
Setelah Tika dan Fhadlan juga aparat kepolisian meninggalkan istana mereka, ratu Imperium Balqis segera mengumpulkan para pembantunya untuk merundingkan, masalah perselisihan mereka dengan Tika dan Fhadlan yang mereka tau adalah bangsawan keraton.
Beni menjadi gelisah setelah melihat munculnya Tika dan Fhadlan yang ia tahu merupakan satu-satunya orang yang berbahaya dan terlalu lihai baginya. Baru tangkisan tadi saja sudah membuktikan bahwa Fhadlan benar-benar amat lihai, memiliki tenaga dalam yang tak terlawan, kemudian gerakan Fhadlan ketika meninggalkan istana Imperium Balqis juga membuktikan jelas ketinggian ilmunya.
"Mulai sekarang kita harus berhati-hati. Sebelum bocah itu dapat disingkirkan, hidup pangeran Linggo tidak akan tenteram" kata Beni kepada Ratu Imperium Balqis.
"Kenapa khawatir?" kata ratu memandang rendah. "Dengan kepandaian kita berdua belum tentu kita kalah olehnya. Apa lagi di sini ada bayak orang rekan kita yang berilmu tinggi."
"Masalahnya bocah itu juga di lindungi keraton yang memiliki banyak seniman bela diri berilmu tinggi, belum lagi pengamanan bangsawan keraton di lindungi aparat tentara dan polisi aktif atau pensiunan" ucap Beni.
Ratu Imperium balqis diam sejenak merasa kata kata Beni ada benarnya
"Kalau gitu kita harus menggunakan akal sehingga Keluarga pelindung Fhadlan dianggap berbahaya bagi Negara, dengan demikian awak media tentu saja mau membantu kita menyingkirkan Fhadlan dan keluarganya" ucap sang Ratu.
"Ini ide yang tepat sepertinya Fhadlan tidak tinggal di keraton, tentu lebih mudah untuk di singkirkan" ucap Beni
"Saya yakin ajimat Fhadlan merupakan hal yang sangat berharga hingga mereka nekad menyerbu kemari, segera palsukan ajimat tersebut dan kirim yang palsu ke alamat yang mereka tinggalkan" perintah ratu
Ucapan Ratu Imperium Balqis sedikit banyak menghibur hati Beni, akan tetapi Beni maklum bahwa mulai saat itu mereka telah berselisih dengan pihak keraton, maka dia tidak akan dapat menikmati makan lezat dan tidur nyenyak lagi.
Ketika berunding, sebagian besar ingin langsung membunuh Fhadlan, namun Ratu Imperium balqis berkehendak lain, "Jangan kalian bunuh Fhadlan, tetapi usahakan mereka terbuang sebagai buronan. Nanti tentu ia akan mudah di manfaatkan untuk menunjukkan keberadaan pusaka raja Nusantara"
"Bukankah dia satu-satunya orang yang mempelajari kitab kitab kuno bersama pak Sukarjan dan menurut Wijaya dia jugalah yang mewarisi peninggalan Cicilia juru kunci terakhir, harta raja Nusantara" ucap Ratu Imperum Balqis lagi.
"Setelah kami selidiki diketahui kalau Fhadlan adalah seorang anak pengusaha yang sedang naik daun, ini adalah suatu yang kebetulan dimana abu Daud adalah salah satu pesaing bisnis kita yang selama ini berusaha untuk kita singkirkan"
__ADS_1
"Selama ini kita memang dalam upaya mencari kelemahan abu Daud, dan setelah di cari cari kita menemukan celah di mana istri abu Daud, merupakan donatur rutin dalam membantu pengugsi Suriah" ucap salah satu yang hadir.
"Bagaimana kalau kita ekspos di media kalau Abu daud dan istrinya adalah donatur ******* di timur tengah dan setelah semua pihak percaya, maka kita menyamar sebagai aparat kepolisian untuk mengeksekusi mereka" lanjutnya.
"Ini ide yang menarik membunuh dua lalat dengan satu kali pukulan" ucap ratu Imperum Balqis setuju.
***
Maka datanglah mereka kepada awak media. Mereka bermaksud untuk mengekspose kegiatan umi Sarah sebagai donatur ******* di suriah. Pada awalnya, awak media tidak setuju karena mereka cuma melakukan kegiatan sosial membantu pengungsi bukan pejuang.
