FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 19


__ADS_3

Selama tinggal di Ibukota Fhadlan mengenal kehidupan orang orang susah, sekalipun mereka tak paham agama dalam usia mereka yang masih tergolong anak anak, mereka telah mengenal filosopi kehidupan. Secara tak di sadarinya Fhadlan pun sudah mengenal filsafat kehidupan dari para pengasuh dan kakak kakak asuhnya. Pemahaman filosofi kehidupan makin meresap pada jiwa Fhadlan dengan adanya cobaan cobaan berat yang di alaminya.


"Intinya kita hidup itu untuk mempersiapkan hal-hal yang akan datang, entah hari esok, pekan esok, atau tahun esok, bahkan kehidupan esok setelah mati. Kalau kita belum memiliki rencana tentang apa yang ingin kita gapai, setidaknya jangan pasrah, tapi lakukan sesuatu yang bisa kita lakukan dengan usaha yang terbaik. Nanti sambil jalan kan kita menemukan hal-hal yang perlu kita persiapkan dan perlu kita gapai. Jangan takut gagal atau takut akan hal-hal buruk lainnya, Lha wong jalan hidup kita sudah dipilihkan yang terbaik oleh Allah SWT" Ucapan ibu Maryani pada Satrio, Rolan dan Fhadlan tiap kali mereka akan berangkat ke jalanan, terngiang ngiang di pikiran Fhadlan.


"Ya allah, kehidupan bagaimana yang engkau persiakan untu Fhadlan!?" tanya Fhadlan dalam hatinya. Bagi Fhadlan mungkin tak berlaku lagi filosofi hidup yang manapun. Dia merasa seperti dipaksa menempuh kehidupan yang sangat berat dan sulit.


Saat om Nanak pergi meninggalkannya maka hilanglah harapan terakhirnya. Fhadlan merasa iba yang sangat hingga tak di sadarinya Fhadlan telah menangis sesugukan.


"Huuu huuuu huuu" tangis Fhadlan tumpah saat om Nanak menghilang dari pandangannya, yang bisa Fhadlan lakukan hanya menangis lalu kembali ke ruang rawat inap nya.


Salah satu perawat melihat Fhadlan yang sedang menagis merasa iba, lalu mendekati Fhadlan,


"Fhadlan apakah kamu tidak ingin kembali ke keluargamu?" tsnya perawat yang mengenal Fhadlan sebagai anak Cicilia.


Fhadlan diam dari tangisnya, prhatian perawat sudah cukup menghibur dirinya, dadanya kembali sejuk, Fhadlan seperti menemukan harapan baru untuk berkumpul dengan abi dan uminya.


"Ya.... Fhadlan pengen sama abi dan umi" ucap Fhadlan penuh harap.


Fhadlan tunggu di sini ya biar suster urus administrasi perawatan Fhadlan.


"Ya tante" ucap Fhadlan.


Suster yang menduga kelurga Fhadlan tidak mau datang kerumah sakit karena kesusahan ekonomi. Tentu saja Suster tidak tau kronologi bagaimana Fhadlan telah melewati berbagai perjalanan hidup yang nyaris di luar logika sehat hingga sampai menjadi pasien rumah sakit.


Tak berapa lama berlalu, suster di ikuti dokter yang merawat Fhadlan kembali ke tempat di mana Fhadlan duduk menunggu.


"Ini dok anak korban kecelakaan gunung Kawi yang ibunya meninggal, sampai saat ini fihak keluarga nya tidak pernah datang untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit" ucap suster.

__ADS_1


Dokter mengelus kepala Fhadlan.


"Uhhhh kasian kali.. Bagaimana nak Fhadlan sudah sehat?" tanya dokter.


Fhadlan hanya mengangguk


"Mungkin keluarganya termasuk orang kurang mampu. Sekarang begini aja biarkan dia pulang nanti pihak rumah sakit bisa hubungi pihak desa, setidaknya minta surat keterangan tidak mampu dari lurah atau kepala desa" ucap dokter.


"Baik dokter" ucap suster lalu menggunting gelang pita tanda pasien di tangan Fhadlan.


"Sekarang Fhadlan sudah boleh pulang kerumah keluarnya" ucap suster.


"Oya ini sekedar ongkos buat nak Fhadlan di jalan" dokter memberikan amplop putih untuk Fhadlan.


Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat inap. Kesedihan Fhadlan kembali menguasai dirinya, secara otomatis Fhadlan merasa dirinya sudah di usir dari rumah sakit tempat dia dirawat. Di kemasinya beberapa potong pakaian je dalam tas yang sempat di belikan ibu Cicilia waktu di Malang lalu dengan langkah gontai Fhadlan meninggal kan rumah sakit tanpa tujuan yang pasti.


"Bagaimanapun Fhadlan tidak akan bisa kembali ke masa lalu, menangis tidak akan Memperbaiki masa depan, fhadlan harus tabah menghadapi keadaan hingga waktu mengakhiri perjalanan hidup" ujar Fhadlan pada dirinya sendiri.


Entah sudah berapa lama Fhadlan berjalan, saat menelusiri jalan raya yang sepi dan tidak ada perumahan penduduk, dia mulai merasa letih, terik matahari membuat telapak kaki Fhadlan panas seperti di aliri arus listrik, Fhadlan tidak sanggup lagi melakukan perjalanan, saat nenyusuri perkebunan tebu di pinggir jalan hausnya tak tertahankan lagi. Di carilah tempat yang teduh lalu Fhadlan menjatuhkan dirinya seolah tak mau beranjak lagi.


Tiba-tiba Fhadlan kembali memikirkan ibu kandungnya, sekalipun sempat tak bersama setelah di lahirkan namun Fhadlan merasakan kasih sayang orang tua kandungnya. Fhadlan merasakan ikatan kasih tanpa syarat yang sebenarnya, yang terbangun di dua tahun terakhir semasa perawatan umi sarah ibu kandungnya.


Namanya naluri anak pasti sangat ingin dekat orang tuanya. Terkenang Fhadlan bagaimana susahnya ibu Gayatri dan om Nanak saat anaknya tatang sedang sakit.


"Pasti sangat menyakitkan bagi umi dan abi saat kehilangan anaknya" pikir Fhadlan.


Pikiran Fhadlan terkadang seperti orang dewasa tapi tetap saja dia hanyalah seorang anak yang masih terbatas. Berpikir kalau orang tuanya di jakarta pun susah untuk di cari, membuat dia pasrah untuk menjalani hidup dimana dia berada sekarang.

__ADS_1


Saat Fhadlan terbaring tak sanggup lagi untuk berdiri, dimana dari lutut hingga ujung kakinya terasa panas dia benar benar sudah menyerah menunggu setiap kemungkinan yang akan terjadi.


"Di sinilah tempat kematian Fhadlan" gumannya pada diri sendiri lalu memejamkan mata menanti malaikat maut mengbil nyawanya.


Mendegar sebuah motor berhenti tak jauh dari posisi Fhadlan berbaring. Fhadlan membuka matanya lalu memaksakan diri untuk duduk, dia melihat pengendara motor turun lalu mendekatinya. Fhadlan sudah waspada terhadap kemungkinan buruk saat lelaki setengah baya berdiri di depannya.


"Kamu Fhadlan bukan?" taya lelaki tersebut.


"Iya om" ucap Fhadlan dengan pandangan penuh selidik.


"Kamu yang di rawat bersama tatang anaknya pak Nanak kan?" tanyanya lagi.


"Iya om" jawab Fhadlan lagi.


"Ooooo walaaah.. kamu kok nekat pergi sendiri sih.. om diminta menjemput nak Fhadlan untuk di bawa kerumahnya" jawab lelaki tersebut.


Mendengar di sebutnya nama om Nanak perasaan Fhadlan kembali menjadi lega.


"om sudah keliling keliling nyari nak Fhadlan untung ketemu di sini, nak Fhadlan om Nanak mu, seminggu lagi baru balik kesini, kamu selama seminggu tinggal sama om Sukarjan dulu ya" kata laki laki setengah baya tersebut yang ternyata bernama Sukarjan.


"iya om" ucap Fhadlan


Tentu saja tawaran om Sukarjan sangat berarti bagi Fhadlan, bagai satu anugrah yang tak terhingga baginya. Segera Fhadlan berdiri mengikuti om Sukarjan yang telah menghidupkan motornya.


"Ayo nak Fhadlan duduk di belakang om" pinta om Sukarjan.


dengan susah payah Fhadlan yang sudah amat letih menaki motor lalu duduk di belakang om Sukarjan.

__ADS_1


"Nak Fhadlan Pegangan yang erat ya" kembali om Sukarjan meminta Fhadlan berpegangan, setelah Fhadlan duduk di belakangnya.


__ADS_2