
"buuuuum, bummm, bummm"
"Treet tet tet tet tet tet"
"Ahhhhhh.. Ahhhh... Ahhhh"
Di kejauhan erdengar jerit-jerit tangis kematian dan dentuman meriam serta rentetan senjata berat, di luar terlihat bala tentara yang lari lintang pukang tak sedikit yang terjungkal roboh karena terjangan peluru tajam, semua berusaha mencari tempat berlindung.
Akan tetapi di dalam gedung masih terlihat lima orang yang seperti tidak terpengaruh dengan situasi, salah satunya Fhadlan dan gadis bertopeng yang tidak luput dari perhatian Fhadlan.
Gadis bertopeng, Jendral cahyono, dan panglima pengamanan luar istana beserta pembantu sekaligus muridnya, terlihat cemas dengan kondisi mereka yang sedang keracunan.
"Crasss... "
__ADS_1
"Ahhhhh....." wanita bertopeng menjerit kesakitan lalu jatuh terduduk di tengah ruangan.
Gadis bertopeng dengan cepat menarik kembali pedangnya setelah memutuskan memotong tangan kirinya sebatas pergelangan tangan, kemudian menggunakan tangan tangan kanannya merobek pakaian tertera balqis kingdom yang tergeketak di depannya.
Gadis bertopeng mencoba membalut tangannya yang terputus oleh pedang nya sendiri, darah mengucur deras bagaikan air mancur, mulutnya terakatup rapat dengan gigi terlihat menekan gigitan pada bibirnya menahan sakit yang luar biasa.
Dia memnghujamkan pedangnya kelantai sehingga tubuhnya sudah mencelat berdiri di atas lantai yang penuh darah.
Dan tepat seperti dugaannya, sebelas orang pengawal luar istana yang berhasil mengelak dari serampangan pedangnya sekarang masuk dan maju menusuk atau membacok pinggangnya.
Ia berseru keras, tubuhnya meloncat tinggi. Ia maklum bahwa pedang-pedang itu akan mengejarnya, maka cepat ia menggunakan kedua kakinya membarengi ketika semua pedang menyambar, menginjak pedang-pedang itu, meminjam tenaga mereka ********* tubuhnya ke atas lalu melesat ke sudut ruangan mencari tempat yang aman untuk bertahan dengan bersandar pada sudut ruangan.
"Giza" desis jendral Cahyono saat melihat gadis di sudut ruangan yang baru saja melepas penutup mukanya untuk di balutkan ke tangan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan.
__ADS_1
"Giza... ????!" ucap Fhadlan mengulangi desisan jendral Cahyono.
Semenjak awal Fhadlan memang penasaran dengan gadis bercadar yang mirip topeng dengan selendang yang di lilitkan menutup wajahnya, Gadis ini sangat mengenal Fhadlan bahkan kehadirannya ingin membalas perlakuan Linggo dan Imperium Balqis pada Fhadlan.
Sekian lama memperhatikan gadis yang bertempur di tengah ruangan sekalipun Fhadlan belum bisa mengenali gadis bertopeng ini namun Fhadlan yang sudah mulai beranjak remaja bisa memastikan kalau gadis bertopeng ini memiliki wajah yang sangat cantik.
Kulit nya coklat cerah bahkan tergolong putih, tubuhnya langsing berisi dengan tinggi kira kira 166 cm, memiliki mata yang indah apalagi rambutnya pirang mempesona benar bebar membuat Fhadlan tidak bisa mengenali nya.
Fhadlan sempat mengeluh saat menyaksikan wanita ini memotong pergelangan tangan kirinya sendiri, hampir saja Fhadlan melompat untuk memberi pertolongan saat melihat darah mengucur deras dari tangan kiri si gadis yang telah terpotong.
"Sreeet Seeet...." terdengar bunyi kain di sobek saat berikutnya Fhadlan melihat cadar gadis tersebut sudah di lepas dari mukanya dan di sobek membelah menjadi dua potongan panjang satu potong ada di gigitannya dan potongan lain di tangan kanan nya.
Fhadlan ternganga memandang paras dari wanita tersebut, Karena kecantikannya. Fhadlan merasa wajahnya tidak asing baginya namun belum bisa mengenali nya.
__ADS_1
"Iya ... Memamg Mirip giza ...." fikir Fhadlan teringat gadis kecil teman sekolahnya di SMP.
Ya dia memang gezha sudah banyak perubahan pada fisiknya, tubuhnya lebih tinggi dan berisi di banding saat smp dulu, dengan rambut di cat coklat sekarang sungguh terlihat sangat cantik di mata Fhadlan yang mulai tertarik pada lawan jenis nya.