FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 76


__ADS_3

"Hayo kejar...!" Berbondong mereka mengejar ke dalam gedung dan seorang di antara para pengawal langsung membunyikan sirine tanda bahaya, memanggil berkumpul semua pengawal dan penjaga.


Sirine tanda bahaya tidak saja menghebohkan para pengawal dan penjaga, tapi juga menghebohkan seluruh isi markas. Akibatnya konsentrasi mereka terganggu dan barisan mereka mulai kacau balau. Hal ini sangat menguntungkan resimen Hamdani, dalam waktu singkat mereka telah melumpuhkan beberapa sniper dan anti tank Imperium Balqis.


Sementara itu abu Ghafur juga telah melumpuhkan beberapa mobil yang penuh bahan peledak. Di dalam markas terlihat suasana makin kacau di mana para penjaga dan pegawal Kaisar berusaha menghalangi Fhadlan yang terus memaksa ingin menjumpai Kaisar.


Fhadlan terus berlari memasuki gedung. dia tidak rnau membuang waktu melayani para penjaga dan pengawal yang berusaha menghalangi. Fhadlan menangkap seorang pelayan wanita yang berlari ketakutan, menjambak rambutnya, dan menghardik.


"Lekas katakan di mana Ruang Kaisar!" bentak Fhadlan.


Jari-jari tangan Fhadlan sengaja mencengkeram pundak pelayan itu makin kuat hingga pelayan tersebut meringis merasa nyeri bukan main, sampai mukanya yang pucat mengeluarkan peluh dingin.


"Ahhhhhh... " jeritnya ketakutan, saking takutnya dia tidak dapat mengeluarkan suara, hanya menudingkan telunjuknya ke arah kamar besar di dekat ruangan tengah.


Fhadlan melepaskan tubuh pelayan itu yang lalu mendeprok berlutut dan tidak mampu bergerak lagi saking takutnya, hanya menangis di atas lantai tanpa berani mengangkat muka.


"Brakkk…!"


Daun pintu jebol dan tampaklah seorang laki-laki tua, berusia hampir lima puluh tahun berdiri dengan mata terbelalak marah. Seorang wanita muda dan cantik dengan pakaian tidak lengkap menjerit kecil dan cepat-cepat bersembunyi di atas pembaringan, di bawah selimut.


Laki laki tua itu sudah berpakaian lengkap, agaknya tadi terkejut mendengar sirine tanda bahaya.


"Wijaya .. dasar bejat, kondisi perang kau masih sempat main cinta" ucap Fhadlan.


Ya laki laki itu memang Wijaya seorang petimggi Imperium Balqis. Kehadiran Fhadlan tentu saja membuat Wijaya menjadi marah sekali, terganggu dari aktivitas nya yang asyik bersama pasangannya.


"Apa ini? Siapa kau yang berani kurang ajar? Pengawal! Tangkap dia...!" Wijaya marah sekali.

__ADS_1


Fhadlan malah mendekat kearah Wijaya "Kau pak Wijaya kan?" tanya Fhadlan.


Pak Wijaya mengangkat muka membusungkan dada, sebagai pembesar Imperium balqis dia selalu di hormati dan di patuhi. "Sudah tahu aku Siapa, hayo lekas berlutut minta ampun!"


"Manusia bejat!" Fhadlan kembali teringat kelakuan pak Wijaya saat hampir memperkosa Giza temannya, membuat emosinya makin memuncak.


Fhadkan telah menyambar sehelai sabuk merah, agaknya sabuk milik wanita muda pasangan pak Wijaya, yang tadi ditanggalkan dan mungkin dalam keadaan tergesa dilempar begitu saja di atas lantai.


"Pak Wijaya.. lihat serangan" sekali tangan fhadlan bergerak, tampaklah cahaya merah berkelebat kemudian bergulung-gulung dan ujung sabuk telah menjerat leher Wijaya.


Begitu sabuk ditarik dengan satu sentakan mendadak, pak Wijaya berteriak dan roboh menelungkup di atas lantai. Karena sabuk yang menjerat lehernya itu ditarik terus oleh Fhadlan, terpaksa pembesar itu merangkak dan terseret sampai ke depan kaki Fhadlan.


"Trakkk..." sekali sentak kalung pak Wijaya sudah berpindah tangan, meninggalkan luka cukup dalam di leher pak Wijaya.


"Hayo katakan, apa yang telah kau lakukan terhadap Kalung Fhadlan!" Fhadlan membentak.


"Fhadlan?" guman Pak Wijaya.


"Kalung mu sudah di palsukan...!" katanya dengan kedua tangan sia-sia mencoba melepaskan libatan yang mencekik leher.


