FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 74


__ADS_3

Secara berlahan lahan Fhadlan dan abu Ghafur berjalan medekati markas musuh, dengan terus mengibarkan bendera putih, yang di ikatkan pada ujung stik bambu Fhadlan. Musuh mengira pasukan resimen Hamdani akan menyerah, merekapun mulai menghentikan tembakan.


"Nak.. Apa kamu tidak punya pesan trakhir untuk di sampaikan ?" tanya abu Ghafur setelah melihat semua senjata musuh dari yang ringan sampai yang berat mengarah pada mereka.


"Tidak paman... " ucap Fhadlan, dengan keringat yang mulai bercucuran, saat sinar matahari yang makin terik mulai membakar kulitnya.


"Apa kamu tidak takut... lihat semua senjata terarah apa kita?" tanya abu Ghafur seperti cukup gentar.


"Fhadlan sangat takut paman.. tapi Fhadlan bertekad harus melakukan ini hingga Fhadlan menemukan orang yang sudah mengambil suatu yang sangat berharga dari Fhadlan" ucap Fhadlan.


"Cik cik cik" abu Ghafur sempat berdecak kagum mendengar kuatnya tekad Fhadlan lalu dengan jujur memuji Fhadlan.


"Paman merasa ada suatu kekeramatan pada nak Fhadlan" ucap abu Ghafur.


"Kenapa paman bicara seperti itu?" tanya Fhadlan penasaran.


"Menurut paman Hamdi mu .. kamu sekeluarga selamat dari bencana tenggelam di samudra luas, sungguh sangat di luar logika, juga bagi paman kejadian yang sama saat kita bisa mengalahkan Imperum balqis tempo hari, itu semua lebih banyak peran nak Fhadlan.. apa Fhadlan punya amalan khusus saat menyerbu Imperium Balqis tempo hari?" tanya abu Ghafur.


"Maksud paman bagaimana?" tanya Fhadlan.


"Misalnya sholat sebelum menuju pertempuran, istigfar atau zikir khusus yang rutin?" tanya abu Ghafur lagi.


Fhadlan diam sejenak memikirkan sesuatu yang di maksud paman Abu Ghafur.


"Iya paman... yang Fhadlan ingat saat terapung apung di lautan atau saat menyerbu Imperium Balqis. Fhadlan hanya ingat tuhan Terkadang juga zikir menyebut namanya Allah...Allah sekalipun hanya dalam hati" ucap Fhadlan.


"Ada lagi nak?" tanya abu Ghafur.


Kembali Fhadlan termenung lalu dia ingat nasehat kyai Sholeh sewaktu di kraton Jogja.

__ADS_1


"Fhadlan tidak putus asa, dari rahmat dan pertolongan Allah dalam kondisi bagaimanapun. Misalnya saat terapung di lautan di mana tidak ada logikanya lagi kami sekeluarga bisa selamat, sekalipun semua sudah putus asa tapi Fhadlan masih memiliki harapan pada tuhan memberi rahmatnya, hingga Fhadlan merasa yakin kalau tuhan akan memberi pertolongan.. tapi Fhadlan tidak yakin itu suatu kekeramatan" ucap Fhadlan.


"Itu dia Lan, menurut para ulama keselamatan dari suatu bencana itu sebuah tanda tuhan memulyakannya supaya dia bisa berbuat lebih sholeh lagi"


"Iya sih paman cuma Fhadlan tidak yakin kalu hal seperti itu bisa terulang lagi, misalnya saat ini apa Fhadlan dan Paman bisa selamat dari senjata senjata musuh" kata Fhadlan ragu.


"Tetaplah demikian nak Fhadlan, mengenai hal masa depan memang tidak ada mahlukpun yang menjamin, karena nasib semua orang di masa depan adalah ketetapan tuhan, artinya semua kehendak tuhan, sehingga dalam mengimani takdir kita kedepan hanya ada satu kata kunci"


"JIKA TUHAN MENGHENDAKI KEBAIKAN BAGI KITA TIDAK ADA YANG MAMPU MENGHALANGINYA, TANPA ADA USAHAPUN KEBAIKAN ITU AKAN DATANG DENGAN CARANYA SENDIRI"


"SEBALIKNYA JIKA TUHAN TIDAK MENGINGINKAN KEBAIKAN BAGI SESEORANG MAKA TIDAK ADA SESUATUPUN YANG MAMPU MENGUSAHAKANYA, SEKALIPUN DIA BERSEKUTU DENGAN SELURUH PENGHUNI LANGIT DAN BUMI"


Saat mereka sudah berjarak kira kira 50 meter dari musuh terdepan abu Ghafur berteriak sambil mengangkat dua tangannya.


