
Pada detik-detik tabrakan, semua kaget tak tau harus bagaimana, Abu Daud ayah Fhadlan bukanlah seorang pelaut ulung yang berpengalaman tapi mencoba mengambil tindakan dalam setiap kondisi buruk, lalu meminta keluarganya untuk meninggalkan kapal yang akan tenggelam.
"Bawa adik dan ibumu ke perahu karet lan" perintah abu Daud.
Sambil memapah umi Sarah dan Chyintia ke perahu karet Fhadlan terus berpikir Inilah cara mereka akan mati. Mereka akan tenggelam lalu dimangsa oleh paus pembunuh.
"Aaaaaaauuu" pekik Chyintia saat ikan paus besar muncul tidak jauh dari perahu karet, air di sekitar menjadi merah akibat darah paus yang terluka saat benturan dengan perahu.
Fhadlan kembali teringat nasehat kyai sholeh dia tidak boleh berputus asa pada rahmat Tuhan. Maka mulailah Fhadlan berharap rahmat berupa pertolongan tuhan.
"Mi ... Chyintia terus merasakan apakah kaki Chyintia masih ada. Kata orang, kita tidak akan merasakan gigitan paus, lalu tiba-tiba sudah tidak punya kaki" ucap Chyintia setelah berada di perahu karet.
"Alhamdulillah setidaknya Chyintia, Umi Abi, Abang Fhadlan masih punya kaki." ucap Chyintia memegangi kakinya.
Abu Daud melangkah ke perahu karet dengan gugup. Kapal mulai masuk dalam dalam air tak lama kemudian tenggelam. Akibatnya, mereka berempat tidak punya pilihan lain. Mereka harus berdesakan di perahu kecil berkapasitas enam orang.
Di perahu itu mereka bertahan hidup dengan terapung-apung di lautan, hanya berbekal sebagian kecil perbekalan yang masih bisa mereka selamatkan.
Dalam beberapa hari semua persediaan makan dan air bersih merekapun habis, sungguh suatu yang tak tertanggungkan bagi mereka, umi Sarah hanya menangis saat Chintya merengek, kepanasan minta minum.
"Kita berada di dekat khatulistiwa siang hari sangat panas, tetapi tidak ada hujan sama sekali, Air kita sudah habis kita harus bagaimana bi" Umi sarah mengeluh saat chyuntia merengek minta minum.
"Sabar ya nak jangan menangis, nanti cairan tubuh Chyintia malah habis" ucap umi Sarah saat melihat tangisan chytia mengeluarkan air mata yang berwarna keruh.
Mereka menunggu selama tiga hari, sambil sesekali melihat awan hujan di kejauhan dengan frustrasi, tapi hikmahnya akhirnya semua mulai mengerti dengan situasi mereka. Mereka tak ubahnya seperti mayat hidup hanya menunggu nyawa keluar dari badan hingga benar benar sebagai mayat.
Chytia sudah tidak rewel lagi dia lebih memilih berbaring dari pada menangis. Abu daud mencoba menangkap seekor penyu, lalu di gigit di bagian lehernya, kemudian darahnya di tampung untuk di minum.
"Coba minum ini dulu sayang" ucap abu daud pada Chyintia dan Fhadlan.
"Enak bi.. Chyintia mau lagi" ucap Chyintia.
__ADS_1
"Iya bi ... rasanya enak dan sama sekali tidak asin" ucap Fhadlan.
Rendahnya kadar air yang mereka diminum, bagaimanapun, mulai berdampak pada tubuh mereka. Ketika kekurangan air seperti ini, tubuh mulai melakukan hal-hal aneh, salah satunya adalah minum darah penyu sebagai solusi kehausan mereka.
Akhirnya, pada hari keempat penantian mereka terkabulkan, hujan mulai turun.
"Mi chyntia boleh minum sepuasnya ya" ucap chyntia kegirangan.
"Alangkah lezatnya air hujan ya bi" ucap Fhadlan pada abu Daud.
"ya Lan semua daging ikan jadi enak saat becampur air hujan, kalian boleh makan semampunya dan membuang tulangnya." ucap abu daud dengan air mata meleleh di pipinya.
Penyu muncul dengan cukup teratur sehingga mereka memiliki persediaan daging yang stabil, bersama dengan telur dan darah mereka yang meredakan haus.
