
Saat Fhadlan menyelesaikan makannya, di kejauhan terdengar suara pertempuran sengit. Jerit kesakitan dan denting pedang terdengar sangat ramai, suara riuh terdengar dari arah sungai dan makin lama makin mendekati rumah di mana Fhadlan sedang di rawat.
Bayak pihak yang sedang mencoba mencari keberadaan Fhadlan. bahkan pihak pihak yang tau kalau Fhadlan di hanyutkan oleh arus sungai yang sangat deras, sehingga bayak dari mereka yang mencoba menenelusuri sungai mengharap keberuntungan menemukan Fhadlan.
Setelah dua hari hanyutnya Fhadlan, orang orang berilmu tinggi makin ramai saja, bahkan mereka mulai terlibat pertempuran memperebutkan sesuatu yang tak pernah mereka lihat. Demikian sore itu terlihat seorang setengah baya sedang bertempur melawan seorang pemuda.
"Anak muda, mengingat usiamu yang masih muda, saya menaruh kasihan pada mu. Tidak usah ikut ikutan memperebutkan sesuatu yang berkenan dengan pusaka, di dini banyak orang orang pandai yang harus saling singkirkan demi menguasai pusaka Ratu Adil" terdengar suara pria setengah baya mengingatkan seorang pemuda.
Penuda di depan pria setengah baya tidak menggubris peringatan Pria setengah baya, dia tetap bersikukuh untuk ikut memperebutkan Fhadlan.
"Pak tua nyawa tidaklah ada artinya karena kita semua akan mati, tapi bicara tentang pusaka siapapun berhak mencobanya mengenai siapa yang berjodoh tidak perlu kita pusingkan apalagi saling singkirkan" ucap pemuda tampan dengan pakaian bersih dengan logat Melayu.
"Anak muda kelihatanya kamu berasal dari luar pulau Jawa, sekali lagi saya ingatkan, segera tinggalkan tempat ini sebelum orang orang berusaha menyingkirkanmu, karena mereka sangat percaya kalau orang di luar pulau Jawa tidak berhak atas pusaka tersebut" ucap pria setengah baya kembali mengingatkan.
"Aturan dari mana yang kalian pakai, itu hanya aturan yang kalian buat buat sendiri, aku peduli apa, ingat aku tidak akan membiarkan seorang anak yang seharusnya masih dalam perlindungan orang tuanya jadi rebutan tokoh tokoh sakti seperti kalian" teriak sang pemuda.
"Keras kepala, jangan salahkan orang tua bertindak kasar pada yang muda" ucap pria setengah baya, dia sudah sangat marah sekali saat pemuda tersebut tidak nenggubris peringatannya bahkan sekarang terkesan menantang.
Tubuhnya meluncur sangat cepat bagai terbang lututnya telah melakukan serangan ke arah dagu sang pemuda. serangan yang sangat lihai jarang sekali orang bisa mengelak dari terjangannya, namun pria setengah baya ini terkejut bukan main, tadinya dia nenyangka sang pemuda akan mengelak dia sudah siap dengan serangan susulan dengan sikutnya menghantam ubun ubun sang pemuda. Namun sang pemuda justru menerima serangannya dengan tendangan lurus mengarah ke tulang betisnya, tentu saja pria setengah baya tersebut tak ingin tulang betisnya terkena tendangan segera mengubah serangan memapaki tendangan si pemuda.
"Caraaap" dengan cerdik sang pemuda menendang dengan kaki satunya, mendarat di perut pria setengah baya.
"Bruk" pria setengah baya mental hingga dua meter dengan napas terasa sesak, tubuhnya terhempas dengan keras menimbulkan bunyi gedubuk yang sangat keras.
Dengan susah payah pria setengah baya tersebut berusaha bangun kembali lalu maju kembali dengan hati hati. Detik berikutnya pertempuran seru sudah terjadi kembali.
__ADS_1
Saat mereka bertempur seseorang berbadan tegap dengan perawatan sedang yang kebetulan melintas berusaha menghindari tempat pertempuran, dengan mengendap ngendap berusaha berlalu menghindari tempat pertempuran lalu menuju rumah tempat di mana Fhadlan di rawat.
"Pak Wijaya buka pintunya" ucap pria tegap nengetuk pintu rumah pak Wijaya.
