu roma telah berdiri.


"Kasih obat penenang aja dulu" ucap dokter pada perawat setelah melihat Fhadlan terlalu tegang lalu berlalu ke pasien berikutnya.


"Semua ada berapa pasien yang merupakan korban kecelakaan" tanya dokter saat melihat keadaan ibu Gayatri yang juga sudah siuman.


"Semua korban ada tujuh, orang Sopir dan seorang perempuan penumpang di bangku depan meninggal di tempat, kedua mayat mereka ada di ruang mayat menunggu jemputan keluarga mereka" ucap perawat melaporkan pada dokter.


"Lalu yang selamat bagaimana kondisinya?" tanya dokter.


"Tiga orang luka berat sampai saat ini belum siuman, yakni seorang anak, seorang ibu muda, dan seorang lelaki setengah baya turunan teonghoa" perawat membawa mereka ke tempat di mana Tatang, Cicilia dan seorang lelaki kebangsaan Tionghoa.


"Dua orang lagi luka ringan yakni anak yang tadi dokter periksa dan ibu ini" ucap petawst saat mereka berhenti di depan ibu Gayatri.


Dokter melakukan hal yang sama pada ibu Gayatri memeriksa nadi dan tekanan darahnya.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya ibu Gayatri.

__ADS_1


"Ibu cuma luka lecet di tangan dan wajah, anak ibu yang mana?" tanya dokter.


"Itu dok" ibu Gayatri menujuk Tatang yang terbaring di samping tempat tidur pasien sebelah Fhadlan.


"Sabar ya bu, anak ibu sepertinya mengalami patah tulang serius tapi tidak perlu di cemaskan" ucap dokter.


Saat itu Cicilia juga mulai siuman


"Aduhhh ahhhh Lan ... lan" terdengar erangan dari Cicilia di samping ibu Gayatri.


"Jangan bergerak dulu bu! anak ibu tidak mengalami luka sedikitpun" ucap perawat.


Kondisi cicilia cukup memprihatinkan kepalanya terbentur suatu yang keras hingga tengkoraknya retak dan kehilangan banyak darah. Setelah memeriksa dan membuat resep untuk masing pasien dokter dan perawat segera meninggalkan ruangan.


****


Dua hari sudah para korban di rawat Fhadlan sudah sehat tapi masih dalam perawatan. Sebenarnya kondisinya sudah boleh pulang tapi karena Cicilia yang di sangka ibunya Fhadlan masih kritis maka Fhadlan masih di rawat di rumah sakit dengan infus baru saja dilepas oleh perawat.


Sikap para pasien dan perawat yang familier membuat Fhadlan menjadi akrab. setelah di bebaskan infusnya Fhadlan lebih sering membantu pasien lainnya membatu Cicilia, Gayatri, Tatang bahkan pak Wijaya seorang kebangsaan tionghoa. Tentu saja semua pasien merasa terbantu dengan adanya Fhadlan di ruangan mereka.


"Om ayahnya Tatang ya?" tanya Fhadlan saat Sutrisna kembali dari mengurus resep khusus untuk obat anaknya Tatang.


"Ya.. saya om Sutrisna ayah Tatang panggil saja om Nanak, kamu pasti Fhadlan kan?" tanya om Nanak.


Gaya dan pemikiran Fhadlan terkesan dewasa dan suka menolong hingga membuat om Nanak senang dengan Fhadlan.


"Benar om, saya Fhadlan" ucap Fhadlan.


Saat itu Cicilia yang mengalami retak tulang tengkorak terlihat kritis meminta Fhadlan mendekat.


"Lan .. sini lan" ucap Cicilia lemah.

__ADS_1


Fhadlan mendekat diikuti om Nanak yang juga prihatin dengan keadaan Cicilia, menurut dokter Cicilia harus di operasi tengkorak namun sampai saat ini keluarga Cicilia belum ada yang datang. melihat keadaan Cicilia makin payah om Nanak segera menuju ruang perawat untuk minta pertolongan.


"Lan ... ibu merasa tak kan bertahan lama, ibu hanya punya ini untuk Fhadlan" Cicilia menyerahkan semacam ajimat di balut kain sutra berwarna merah pada Fhadlan.


Cicilia memberi isyarat pada Fhadlan supaya mendekat lagi.


"Lan panggil tante.. ibu ya" pinta Cicilia.


"Ya bu" ucap Fhadlan.


"Ini warisan ayah ibu, ini bukan ajimat tapi kapsul waktu yang boleh di buka pada tahun 2020 nanti, simpan ya nak" bisik Cicilia lalu mengikatkan sebagai gelang di lengan Fhadlan.


"Baik bu" ucap Fhadlan mengangguk.


Cicilia tersenyum melihat Fhadlan lalu terkulai lemah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ibu ... " jerit Fhadlan memeluk Cicilia.


Saat itu om Nanak masuk di ikuti perawat yang di minta om Nanak untuk di periksa. om nanak membawa Fhadlan menjauh supaya perawat lebih leluasa memeriksa Cicilia.


"Ibunya sudah meninggal pak" ucap perawat pada om Nanak.


Fhadlan makin deras tangisnya, teringat nasipnya harus ke mana setelah kepergian Cicilia. Perawat terlihat sibuk mengurus jenazah Cicilia lalu di bawa ke ruang mayat. Benar saja setelah keluarga Cicilia datang menjemput mayatnya, tak satupun yang peduli dengan Fhadlan bahkan pihak keluarga tidak mengakui kalau Fhadlan adalah anak Cicilia.


Sehari sudah semenjak meninggalnya Cicilia Fhadlan sering menangis mengenang nasibnya. dia tidak tau harus bagaimana tidak tau harus kemana. Om wijaya cukup prihatin dengan keadaan Fhadlan mencoba menyelidik.


"Nak Fhadlan, ayahnya kok gak bawa Fhadlan pulang?" tanya om wijaya.


"Gak om, Fhadlan sudah gak punya siapa siapa" ucap Fhadlan sedih.


"Oo begitu ... kasian kamu hari ini om akan dirujuk ke singapore, jika umur kita panjang mungkin kita bisa bertemu kembali, jika nanti Fhadlan tidak punya tempat tinggal Fhadlan bisa datang ke tempat om wijaya" ucap om Wijaya memberi kan kartu nama dan berapa lembar uang.

__ADS_1


"Terima kasih om" ucap Fhadlan memandang kepergian om wijaya.


Dalam hati Fhadlan sangat berharap kalau om Wijaya berbalik dan membawanya pergi bersamanya. Harapan Fhadlan ternyata sia sia saat melihat om wijaya menghilang dari pandangan dan tak pernah kembali.


__ADS_2