
Setelah berkata demikian, dengan menggunakan kesempatan selagi semua orang masih berdesakan ingin mendekat untuk melihat sosok Fhadlan pahlawan cilik mereka, Paman Danuwarsa membawa Fhadlan, tubuh mereka meloncat tinggi melampaui kepala orang keluar warung.
"Fhadlan, benar benar hebat, luar biasa hampir tak percaya kalau tidak menyaksikan sendiri" guman beberapa pengunjung
Andrian dan Istrinya memandang bengong melihat cara Danuwarsa dan Fhadlan meninggalkan warung meninggalkan para pengunjung yang sudah berdesakan.
"Andrian tolong bayarkan sarapan kami" ucap Danuwarsa yang sudah berada di luar warung.
Dengan menggerakkan tangan kanan yang memegang uang seratus ribuan, terdengar swiran angin di barengi melesatnya uang seratus ribuan dan jatuh tepat di meja depan Andrian dan istrinya duduk.
"Cik cik cik ... mereka tak ubahnya seperti pendekar sakti yang budiman dalam film laga" Andrian berdecak kagum.
Menjelang senja, setelah berkeliling puncak selama setengah hari, mereka tidak pernah menemukan Abi dan umi Fhadlan, akhirnya mereka kembali kepondok mereka. Fhadlan tidak pernah putus asa selalu berharap pada Tuhan memberi jalan mempertemukannya dengan orang tuanya.
Tiba-tiba Fhadlan meloncat berdiri tersadar dari lamunannya dan mengepal tinjunya, saat melihat ada bayangan seseorang berkelebat di luar jendela kamarnya. Fhadlan sempat melihat sekilas, bayangan seorang pemuda umur dua puluh lima tahunan di luar jendela, saat dia akan mengejar bayangan tersebut Fhadlan justru bertemu paman Danuwarsa di pintu kamarnya.
"Fhadlan... hari sudah sore, kita kembali ke hotel dulu, besok kita lanjutkan pencarian orang tuamu" ucap paman Danuwarsa.
Fhadlan menurut lalu berkemas kemudian mengikuti paman Danuwarsa kemobil tanpa menceritakan apa yang baru saja dia lihat di luar jendela kamarnya.
*****
Tradisi Keraton Yogyakarta yang pertama diadakan di hotel ini adalah Patehan atau upacara minum teh. Acara bertajuk Patehan Royal High Tea Ceremony ini diadakan pagi ini atas permintaan paman Danuwarsa.
Upacara ini dimulai dengan arak-arakan perempuan membawa teh dan kudapan. Biasanya ada tiga jenis kudapan, yang terdiri makanan manis dan asin. Tradisi asli Keraton Yogyakarta, perempuan yang mengarak teh untuk Patehan adalah biasanya perempuan menopause tapi di hotel semua di lakukan oleh wanita muda.
"Tetapi untuk di hotel tidak mungkin menyediakan perempuan setengah baya karena perempuan di sini adalah karyawan hotel dalam usia produktif," tutur pengelola hotel pada paman Danuwarsa.
"Tidak masalah." ucap paman Danuwarsa.
"Bagaimana Fhadlan masih ingin mencari abi dan umi mu?" tanya paman Danuwarsa saat pengelola hotel pergi.
"Iya paman .. hingga romo Adiwilaga kembali Fhadlan akan terus mencari" ucap Fhadlan mantap.
"Hmmmm ... masalahnya menurut laporan tim tilik sandi keraton saat ini ada berapa orang sakti yang sudah mengetahui keberadaan Fhadlan di luar keraton paman kuatir nak Fhadlan nanti kenapa napa" ucap paman Danuwarsa.
__ADS_1
"Fhadlan tak peduli apapun rintangannya paman" ucap Fhadlan.
"Fhadlan juga tak peduli walaupun Fhadlan selalu gagal dan gagal selagi Fhadlan punya harapan untuk menemukan mereka Fhadlan akan lakukan"
"Fhadlan masih berharap tuhan mengabulkan harapan Fhadlan, Fhadlan yakin tuhan punya cara sendiri membantu Fhadlan dengan Rahmat-Nya" ucap Fhadlan.
"Ok hari ini kita coba ke taman mini, dan Fhadlan tetap tawakkal pada tuhan, Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya," ucap paman Danuwarsa.
"ya paman" ucap Fhadlan.
"Semoga saja orang tua mu liburan minggu ke taman mini, Ooo ya Fhadlan katanya mau ikut Jamparingan Mataraman" ucap paman Danuwarsa mengingatkan.