Kembali menarik ujung sabuk.


"Uukhhh!" Pembesar itu terengah, lidahnya terjulur ke luar.


"Lalu dimana yang asli!, kenapa kalung itu harus di palsukan?!" Tanya Fhadlan makin emosi.


"Am... ampun, Fhadlan... Yang asli ada pada kaisar Linggo, dia baru saja meninggalkan markas menuju kota Magrib" pak Wijaya terpaksa mengeluh minta ampun karena libatan pada lehernya makin mencekik erat.

__ADS_1


"Hmmm Orang macam engkau ini sepatutnya dikirim ke neraka! Akan tetapi mengingat bahwa engkau hanya seorang pejabat gadungan, biarlah kuberi peringatan!" Setelah berkata demikian, Fhadlan mengebutkan ujung sabuk merah itu ke arah telinga Wijaya.


"Prettt... aduuuuhhh...!"


Pak Wijaya bergulingan mendekap pinggir kepalanya sebelah kanan yang bercucuran darah karena daun telinganya telah hancur dan lenyap terpukul ujung sabuk merah tadi. Bukan main nyeri rasanya hingga menusuk jantung, pandang matanya berkunang dan ubun-ubun kepala rasanya berdenyut seperti hendak pecah. Dia merintih-rintih sedangkan selirnya sudah roboh pingsan di bawah selimut.


"Sebagai peringatan, kuambil telingamu. Apa bila Fhadlan tidak menemukan kalung Fhadlan yang asli pada Linggo, maka aku akan datang dan mengambil kepalamu!" ucap Fhadlan.


Tar-tar-tarrr...!" tembakan senapan serbu terdengar di belakang Fhadlan.


Fhadlan maklum bahwa ada orang yang menyerangnya dari belakang dengan rentetan tembakan, maka cepat-cepat dia melompat ke damping, lalu menggerakkan tangannya sehingga gulungan sinar merah dari sabuk sutera langsung melayang ke atas kepalanya dan meluncur cepat ke belakang kemudian menyambut datangnya peluru peluru putih yang menyambar ke arah kepalanya.


"Tarrr... bretttt!!"


Kembali Fhadlan meloncat ke samping dan memandang dengan kaget sekali. Sabuk merah di tangannya telah hancur ujungnya bukan karena peluru. Akan tetapi justru sabuk itu hancur saat bertemu dengan ujung cambuk penyerangnya.


Fhadlan melihat betapa ujung cambuk putih itu seperti seekor ular hidup melayang ke arah pinggang Pak Wijaya dan di lain saat tubuh Pak Wijaya telah melayang ke arah penyerangnya tadi lalu diterima dengan tangan kiri yang sangat besar dan kuat, disusul suaranya yang nyaring akan tetapi terdengar asing dan kaku dalam bahasa Arab.


"Pak Wijaya harap suka mundur ke kota Magrib dan mengobati lukanya, biarlah saya yang menghadapi anak ingusan ini".


Fhadlan memandang orang itu dengan mata terbelalak penuh kaget dan keheranan. Kiranya sudah datang tiga orang di dalam kamar itu. Dua orang di kanan adalah Jendral Benyamin, dan kiri adalah kakek-kakek yang berusia enam puluh tahun dan pakaian mereka sederhana, memandang tak acuh. Akan tetapi orang yang berdiri di tengah-tengah sambil memegang cambuk putih itu yang amat mengerikan.


Sepertinya mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, namun Fhadlan sendiri belum pernah bertemu dengan seorang manusia yang seaneh seperti pemegang cambuk itu sehingga dia sendiri pun sampai bengong tak mampu bicara.


Orangnya tinggi besar berukuran raksasa. Fhadlan yang bertubuh sedang itu hanyalah setinggi pundaknya. Tubuh orang itu amat besar dan perutnya berbentuk seperti gentong. Punggung tangannya penuh bulu kuning yang panjang-panjang laksana tangan monyet.


Kepalanya botak kelimis di bagian atasnya, akan tetapi di bagian bawah sekeliling kepala tumbuh rambut yang warnanya amat luar biasa, seperti uban putih akan tetapi bercampur kuning emas berombak amat indah, seolah-olah bukan rambut melainkan benang-benang perak dan emas ditempelkan di sekeliling kepala. Demikian pula kumis serta jenggotnya, walau pun ada yang agak gelap warnanya, tetap saja bercampur dengan warna kuning emas dan putih, juga alis matanya. Alisnya tebal, matanya lebar sekali dan mata itu bukan seperti mata biasa, karena maniknya bukan hitam melainkan biru! Biru laut!

__ADS_1


__ADS_2