
Hanya perjalanan lima belas menit motor om Sukarjan, berbelok ke sebuah lorong lalu memasuki halaman sebuah rumah sederhana, rumah ukuran 8 x 10 m dengan tiga kamar, yang di bangun dengan konsep Green Minimalis, dikelilingi oleh keindahan pegunungan dengan udara yang bersih dan sejuk.
Fhadlan merasa sangat akrab dengan pemandangan di sekeliiling yang masih asri, dia seperti kembali ke masa kecilnya saat bersama Rania di sebuah desa di pinggir Kota Tapus. Dari pandangan pertama sudah membuat Fhadlan senang, seakan dia sedang tinggal bersama ibu asuhnya, lingkungan di sekitar rumah om Sukarjan telah mengobati rindunya pada orang tuanya bahkan telah menghilangkan seluruh gejolak jiwanya.
"Nak Fhadlan, kita sudah sampai, ini rumahnya om Sukarjan, rumah om Nanak mu yang di sana itu" kata om Sukarjan menunjukan sebuah rumah yang berjarak lima puluh meter dari rumahnya.
"Ayo masuk" ajak om Sukarjan pada Fhadlan
"Kamu boleh gunakan kamar ini, di sini om cuma sendiri" om Sukarjan menuntun Fhadlan ke sebuah kamar di dekat dapur.
"Emang keluarga om Sukarjan ada di mana?" Taya Fhadlan mulai akrab.
"Mereka tinggal di Malang, mereka hanya sekali sekali ke sini, kalaupun mereka kesini kamu tetap boleh gunakan kamar ini" ucap om Sukarjan.
"Terimakasih om" ucap Fhadlan memasuki kamarnya, karena terlalu lelah hanya beberapa menit Fhadlan telah tertidur nyenyak sekali.
****
Demikianlah Fhadlan sementara waktu tinggal di rumah Sukarjan. Doktor Sukarjan begitu orang mengenalnya, merupakan seorang ahli arkeolog yang bekerja di pusat penelitian Arkeologi Nasional. Bukan hanya pemerintah yang berhubungan dengannya, bahkan ahli sejarah maupun pihak pihak suasta yang tertarik pada benda benda kepurbakalan juga sering mengunjungi pak Sukarjan.
Sore itu Fhadlan tinggal sendiri di rumah karena om Sukarjan ada janji menemui seseorang. Belum lama om Sukarjan meninggalkan rumah sebuah mobil kijang kapsul memasuki pekarangan rumahnya. Seorang pria berpenampilan necis keluar mobil mendekati Fhadlan yang sedang berada di teras depan.
"Dek. Doktor Sukarjan ada?" tanyanya pada Fhadlan.
__ADS_1
Fhadlan mengeleng sebelum menjawab.
"Om Sukarjan lagi keluar, tapi dia pesan kalau ada yang nyari, suruh nunggu dia cuman sebentar" ucap Fhadlan.
Benar saja baru saja Fhadlan selesai bicara om Sukarjan sudah datang membawa bungkusan, lalu di serahkan Fhadlan.
"Nak Fhadlan kamu makan dulu gih" ucap om Sukarjan menyerah nasi bungkus yang baru dibelinya.
"Ya om" ucap Fhadlan segera menuju dapur.
Setelah Fhadlan pergi, Doktor Sukarjan lalu menyapa tamu yang masih berdiri di teras.
"Ooo pak Budi ayo masuk" ajak om Sukarjan.
"Begini pak Sukarjan, saya minta bantuan pak Karjan memecahkan sebuah misteri peninggalan kuno yang telah membuat keluarga kami di buru orang yang menginginkan benda benda peninggalan Raja Kediri" ucap pak Budi meletakkan sebuah lempeng tanah liat penuh goresan.
"Wah... kalau masalah peninggalan barang barang antik zanan dulu, jangan ke saya pak budi, mendingan di serahkan pada pemerintah setempat, kan aman kalian tidak di uber uber orang tak bertanggung jawab" ucap om Sukarjan.
"Bukan begitu pak Karjan, keluarga kami percaya kalau kami di amanahi turun temurun memegang benda ini, kami sendiri tidak tau untuk apa, tapi ada sebagian orang yang memburunya dianggap kami menyimpan petunjuk tentang harta karun, terakhir paman saya terbunuh secara misterius, lalu ponaan saya Cicilia mengalami kecelakaan secara misterius juga, sekarang tinggal saya sendiri keturunan mereka" ucap pak Budi.