Selain Patehan, hotel juga membuat acara Jemparingan Mataraman. Waktunya hampir bersamaan dengan Patehan.
"Iya Fhadlan ikut paman" ucap Fhadlan semangat.
Jamparingan adalah seni memanah masih dilestarikan di keraton. Masyarakat menyebutnya dengan jemparingan. Gaya yang digunakan pun masih mengikuti gaya jemparingan Mataram asli ajaran dari Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Bagi para abdi dalem keraton, memanah bukan hanya sebagai olah raga, namun juga sebagai olah rasa. Selama tinggal di keraton sebagai anak laki laki Fhadlan juga di ikut sertakan dalam acara Jamparingan.
"Ok... Fhadlan tidak akan mengecewakan paman" ucap Fhadlan.
"Om om Fhadlan boleh ikut memanah?" tanya Fhadlan pada pengurus hotel
"Iya boleh den...Ini sebagai komitmen kami sebagai hotel keraton, hotel bintang lima independen berbasis budaya," ucap pengelola hotel.
Fhadlan nengambil posisi Jemparingan dalam keadaan duduk bersila seperti yang di lakukan nya di kraton. Fhadlan mengenakan pakaian Jawa pakem lengkap, busur panah dan anak panah dari bahan alam (kayu dan bambu), serta sasaran yang berupa bandul menjadi seni mengendalikan diri dan fisik.
Aktivitas ini juga dilakukan oleh komunitas Jemparingan Jemuwah Sonten Mardisoro yang menyelesaikan 20 rambahan (ronde).
"Horeee" teriak penonton saat anak panah Fhadlan mengenai buah apel yang di gantung pada jarak 25 meter.
"Hebat... hebat" kembali penonton bersorak saat panah Fhadlan menancap pada bandul hati dalam jarak 50 meter.
"Untuk tamu yang tertarik mengikuti acara belajar Jemparingan bisa membayar Rp 75.000," kata pengurus hotel saat milihat para tamu, ada yang ingin ikut.
__ADS_1
"Aku pengen nyoba olahraga ini sejak lama, tapi gak punya referensi tentang tempat atau range harganya. Eh ternyata ada juga di hotel dan harganya terjangkau. . Cuus ah cuus nyoba ah" ucap seorang anak remaja.
"Kalau mau latihan play, play saja bisa ngak?" ucap remaja tersebut pada pengelola hotel.
"Boleh tapi daftar dulu" ucap pengurus hotel.
"Ok juga tu Valdi.. Daripada main games mending memanah aja, lebih enak olahraga dan bisa latihan buat ikutan lomba”, ucap dua temannya berbarengan.
Tiga remaja berumur kira kira tujuh belas tahun lalu mendaftar ikut lomba jamparingan.
"Ayo kita harus kalahkan anak kecil itu" Rivaldi menunjuk Fhadlan yang sedang konsen.
Tiga remaja tersebut mengambil tempat berseblahan dengan Fhadlan. Ketiga remaja sepertinya anak SMA ini sudah memegang busur panah dan duduk bersila seperti Fhadlan. Mereka membidik bandul bandul sasaran namun hingga anak panah mereka habis tak satupun yang mengena.
Kembali Fhadlan membidik bandul bergambar hati dalam jarak 70 meter.
"Crassss" panah kembali menancap tepat, penonton kembali bersorak.
"Buseeet... Ini anak paling baru klas lima SD udah ahli panahan aja" ujar Eky teman Reval.
"Coba kamu tandingi dia Lan" ucap eky pada temannya.
Mendengar panggilan "Lan" remaja di sampingnya, Fhadlan menghentikan bidikannya, lalu menoleh pada pemuda remaja di sampingnya.
"Kakak manggil saya?" tanya Fhadlan.
"Hahh .. sorry kakak panggil teman kakak ini" ucap si Eky memegang teman di sebelahnya.
Otomatis Fhadlan memandang tenam remaja yang di panggil Lan juga. Mereka saling tatap lama seakan mereka seperti pernah kenal, lalu si remaja bertanya.
"Nama kamu siapa? tinggal di mana? Rasanya kakak pernah lihat tapi lupa" tanyanya.
"Nama saya Fhadlan tinggal di Keraton Jogjakarta" ucap Fhadlan.
"Waah.... Orang keraton tho.. pantas jago jamparingan... dari pakaiannya seperti bangsawan keraton, ada pengawalnya juga tuh jangan jangan pangeran keraton dia ky" ucap Rivaldi.
__ADS_1