
"Romo punya pirasat kurang baik, menurut tilik sandi kraton beberapa dari organisasi pemburu harta karun juga sedang menargetkan pusaka dan kitab kuno yang tersimpan di kraton, makanya sri sultan memperkuat penjagaan penyimpan benda benda pusaka" ucap romo Adiwilaga.
"Maksud romo ingin Tika juga membantu penjagaan di tempat penyimpan pusaka kraton gitu ya?" tanya Tika.
"Bukan gitu Tika, tapi Romo peduli dengan setiap benda pusaka yang di miliki kraton. Sebagai cagar budaya, bangunan keraton dan artefak di dalamnya mutlak harus di jaga dan dipelihara sebagai upaya merawat sejarah bangsa" ucap romo Adiwilaga.
Kekuatiran Romo adiwilaga memang cukup beralasan, walaupun di kraton ada yang menjadi salah satu Abdi Dalem yang menjalankan tugas penting tersebut, Abdi dalem yang bertanggung jawab atas pemeliharaan infrastruktur keraton, seperti bangunan dan kendaraan, termasuk kereta pusaka, dan artefak kuno, buku atau barang barang pusaka lainya. tapi saat ini beberapa pusaka tersebut sedang berada di rumah mertuanya di luar kraton.
“Biasanya pusaka kraton ataupun pusaka mmilik masyarakat umum yang punya pusaka tosan aji menitipkan pada kakekmu untuk dijamasi, yang dilakukan pada bulan pertama tahun Jawa, ritual jamasan pusaka memang lazim diadakan untuk merawat senjata dan benda-benda yang dianggap berharga" cerita romo Adiwilaga.
Dulu RM Adiwilaga muda sering membantu sang pamannya yang sekarang menjadi mertuanya hingga lama-lama tumbuhlah kecintaan pada senjata pusaka. Dilandasi rasa sayang kepada keraton dan pusakanya yang saat itu belum sepenuhnya dirawat dengan benar, sang paman akhirnya mengusulkan kepada keraton agar membentuk tim Abdi Dalem khusus untuk merawat pusaka.
“Abdi Dalem yang menguasai metode siraman yang baik dan benar itu makin sedikit sehingga kakekmu selalu hadir dalam proses siraman, supaya siraman menjadi sesuai debgan yang diharapkan,” ungkap RM Adiwilaga.
"Romo.... kan sudah dibentuk bebadan baru yang disebut kanca pusaka, kenapa lagi kakek harus terlibat" protes Tika
"Iya memang sudah ada Kanca Pusaka di dalamnya, saat ini beranggotakan sepuluh orang, kanca pusaka yang bertugas menjamasi dan menginventarisasi pusaka-pusaka keraton secara bergiliran setiap Selasa Kliwon. Namun khusus untuk pusaka utama, jamasan dilakukan pada bulan Sura, akan di kerjakan oleh kakekmu sendiri malam ini hingga tiga hari" ucap Romo Adiwilaga terlihat cemas.
"Masalahnya penjagaan di luar keraton sangat minim bahkan di rumah kakakmu hampir tak terjaga" ucap romo Adiwilaga.
"Kalau itu masalahnya biar Tika dan Fhadlan nginap di tempat kakek selama tiga hari" ucap Tika.
"Kenapa harus Tika, kan ada abdi dalem yang bertugas sebagai pengamaman" protes Raden Ajeng Atmariani.
__ADS_1
"Anggota keamanan sudah pasti ada Diajeng" ucap romo Adiwilaga
Memang Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa dan salah satu bangunan paling bersejarah di Indonesia membutuhkan pengamanan serius. Tidak hanya terkait fisik, namun juga seluruh aktivitas sosial di dalamnya, sudah barang tentu, mereka juga punya petugas kemiliteran yang bertanggung jawab mengamankan kraton beserta isinya.
"Tidak masalah romo, Tika juga sudah kangen kakek, dan nenek, rencana Tika sore ini mau mengunjungi kakek" ucap Tika.
"Kalau begitu ya sudah, tapi kamu harus hati hati" ucap Raden Ajeng Atmariani.
Demikianlah dengan mengenderai kereta kencana milik keraton Tika membawa beberapa pusaka pusaka keraton ke rumah kakeknya untuk di jamasi.
*****
"Jeng Marantika... kamu makin cantik aja nduk" ucap nenek Tika yang menyambut kedatangan tika dan Fhadlan di depan rumahnya.
"Alhamdulillah sehat jeng" ucap kakek Tika.
Mereka membawa tika ke ruang keluarga ngobrol hingga larut malam.
"Jeng Tika, ngobrolnya sama eyang putri dulu ya, eyang kakung akan mempersiapkan jamasan pusaka" ucap kakeknya.
