
Romo Adiwilaga menjadi iba memandang wajah Fhadlan, hatinya ikut berduka saat membayangkan penderitaan batin yang di alami Fhadlan selama ini. Hati Adiwilaga akhirnya luluh saat mandang wajah Fhadlan yang penuh harapan, RM Adiwilaga sering melihat Fhadlan kadang-kadang dia termenung seperti orang linglung.
Memang pemderitaan bathin yang di alami fhadlan sangat luar biasa mungkin yang membuat dia masih tetap kerasan hidup hanyalah harapannya yang tidak kunjung padam. Harapan yang seumpama lilin yang menyala, berkelap-kelip menerangi jiwanya yang sedang gelap gulita.
Harapan yang Fhadlan terus tunggu, terus menunggu dengan hati penuh harap. Tiap malam Fhadlan bersembahyang, bahkan kini dia benar-benar berharap, berharap rahmat tuhan untuk menemukannya dengan orang tuanya.
"Bagaimana menrut Diajeng, tentang keinginan Fhadlan untuk mencari orang tuanya?" tanya romo Adiwilaga pada istrinya.
"Romo bagi Diajeng Fhadlan tidak beda dengan Tika, bedanya Diajeng tidak melahirkan Fhadlan. Biar dia cari orang tuanya tapi harus di kawal Keamanan Keraton" ucap RA Atmariani.
"Kalau gitu nanti romo hubungi Danuwarsa untuk mengirim pengawalan Fhadlan di Jakarta" ucap romo Adiwilaga yang hatinya mulai luluh.
Jangankan romo Adiwilaga jika Fhadlan melakukannya merengek pada Tuhan sekalipun mungkin Tuhan juga akan iba dan mengabulkannya.
****
Fhadlan keluar dari hotel dengan wajah berseri gembira. Betapa hatinya tidak akan gembira, akhirnya romo Adiwilaga berkenan juga memberi izin pada Fhadlan untuk mencari keberadaan orang tuanya.
Sekarang dia mulai punya tabiat baru mengharap rahmat tuhan, harapan harapan yang selalu dia pelihara terkadang di sertakan dalam doa pada tuhan.
Harapannya pada rahmat Tuhan membuat pribadi Fhadlan jadi optimis, dirinya selama ini terlihat pemurung, sekarang terlihat gembira.
Dalam usia tergolong anak anak Fhadlan sudah memiliki kepribadian yang matang. Pribadi yang mulai di hiasi sifat sifat mulia, pribadi yang agamis, pribadi menguasai berbagai ilmu dan teknik. Inilah pribadi yang seharusnya di milinium trendi.
Inilah Fhadlan Generasi Milinium Trendi dengan kepribadian yang unggul, religius, dengan mental dan potensi diri yang tangguh, menguasai keahlian kuno hingga modern.
Dengan berbekal harapan akan menemukan orangtuanya, Fhadlan mulai menyusuri kota Jakarta di dampingi paman Danuwarsa atau tidak bersamanya. Terkadang dia membayangkan dia akan berjumpa dengan orang tuanya di suatu tempat yang dia tuju. Atau membayangkan kalau paman Danuwarsa memperoleh keterangan tentang keberadaan orang tuanya.
__ADS_1
Fhadlan tersadar dari lamunannya saat semua yang dia bayangkan tidak pernah terjadi. Saat itu timbullah keraguan Fhadlan akan harapan berjumpa dengan orang tuanya. timbul keraguan kalau tuhan tak berkenan mengabulkan keinginannya.
"Ahhhh mungkin tuhan tidak sayang pada Fhadlan, sehingga harapan Fhadlan tak pernah terkabul" pikiran dan persangkaan negatif mulai menghantui pikiran Fhadlan.
Fhadlan mulai putus asa untuk bisa berjumpa orang tuanya,
Timbul berbagai Waswas yang membisiki jiwa nya yang membuat Fhadlan gelisah, dan menderita merasakan sesuatu yang sulit di katakan tapi sangat tidak tertanggungkan bagi anak seusia Fhadlan.
"Ah ... ini was was, yang merupakan bisikan setan yang tak mengandung manfaat dan kebajikan, mengelisahkan dan menyesakan dada" guman Fhadlan ingat wejangan kyai Sholeh.
Saat Syakk menyempitkan dadanya berupa kebimbangan antara terjadi atau tidaknya sesuatu yang kemungkinan keduanya seimbang, dan merupakan keyakinan keseimbangan yang sama kuat antara keduanya, tak ada kelebihan yang satu atas yang lain.
Saat itu timbul pulalah waswas yang membisikan jiwanya, bisikan yang selalu menggangu ketenanganya, waswasah merupakan penghilang gairah hidup Fhadlan. Saat waswas menguasai seluruh jiwanya tubuhnya pun jadi lemas.
