FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 85


__ADS_3

Dengan hati hati Fhadlan memasuki ruangan di bagian belakang bangunan, semua terlihat berantakan Fhadlan mendekati sosok tubuh yang terbaring bersimbah darah, seluruh tubuhnya penuh luka hingga tak bisa di kenali lagi.


Tubuh atasnya tidak lagi berbaju, telanjang memperlihatkan kulit yang kemerahan, dada yang bidang dan terhias bulu-bulu yang lembut. Kedua lengannya berotot dan di lehernya masih terbelit kain leher, tubuh bawahnya memakai celana dengan sabuk kulit. Rambutnya yang ikal itu masih rapi, matanya penuh semangat, mata yang warnanya hitam itu memandang tajam dan dengan sikap gagah melirik ke arah Fhadlan.


Akan tetapi begitu Fhadlan mengenal laki laki tersebut, amarahnya menjadi memuncak sikapnya mulai berubah. Kedua lengan yang tadinya bersedakap dengan sikap tak acuh segera dilepaskan dan dia membalikkan tubuh memandang piria itu dengan mata terbelalak dan bibir membentuk manyun menandakan bahwa perasaannya bergelora ketika dia bertemu dengan laki laki tersebut.


"Panglima Fhadlan...! Ahh, betapa gembira hatiku melihat pamglima dalam keadaan selamat dan tidak terluka dalam ledakan yang dahsyat tadi" ucap laki laki tersebut.


Wajah Fhadlan menjadi merah menahan amarah setelah mengenal laki yang terbaring tersebut adalah Abu Ghafur. Alangkah anehnya paman ini, dalam keadaan terluka, tertawan dan disiksa musuh akan tetapi masih menyatakan kegembiraannya bahwa dirinya selamat! bukannya minta pertolongan pada nya pikir Fhadlan.


"Paman... Paman terluka...!" Fhadlan melirik ke arah dada dan muka abu Ghafur yang penuh luka luka, akan tetapi segera mengalihkan pandangan. Tidak kuat dia terlalu lama memandang luka luka yang di alami abu Ghafur.


"Aku...? Ahh, paman hanya terluka luar saja Lan. Kau hebat sekali. Baru saja paman di culik di bawa kemarkas mereka yang penuh penjagaan dengan persenjataan canggih, tapi hanya selisih menit kau sudah bisa menyusul, paman benar-benar kagum!" Sepasang mata Abu Ghafur benar-benar memandang Fhadlan penuh kagum.


"Minum paman" ucap Fhadlan memberikan air minum pada Fhadlan.


"Tidak usah Lan" tolak abu Ghafur.


"Mengapa paman menolak minuman? Dalam keadaan seperti ini paman harus minum paman telah kehilangan banyak darah" ucap Fhadlan.


"Fhadlan ... paman sayang pada Fhadlan, paman merasa malaikat maut tidak melepaskan paman kali ini" Napas abu Ghafur mulai deras dan berat.


"Utamakan kan akhirat dari dunia Lan.. berbuatlah dalam kontek akhirat, .... artinya jika Fhadlan mendengar suara azan atau sudah masuk waktu sholat maka tinggalkan semua urusan segera lah tunaikan sholat" Abu Ghafur malah menasehati Fhadlan.


"Iya paman.... paman tidak usah bayak gerak dulu, biar Fhadlan bawa ke tempat yang lebih aman" Fhadlan memanggul tubuh abu Ghafur ke tempat di mana Ghibran berlindung.


Kondisi abu Ghafur sudah terlihat sangat payah setelah mendapat siksaan dari kelompok Imperium balqis yang menculiknya.


"Siapa yang melakukan ini pada paman?" tanya Fhadlan sangat marah.

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu lan... jika kau tau siapa melakukan ini pada paman Fhadlan mau apa?" tanya abu Ghafur.


Fhadlan menjawab, "Demi Allah yang pamsn, akan saya tebas mereka dengan pedangku!"


"Panglima fhadlan.... maukah kau kutunjukkan jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah hingga kita bertemu di akhirat!"


"Baik lah paman... katakan siapa mereka?" kembali Fhadlan bertanya.


"Dia adalah orang sebangsa dengan Fhadlan mengaku sebagai kaisar Imperium balqis" ucap abu Ghafur.


Fhadlan sudah bisa menduga kalau yang di maksud abu Ghafur adalah Linggo Bramantio.


