
"Jadi benar wanita ini sudah berhasil merampas kalung Kaisar" guman jendral Perdinan saat melihat sebuah kalung dengan rantai emas berbandul kotak segi empat sebesar korek api dan di balut kain merah kusumba.
Jendral Perdinan menoleh ke arah pengawalnya dan mengangguk memberi komando supaya pengawalnya ikut maju menggempur wanita bertopeng.
"Baik Panglima" Dengan sikap hormat Josef memberi penghormatan kepada kedua orang Jendral, kemudian maju menghampiri Si wanita bertopeng dengan langkah santai.
Si wanita tertegun sejenak menghetikan serangannya namun dengan sikap tetap siaga, dia maklum bahwa dia akan menghadapi lawan yang jauh lebih lihai dari kelima pengawal yang sedang mengurungnya, dan dia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi lima pengawal saja sudah cukup merepotkan sekarang di tambah pengawal panglima yang sangat lihai.
Akan tetapi dia sudah kepalang tanggung memperlihatkan kelihaiannya, kalau sekarang ia menyerah begitu saja, bukankah hal ini amat mengecewakan sebagai seorang gagah.
Ketika si wanita bertopeng kebingungan si Josef pengawal panglima itu mengulur tangan, Si Wanita terkejut bukan main karena mendengar suara berkerotokan yang keluar dari lengan kurus itu dan angin pukulan yang menyambar ke arah lengannya bukan main kuatnya.
__ADS_1
Dia tadi mendengar Jendral Cahyono menyebut si Josef ini sebagai Setan Seribu tenaga kuda, maka dia dapat menduga bahwa si josef yang terlihat santai ini tentu memiliki tenaga dahsyat.
Dia sendiri mengandalkan kelihaiannya pada ilmu-ilmu silatnya yang tinggi, terutama ilmu pedangnya dan ilmu saipi angin sedangkan dalam hal tenaga dalam dia belum terlalu mempercayai dirinya sendiri. Akan tetapi karena kini dia diuji dalam tenaga, tentu saja dia tak bisa berbuat lain kecuali mengerahkan tenaga dalam memegang kalung terbungkus sutera merah dengan erat-erat.
Kelima pengawal spontan mundur berapa langkah memberi ruang pada Josef untuk menghadapi wanita bertopeng.
"tap... " cepat luar biasa tangan Josef sudah menggem rantai kalung di mana bandulnya masih di tangan kiri wanita bertopeng.
Diam-diam merasa kagum menyaksikan betapa wanita itu tidak melepaskan kalung sesudah disambar hawa dari tangannya, akan tetapi di wajahnya yang santai tidak terpengaruh tenaga dalamnya.
Lelaki kurus ini melanjutkan gerakan tangannya dan memegang sebagian bandul kalung yang terbungkus sutera merah kesumba, lantas mengerahkan tenaga membetot. Ia hanya mengerahkan sebagian tenaganya, karena mengira bahwa betapa pun kuatnya, wanita ini tidak akan mampu bertahan. Akan tetapi dugaannya meleset karena kalung itu tidak juga terlepas dari tangan si wanita bertopeng.
__ADS_1
Disisi lain si wanita merasa betapa tenaga raksasa membetot kalung sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya ikut terbetot, namun dia segera mengerahkan tenaga dalam mempertahankan diri.
Jendral Cahyono dan Panglima Perdinan diam seperti terpaku menonton pertunjukkan itu dengan penuh perhatian. Jendral cahyono memandang dengan wajah berseri, dengan tenang mengusap dahinya lalu tersenyum-senyum seperti menyaksikan permainan dua orang anak nakal.
"Hiaaaat...." Josef kemudian menggerakkan sedikit pundak kanannya dan ternyata gerakan itu membuat tenaganya bertambah hebat. sang wanita bertopeng penasaran dan tetap mempertahankan kalung dengan sekuat tenaga.
"Brettttt...!"
Kain sutera merah kesumba pembungkus bandul kalung hancur lebur tergencet getaran dua tenaga sakti dan sekarang si wanita sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, mukanya agak pucat dan napasnya terengah-engah.
"Jangan merusak ajimat, atau nyawa kalian jadi taruhannya" ancam Jendral Cahyono.
__ADS_1
Mendengar seruan Jendral Cahyono secara spontanitas Josef mengurangi tenaga betotannya.
"Saudari, kami perintahkan kepadamu agar supaya menyerahkan kalung ajimat kepada Kepada Josef, dan kami akan melepas kan mu" perintah jendral Cahyono panik melihat pembungkus bandul sudah koyak.