"Was Was adalah penyakit berbahaya, maka bila hamba selamat dari penyakit berbahaya ini, berarti ia selamat dari banyak keburukan" kembali Fhadlan teringat nasehat kyai Sholeh.
"Fhadlan harus terus berharap pada Tuhan, Fhadlan yakin tuhan maha kuasa. Tak perduli tuhan kabulkan atau tidak" pikir Fhadlan.
"Ya tuhan hanya berharap yang Fhadlan bisa, hanya berharap rahmatmu membuat Fhadlan masih kuat, kabulkanlah semua harapan ini ya allah" doa Fhadlan dengan harapan melebihi harapan saat dia memohon pada romo Adiwilaga.
Saat harapan Fhadlan kembali di nyalakan semangat hihupnya bangkit kembali seperti daun yang tertimpa kemarau panjang tiba tiba di sirami hujan, seketika daun yang layu menjadi segar kembali.
Matahari sudah terbit, Pagi yang sangat cerah begitu menyenangkan bagi Fhadlan. Apalagi mengingat kalau hari ini paman Danuwarsa mengajaknya liburan ke puncak, saat liburan biasanya penduduk jakarta pada liburan bersama kuarga. Kebanyakan tempat yang mereka tuju adalah puncak.
Fhadlan mulai membayangkan apa yang akan dia lakukan disana nanti. Terbayang di antara pengunjung puncak adalah kedua orang tuanya.
Lalu, pada pukul setengah delapan pagi, jadilah mobil paman Danuwarsa melucur di jalanan menuju puncak!.
__ADS_1
"Menuju puncak! Duh, Fhadlan merasa senang sekali! seakan orang tua Fhadlan ada di sana paman" ucap Fhadlan.
"Yaah…, semoga jadi kenyataan Aamiin" ucap paman Danuwarsa.
"Waaaw" teriak fhadlan bibirnya sudah membebtuk huruf O, saat melihat keindahan alam lewat kaca jendela mobil. Fhadlan melihat kebun strawberry yang terhampar luas dan perkebunan teh yang terlihat sejauh mata memandang.
"belum banyak yang berbuah!” guman paman Danuwarsa saat mobil melewati jalan penuh kebun stobery.
“Lalu kenapa kalau belum berbuah paman, Bukannya kita kesini tujuan utamanya mencari ayah ibuku, bukan mencari buah strobery!” ucap Fhadlan.
"Iya Lan.. tapi saat buahnya lebat biasanya turis lokal banyak kesini sekedar panen buah strobery, mana tau orang tua Fhadlan juga tertarik untuk panen strowbery" ucap paman Danuwarsa.
Mobil paman Danuwarsa berhenti di depan sebuah pondok dimana, mereka akan menempatinya untuk sementara selama mereka masih di puncak. Fhadlan lalu turun dari mobil dan membantu menurunkan barang-barang dan membawa masuk ke dalam pondok tersebut.
Suasana pondok itu begitu nyaman dan hangat. Membuat Fhadlan langsung betah. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam pondok, mereka langsung berjalan-jalan ke kebun strawberry yang sejak tadi mereka lihat.
"Lan kata mbak Tika mu, kamu sudah menguasai ajian safi angin coba gunakan dalam mengitari puncak, paman mau lihat." ucap paman Danuwarsa.
"Ok ... oya, tapi paman lari duluan Fhadlan nyusul" ucap Fhadlan.
"Baik, kita kearah kebun strowbery tadi ya" ucap paman Danuwarsa, tubuhnya langsung melesat meninggalkan Fhadlan.
Fhadlan tak metinggalan melesat kearah kepergian paman Danuwarsa, mulailah mereka berlari seperti berlomba siapa yang lebih dahulu sampai. Paman Danuwarsa merupakan guru bela diri Tika, dia juga merupakan salah satu seniman bela diri andalan Keraton, sehingga dia di percaya menjadi penanggung jawab keamanan bangsawan Keraton. Sudah pasti peringan tubuh paman Danuwarsa l ada di atas Tika sendiri.
Ada pun ilmu Saifi angin (ilmu meringankan tubuh) fhadlan pun sudah memperoleh kemajuan yang mentakjubkan, bahkan sulit dapat dipercaya. Bagaimanapun paman Danuwarsa mempercepat larinya Fhadlan akan selalu bisa menandinginya.
Akhirnya mereka sampai di kebun strobery yang cukup jauh dari pondok mereka paman Danuwarsa terlihat ngos ngosan, sebaliknya Fhadlan masih senyum senyum seperti tidak merasa lelah sedikit pun, diam diam paman Danuwarsa merasa amat kagum dengan Saifi angin yang di miliki Fhadlan.
__ADS_1
"Fhadlan benar benar luar biasa" puji paman Danuwarsa.