"Fhadlan kamu masih muda... paman sayang sama kamu, maukah kau mendengarkan nasehat paman?" tanya abu Ghafur lagi.


"Iya tentu saja paman" ucap Fhadlan mencoba membersihkan luka di wajah abu Ghafur.


"Ingat Lan orang alim itu lebih baik dari seribu ahli ibadah dan orang alim bukanlah orang yang bersarung memakai peci, atau berbaju gamis dengan celana cingkrang, akan tetapi orang alim itu adalah orang yang berilmu dan beramal dengan ilmunya"


"Fhadlan kamu punya bayak keahlian menguasai berbagai ilmu, paman juga ingin kamu menguasai ilmu agama dan punya keahlian menerapkan agama dalam kehidupan Fhadlan dalam kontek amar makruf nahi munkar"


"Setau paman titik tolak beragama itu adalah Aqidah dan syariat jadi bukan ibadah melulu, dimana syariatlah yang akan mengatur semua urusan kehidupan"


"Jadilah penegak kebenaran dan pencegah kebhatilan... bagaimana Lan kamu bersedia?" tanya abu Ghafur.


"Baik paman Fhadlan bersedia... Fhadlan akan selalu ingat wasiat paman ini" jawab Fhadlan.


"Itu bagus Lan" ucap abu Ghafur nafasnya makin berat.


Lalu setelah mengucapkan kalimat tauhid abu Ghafur terkulai lemah, tak bernafas lagi dengan bibir tersenyum dan bau tubuh yang harum.

__ADS_1


"Subhanallah.... " ucap Ghibran saat melihat mayat abu Ghafur yang tersenyum dengan bau tubuh harum senerbak.


"Abu Ghafur telah sahid... benar benar Allah mememuliakannya dengan karomah jenazahnya yang tersenyum dan bau tubuh yang harum semerbak" ucap Ghibran.


"Apa yang harus kita lakukan kak Ghibran?" tanya Fhadlan.


kita kuburkan beliau di tempat dia tewas, kakak dengar orang mati syahid hanya di kapani dengan pakaian yang mellekat padanya" ucap Ghibran.


Fhadlan dan Ghibran akhirnya menguburkan jenazah abu Ghafur di tempat tersebut.


*****


Fhadlan akan selalu mengingat nasehat terakhir dari abu Ghafur untuknya, Ia tidak akan menggunakan ketajaman pedang atau kekerasan terhadap para pelaku kejahatan. Namun ia juga tidak akan bungkam atau berdiam diri jika mengetahui kejahatan di depannya.


Fhadlan keluar dari parit perlindungan tujuannya hanya satu mencari Linggo untuk menghentikan perang dan minta Linggo secara sukarela mengembalikan kalung pemberian ibu angkatnya Cicilia.


Kalung pemberian cicila sangat berarti bagi Fhadlan, karena sudah di amanahi untuk menjaga dan membuka isi kalung tersebut pada waktunya. di samping itu Fhadlan juga sangat penasaran dengan isi kalung yang merupakan kapsul waktu.


"Kak Ghibran .. ikut Fhadlan pasukan Imperium Balqis mengundurkan diri ke utara kota" ucap Fhadlan.


Dentuman meriam, Arteleri Berat, senapan serbu terdengar sahut sahutan, pertempuran makin sengit. Resimen Hamdani mulai merangsak memasuki kota dari tiga pejuru. Pertempuran kota pun terjadi makin lebih sengit.


Lebih dari separo kota sudah di kuasai resimen Hamdani, sementara itu Imperum Balqis bertahan di utara kota. Ini perang habis habisan yang pernah Fhadlan ikuti tak sedikit fasilitas yang rusak terkena tembakan. Mayat mayat dari kedua belah pihak telah berserakan di sepanjang jalan dan lorong.


Fhadlan berjalan seorang diri memasuki lorong demi lorong kota. Berkali-kali dia menghela napas panjang bila dia mengenangkan semua pengalamannya.


"Kenapa sampai terjadi demikian jeleknya?" tanya Fhadlan pada dirinya sendiri.


Terkadang Fhadlan berpikir tentang ramalan tentang tanggal kelahirannya apakah mereka di lahirkan pada hari yang sama merupakan pembawa bencana?, tidak mungkin tuhan berbuat serendah itu berapa juta anak yang terlahir di hari yang sama dengannya pikir Fhadlan.

__ADS_1


__ADS_2