"Iya eyang, tapi Tika juga sudah pengen istirahat, ayo Fhadlan ikut mba Tika" ucap tika saat mendengar ada sesuatu yang mencurigakan di luar rumah.
Tika membawa Fhadlan ke kereta kencana yang ada di luar keraton, dia mulai bersiaga dengan pedang terhunus ala militer keraton.
__ADS_1
Saat dua sosok laki laki kurus berkelebat cepat dengan gerakan yang sangat ringan mendekati kereta kencana, Tika meloncat turun dari kereta sambil mencabut pedang yang tadi sempat di sarungkan. Akan tetapi begitu meloncat dan menerjang, Tika mengeluh karena dia baru teringat akan keadaannya, akan tenaga dalamnya yang sebagian besar telah lenyap saat membantu membuka jalan darah fhadlan sore tadi. Apa lagi sekarang yang dihadapinya adalah dua orang yang berilmu tinggi yang di kenal dengan julukan tiga setan Gentayangan.
Kalau dalam keadaan normal sekali pun, tak mungkin ia dapat menangkan pengeroyokan dua orang ini dan mungkin hanya akan sanggup mengalahkan seorang di antara mereka. Akan tetapi sekarang, dengan tenaga murninya-nya habis setengahnya lebih, melawan seorang di antara mereka sekali pun dia tak akan menang.
Fhadlan yang sekarang sudah bangkit dari duduk nya berdiri di atas kereta kencana, melihat betapa Tika sedang terdesak hebat oleh dua orang laki-laki bersenjata golok yang menggunakan jurus sepasang Golok Bumi Langit yang sangat terkenal ganas. Untung kalau jurus pedang tika benar-benar hebat, kalau tidak, tentu dalam beberapa gebrakan saja ia akan roboh.
Tika mainkan pedangnya secepat mungkin, dan biar pun dia sama sekali tidak mampu melakukan serangan balasan, namun dia masih mampu mempertahankan dirinya dengan gerakan pedang dan juga sambil mengelak ke sana ke mari. Dia sudah terdesak hebat dan menurut taksiran Tika, tidak sampai sepuluh jurus lagi dirinya itu tentu akan roboh.
"Fhadlan lekas temui eyang kakung minta bantuan pengamanan, ayo menunggu apa lagi jangan berlama lama di sini" Tika yang sedang kerepotan itu akhirnya berteriak-teriak.
Fhadlan yang masih merasa takut saat ingat kalau dua lelaki kurus merupakan salah satu yang memburunya, Fhadlan seperti tidak nendengar apa yang di teriakkan Tika, dia hanya melihat melalui tirai kereta yang tersingkap dari dalam. Fhadlan lantas melihat berkelebat segulung cahaya putih berturut-turut dua kali. Cahaya ini menyebar ke arah kedua orang laki laki kurus yang mendesak Tika.
Mereka cepat menangkis dengan golok, namun mereka segera berteriak kesakitan dan meloncat ke belakang.
"Aiiiiih .... pengecut" teriak dua laki laki kurus, ternyata pangkal lengan kedua orang laki laki kurus itu sudah terluka dan mengeluarkan darah.
Yang melukai mereka ialah dua butir bola putih yang permukannya halus namun mempunyai duri-duri runcing dan pada saat dua bola tadi berhasil ditangkis, bola itu tidak runtuh ke atas tanah melainkan melesat dan melukai lengan mereka.
Dua laki laki kurus kembali menyerbu dengan gerakan yang makin ganas. Fhadlan dapat melihat keadaan bahaya ini. Namun pun dia sedang tersiksa oleh rasa takut yang sedang menguasai jiwa dan pikirannya. Namun melihat keadaan bahaya mengancam Tika itu, dia lalu cepat meloncat.
Tubuhnya bagaikan sebuah bola karet penuh gas, begitu digerakkan lalu meluncur cepat sekali menghadang kedua laki laki kurus yang akan menyerbu Tika. Seperti sedang kerasukan Fhadlan ini secara aneh sekali telah menjadi buas dan ingin sekali menghancurkan atau menbunuh apa pun yang merintang di depannya.
Hal ini adalah disebabkan dorongan tenaga murninya yang berlebihan seperti bangkit saat dia tersiksa oleh ketakutan.
__ADS_1
Keadaannya Fhadlan tiada bedanya dengan seorang yang diserang sakit gigi lalu menjadi marah-marah dan ingin mengamuk. Maka saat melihat betapa dua laki laki kurus mengancam keselamatan Tika yang menderita luka dakam akibat membantu dirinya membuka jalan darah, Fhadlan lantas mendorong-dorongkan kedua tangannya hingga mengeluarkan deruan yang aneh bunyinya sebab suara ini digerakkan oleh tenaga dalamnya yang padat, yang dikeluarkan berbarengan dengan gerakan-gerakan pukulan dan dorongan tangannya.