"Iya siapa diluar?" tanya pak Wijaya.
"Singo barong pesuruh raja" jawab pria tegap mengucapkan kata sandi.
Mendengar kata sandi yang di ucapkan, pria di balik pintu maka mengertilah pak wijaya kalau dia adalah seorang yang di utus untuk menjemput Fhadlan. Segera pak wijaya membukakan pintu sambil mempersilahkan pria di luar untuk masuk.
"Silahkan masuk, apakah tuan yang bernama Rahadyan?" tanya pak wijaya penuh selidik.
"Iya lengkapnya Rahadyan Jatmiko" jawabnya.
"Ada di kamar Tuan" ucap pak Wijaya membawa tamunya kekamar di mana Fhadlan baru saja menyelesaikan makannya.
"Nak Fhadlan ini pak Rahadyan yang akan membawa kamu ke tempat yang aman" ucap pak Wijaya.
Rahadyan lalu mencengkram lengan kiri Fhadlan, kemudian membawa Fhadlan keluar kamar menuju ruang tamu, Rahadyan mengamati suasana di luar rumah, suara pertempuran masih terdengar jelas sekejap dia melihat beberapa bayangan berkelebatan di wilayah pinggir sungai menuju tempat pertempuran.
"Berbahaya di sini, rumah pak Wijaya sudah tidak aman untuk nak Fhadlan, mari ikut paman" ucap Rahadyan kembali mencengram tangan Fhadlan.
"Pak Wijaya saya pergi, segera kunci pintu dan jangan keluar" ucap Rahadyan pada pak Wijaya.
Dengan tergesa gesa Rahadyan membimbing Fhadlan meninggalkan rumah pak Wijaya, mekalui pekarangan samping rumah, keluar menuju jalan alternatif yang sangat sepi, dan Jarang rumah penduduk. Sesekali Rahadyan menghentikan langkahnya memastikan tidak ada orang yang sedang menguntit perjalanan mereka.
__ADS_1
Setelah pwrjalanan lima nenit, akhirnya mereka sampai di sebuah jalan beraspal, pak Rahadyan melambaikan tangannya ke arah mobil yang berhenti tak jauh dari mereka.
Sebuah pajero sport berwarna hitam meluncur dan berhenti tepat di depan mereka. Seseorang terlihat membuka pintu lalu setegah berteriak meminta Rahadyan untuk segera naik.
"Ayo cepat sebelum seseorang melihat kita membawa anak ini" ucapnya.
Mobil segera meluncur saat Rahadyan dan Fhadlan sudah berada di dalam mobil. Sopir makin nempercepat laju mobil seperti sedang buru buru atau setidaknya tidak ingin berlama lama di tempat tersebut.
Saat mereka baru saja pergi sosok pemuda yang tadi bertempur sudah berada di jalan raya, sekilas dia sempat melihat kepergian mobil pajero sport yang membawa Fhadlan.
"Hmmmm mereka menuju kota Malang" gumannya.
*****
Mobil yang membawa mereka melaju dengan kencang di jalan yang berlubang dan berair. Sepertinya baru saja di landa hujan lebat, hujan gerimis masih tetlihat di jalan yang akan mereka lalui.
"Kenakan sabuk pengaman, ada mobil yang berusaha membuntuti mobil kita" ucap pak sopir.
Mengendarai mobil di saat hujan dengan kecepatan tinggi, perlu kehati-hatian ekstra, teknik dan persiapan tersendiri. Apalagi bila memasuki kawasan padat kendaraan, pengendara juga harus lebih fokus dalam mengendalikan kendaraannya, disamping itu penumpang perlu melakukan hal hal yang memberi efek perlindungan jika tetjadi kecelakaan.
Pak sopoir menjalankan mobil melewati jalur jalur bervariasi, mulai dari yang harus bersisian dengan truk kontainer dan kendaraan berat lainnya, hingga jalan jalan yang terjal dan berliku menghindari kemacetan.
"Mereka masih tetap di belakang kita" ucap Rahadyan melihat sebuah kijang Inova warna silver yang sedang berusaha mengejar mereka.
"Pak Rahadyan coba telepon tuan muda, laporkan jika kita sedang jadi target seseorang" ucap pak sopir.
__ADS_1