"Kami utusan resimen Hamdani.. untuk melakukan pembicaraan dengan pemimpin kalian".


'Ikuti saya ... Jendral Benyamin bersedia menerima kalian" ucap seorang pria berseragam tentara.


Fhadlan dan abu Ghafur kembali maju sambil memperhatikan keadaan. Kelompok musuh terlihat dengan senjata moderen siap melancarkan serangan terkoordinasi terhadap resimen Hamdani yang berada di gurun terbuka.


Fhadlan dan abu ghafur di giring ke sebuah bangunan di mana pimpinan mereka berada. Tadinya mereka hanya memperkirakan kalau kekuatan musuh hanya berukuran satu peleton pejuang dengan senapan laras panjang dan pistol.


Setelah mereka ada di markas ternyata perkiraan sebelumnya adalah keliru. Fhadlan memperkirakan ada sekitar 500 hingga 700 militam terlatih di markas mereka. Dengan mengenakan seragam milik pasukan paramiliter Kementerian Dalam Negeri, Organisasi Keamanan Pusat


Di markas ini mereka di pimpin seorang jendral yang sangat berpengalaman, kakek berusia lima puluh tahun, sekalipun usianya hampir sepuh tapi tampilan masih bugar dan bertenaga, kelihatannya dia bukanlah orang biasa, melainkan seorang yang amat terkenal dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.


Siapakah yang tidak mengenal nama besar Jendral Benyamin? Dan ada empat pengawal Jendral Benyamin yang kelihatan juga merupakan seniman bela diri yang lihai.


Melihat orang orang mereka yang terlatih dan memuliki persenjataan canggih rasanya tidak mungkin jika harus menundukkan mereka dengan gampang.

__ADS_1


"Bagaimana paman apa yang harus kita lakukan?" tanya Fhadlan saat mereka sudah berada di sebuah bangunan di mana Jendral Benyamin dan pengawalnya berada.


"Hmm kita mesti hati hati Lan, sepertinya kita keliru besar... mereka bukan teman setau paman jendral Benyamin bukan tentara pemerintah Yaman akan tepati salah satu Jendral Imperium Balqis" bisik abu Ghafur.


"Ahhhh jadi kita kesini hanya akan jadi tawanan meteka.. paman?" tanya Fhadlan


"Bersiaplah untuk berbagai kemungkinan, semoga tidak buruk.. nak Fhadlan" Ucap abu Ghafur.


"Katakan apa maksud pemimpin kalian?" tanya jendral Benyamin sinis.


Abu Ghafur menjawab cukup diplomatis.


"Pemimpin kami minta penjelasan kenapa jendral Benyamin menghadang kami?" tanya abu Ghafur.


"Ha ha ha... resimen Hamdani ternyata masih terlalu lugu, saya dengar semua anggota kalian murni dari penduduk sipil yang hanya di latih dalam semalam, ya kan?" tanya Jendral Benyamin lagi.


"Benar jendral" ucap abu Ghafur.


"Katakan pada pimpinan kalian jika mereka masih ingin menghirup udara segar kalian segera bergabung dengan kami Imperium Balqis di bawah kepemimpin kaisar Linggo Bramantio, atau kalian kembali ke Aden dengan meninggalkan fasilitas yang kalian bawa" ucap Jendral Benyamin.


"Jendral Benyamin ... Yaman adalah tanah air kami, kenapa kalian Imperium Balqis malah ingin berkuasa di negeri kami"? tanya abu Ghafur.


"Nama kaisar kalian pun aku baru dengar sekarang, sudah cukup bagi kami jika Negara Yaman di pimpin oleh presiden yang di pilih oleh rakyat" ucap abu Ghafur.


"Ingat wahai Jendral Benyamin, sekalipun kami cuma di latih dalam satu malam, tapi yang kami cari adalah dua kebaikan berupa kemenangan atau mati sahid"


"Sementara kalian hanya akan menunggu dua Azab yakni azab dari tuhan berupa angin panas atau azab dari penduduk Yaman" ucap abu Ghafur tegas.


"ha ha ha ha, punya nyali juga kalian rupanya... lihatlah apa yang bisa diperbuat oleh pemerintah kalian, tapi jika kalian bergabung dengan kami maka kami akan nenggaji kalian dua kali lipat bagaimana?" tanya benyamin lagi.

__ADS_1


__ADS_2