Mendengar di sebutnya nama Cicilia, reflek Fhadlan mendekat keruang tamu mendengarkan pembicaraan pak budi dan om Sukarjan.
"Saya tak mau mati penasaran sebelum mengetahui, misteri apa yang di tinggalkan pada keluarga kami" ucap pak Budi.
__ADS_1
"Saya tau pak Sukarjan adalah ahli Arkeologi, bahkan gelar doktor di sandang dari univetsitas ternama di Amerika Serikat, Saya yakin pak Sukarjan mampu menguakkan misteri peradaban manusia dimasa lalu" ucap pak Budi.
Om Sukarjan menghela nafas berat lalu bertanya.
"Maksud pak Budi bagaimana?"
"Saya dengar pak Sukarjan pernah memecahkan misteri penemuan mumi pada peradaban Mesir kuno, yang membuka mata dunia pada kehidupan manusia di wilayah Mesir pada masa lampau. Melalui Ekskavasi Arkeologi pak Sukarjan berhasil menggali Candi Borobudur hingga menguakkan misteri yang terdapat pada candi borobudur" ucap pak Budi.
"Saya percaya pak Sukarjan juga mampu memecahkan misteri coretan coretan pada lempeng tanah liat ini" ucap pak budi menyerahkan lempeng tanah liat yang tadi di bawanya.
Memang ahli Arkeologi seperti pak Sukarjan, selama kuliah bergelut dengan ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dengan meneliti sumber-sumber primer dari masa prasejarah atau peninggalan kepurbakalaan. Ilmu Arkeologi memang membantu manusia memahami peradaban kuno ketika masyarakat pada masa tersebut belum mengenal huruf dan angka.
"Hmmmm ini seperti tulisan paku" komentar om Sukarjan.
"Memang Kita bisa mengetahui tentang peradaban Mesir kuno karena para Arkeolog telah menerjemahkan hieroglif, metode pencatatan yang jauh berbeda dari metode kita saat ini, tapi coretan di tanah liat ini sangat berbeda dengan yang ada di piramida mesir atau yang ada di candi borobudur" kembali om Sukarjan memberikan komentarnya.
"Memang tujuan arkeologi beragam dan telah menjadi perdebatan yang panjang, yang disebut dengan paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, maka ilmu ini termasuk ke dalam kelompok ilmu humaniora. Sebagai mahasiswa Arkeologi, saya memang belajar tentang kehidupan manusia kuno dengan lingkungannya, tanaman purba, tanah dan kepurbakalaan, hewan purba, pengorganisasian museum, dan Kami juga akan sering melakukan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah hingga ekskavasi pada situs-situs purbakala. Tapi saya baru lihat ada artepak seperti ini untuk itu perlu waktu mempelajarinya" ucap om Sukarjan.
"Kira kira berapa lama pak?" tanya pak budi.
"Apa tidak sebaiknya kita serahkan ke pemerintah biar di lakukan riset secara resmi, karena kita perlu data-data berupa artefak yang sama atau mirip, yang merupakan sumber utama yang bisa kita gunakan untuk membuat prediksi tentang artefak milik pak Budi. saya juga perlu pihak lain dalam mengkaji data atau benda-benda berkenan dengan artefak ini secara sistematis" ucap om Sukarjan.
"Bisakah pak karjan bekerja sendiri? biar semua biaya yang pak Sukarjan perlukan akan saya usahakan, tolong saya pak, saya tak ingin mati penasaran saat orang yang menginginkan harta karun memburu saya" pinta pak Budi memelas.
__ADS_1
"Pak Budi ... mereka orang orang umumnya kalau bucara tentang kepurbakalan selalu di hubungkan dengan harta karun, justru artefak umumnya lebih banyak berisi hal hal berkenaan dengan petunjuk untuk hidup selanjutnya. Seakan sejarah akan terus berulang, sehingga kabar dalam munaskrif atau Artefak memungkinkan manusia belajar tentang kesalahan yang terjadi pada masa silam untuk menjadikan masa depan lebih baik lagi" ucap om Sukarjan.