Tak menyerah begitu saja, Imperum Balqis tetap membujuk media. Mereka memberikan berbagai imbalan yang menggiurkan lalu berkata: "Tuan tuan, apa sebabnya kalian tidak mempercayai kami terhadap abu Daud dan istrinya, padahal kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan bagi perdamaian dunia".
"Biarkanlah mereka pergi bersama para ******* yang mereka danai agar mereka rasakan akibat perang yang mereka ciptakan." petinggi Imperium Balqis terus membujuk media.
*****
Demikianlah setelah tiga hari seseorang mendatangi kediaman abu Daud, untuk menemui Fhadlan memberikan memberikan sebuah kalung yang telah di palsukan. Sebelum sempat memeriksa keadaan kalung tersebut tiba tiba Rolan mendatanginya.
"Lan kamu segera berkemas, kamu jaga Abi dan Umi ya, sebelum petugas kepolisian menyerbu kesini" ucap Rolan.
"Ayo nak Fhadlan kita harus meninggalkan Jakarta" ucap umi Sarah yang telah berkemas.
"Iya mi, Fhadlan sudah siap" ucap Fhadlan .
"Bang Rolan .. tolong sampaikan kalung ini pada mbak Tika, katakan pesan Fhadlan kalau kalung ini sudah di palsukan" ucap Fhadlan setelah mengamati kalungnya dengan seksama.
__ADS_1
Mereka sekeluarga akhirnya di antar Rolan ke sebuah pelabuhan, dengan menggunakan kapal nelayan mereka nekat berlayar meninggalkan Indonesia menghindari pasukan Imperium balqis memburu mereka.
****
Setelah tiga minggu berlayar di lautan dengan perlengkapan seadanya mereka melangsungkan hidup yang sudah menunjukkan titik ekstrem yang dapat dijalani manusia. Angin bertiup kencang ombak menggunung yang harus mereka lalui, ditengah gelapnya malam yang sedang dilanda badai, dengan guntur menggelegar, kilat sambar menyambar. Ditengah lebatbya hujan tanpa alat komunikasi membuat sesisi kapal merasa menuju ke tempat kematian.
Semalaman mereka terombang ambing di tengah lautan, sekalipun angin dan hujan sudah mereda, tapi laut masih tak tenang, apalagi untuk kapal layar yang digunakan keluarga Abu Daud, dari kejauhan, ada sesuatu yang bergerak menuju kapal, membuat sebuah peristiwa yang terjadi beberapa saat berikutnya akan mengubah hidup mereka selamanya.
Beberapa anggota keluarga tadinya berusaha tidur di bawah geladak, setelah berjaga sepanjang malam. Pagi pagi sekali mereka brusaha bangun, kopi pagi diseduh di atas kompor dan mereka mulai menjalani rutinitas sehari-hari.
"Bang Fhadlan lihat apa itu" ucap Cyntia menunjuk sesuatu di damping kanan kapal.
"Mungkin ini kopi terakhir yang bisa kita nikmati dek" ucap Fhadlan pada adiknya Cyntia yang baru berusia 10 tahun. Fhadlan yang saat itu berusia 14 tahun, berada di balik kemudi bersama adiknya, Cyntia, saat mereka melihat sirip segitiga paus pembunuh.
"Bang Fhadlan menarik tali pancing, ada cumi-cumi besar di ujungnya, ini pertanda akan ada ikan-ikan besar di sekitar sini'," kata Fhadlan.
"Karena, di mana ada cumi-cumi, ada paus." ujar Fhadlan lagi.
Tiba-tiba ada benturan. Tiga kali, dengan cepat dan berturut-turut.
Layar kapal mereka terangkat ke udara, semua penghuninya terhempas. Ada bunyi retak yang begitu keras yang menandakan lunas kapal telah patah. Lunas adalah sepotong kayu yang membentang sepanjang dasar kapal.
"Abi, apakah Umi baik-baik saja?" Tanya Fhadlan saat melihat air sudah merendam pergelangan kakinya.
"Fhadlan tinggalkan kemudi, bawa adikmu kesini, pasang pelampung kalian, perahu ini dilengkapi dengan perahu karet dan perahu kayu berukuran sekitar tiga meter. Abi ajan meluncurkan keduanya ke samping dan mengikatnya bersisian sebelum dia tersapu dari geladak" ucap abu Daud mengingatkan Fhadlan dan Chyintia.
__ADS_1