Namun, setelah beberapa saat, hujan mulai menjadi masalah. Mereka harus terus-menerus menjaga perahu agar tidak penuh air hujan. Mereka bergiliran sepanjang malam, sampai akhirnya pingsan karena kelelahan.
Setelah tiga minggu terapung di lautan mereka di kagetkan oleh sosok seseorang bergelantungan pada sebuah pelampung. hampir saja mereka menyangka itu adalah mahluk gaib atau sejenis ikan duyung. Mereka semua melonggo memandang orang tersebut, mahluk hanya terlihat sebatas dada ke atas persis seperti putri duyung.
"Apakah kalian ingin menyelamatkan saya" kata orang yang terapung dekat dengan perahu karet mereka.
"Itu orang bi, dia bicara dalam bahasa Arab" ucap umi Sarah yang mengerti ucapannya.
Mendengar ucapan umi Sarah secara reflek Abi daud segera meleparkan tali yang terikat dengan perahu karet, tali ini jatuh dan mendarat di pelampung orang tersebut dan langsung di pegang dengan erat. dengan susah payah Fhadlan membantu abu daud membawa orang tersebut keatas perahu karet mereka.
"Alhamdulillah..." ucap orang tersebut lalu tergeletak pingsan.
Menjelang sore hari mereka melihat sebuah kapal yang berlayar tidak jauh dari mereka.
"Bi itu ada kapal mungkin bisa di minta pertolongan" ucap Fhadlan.
"Tolong ... tolong... tolong... " teriak mereka serentak sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Namun tetiakan mereka seperti hilang di telan ombak, kapal terus berlayar menjauh. Tiba tiba Fhadlan teringat dengan suar yang ada di perahu karetmetrka.
"Bi coba nyalakan suar" ucap Fhadlan.
Abu daud menyalakan suar dan memegangnya hingga membakar tangannya. Benar saja, kapal berbalik menuju ke arah mereka.
"Kondisi mereka sangat buruk ayo segera selamatkan" terdengar mereka bicara dalam bahasa Arab.
Mereka ditemukan oleh sebuah kapal nelayan dari Yaman, satu persatu mereka di bawa keatas kapal. Mereka dirawat dalam kapal nelayan tersebut, Abu Daud pun menceritakan kalau kapal mereka tenggelam setelah ditabarak tiga kali oleh ikan paus ****** yang sangat ganas.
Sementara wanita yang mereka temukan terapung di tengah lautan ternyata seorang putri bangsawan kaya dari arab saudi yang kapal pesiarnya tenggelam di laut lepas. Wanita tersebut mewujudkan rasya syukurnya dengan menjadikan Sarah istri abu Daud sebagai saudara angkatnya. dan memutuskan untuk membawa keluarga Abu Daud untuk tinggal di Arab Saudi.
"Hmmmm kalian di tabrak paus ... saya yakin paus itu juga terluka jangan jangan sudah mati pula, jika paus itu mati bangkainya tidak akan jauh dari perahu kalian" ucap Nakhoda.
"Perhatikan keliling mungkin ada bangkai paus" ucap Nakhoda pada awak kapal.
Sambil memutar arah kapal ke pelabuhan mereka memperhatikan hal hal mencurigakan, di sekitar mereka.
"Kapten lihat ada bangkai paus terapung di sisi kiri kapal" ucap salah seorang menyerahkan teropong pada nakhoda kapal.
"Mungkin ini merupakan bangkai paus ****** terbesar yang pernah ditemukan di wilayah ini"
Nahkhoda mengarahkan kapal ke bangkai paus yang mengambang di permukaan laut, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi yang rumit untuk memindahkannya ke dalam kapal.
Setelah pekerjaan mereka memindahkan paus ke kapal mereka, sekelompok nelayan tersebut bersorak kegirangan.
"Ini Harta karun yang tak tetnilai harganya" teriak mereka setelah nenemukan ambergris, semacam bahan pengawet aroma dalam industri wewangian, yang kini dianggap barang langka.
Nakhoda membagi ambergris tersebut pada semua penghuni kapal, bahkan termasuk Fhadlan dan Chyintia, hasil penjualan masing masing bagian mereka di peroleh satu juta dolar atau sekitar 14,3 Rupiah cukup untuk modal keluarga mereka memulai bisnis di Arab Saudi.
.
__ADS_1