FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 68


__ADS_3

Hamdi menoleh ke arah Fhadlan yang telah melesat bagai anak panah memburu Pria berpakaian perwira yang sudah melesat bagai setan, hatinya agak cemas melihat bahwa Fhadlan tentu sudah lari jauh sekali karena tak tampak lagi bayangannya.


Ketika dia menengok ke arah Fhadli, dia terkejut dan terheran, kemudian dia bangkit berdiri dan lari memeluk Fhadli yang terhuyung jatuh pingsan, matanya meram air mata menetes di pipinya, mukanya pucat seperti mayat dan tubuhnya kaku. Hamdi maklum kalau Fhadli sedang berduka sekali. Ketika melihat Fhadli menangis, timbul perasaan panas di hati Hamdi.


"Anak muda .... saya mengerti kesedihan yang kau rasakan, tapi tak seharusnya kau selemah ini, coba lihat si Fhadlan kecil, sikapnya patriot sekali saat melihat kezoliman seharusnya kita malu padanya, hanya diam menyaksikan kejahatan di depan mata"


"Saya tak sanggup membayangkan apa yang akan di alami wanita itu paman, perut ini terasa pedih saat membayangkan wanita itu akan di jadikan budak sek oleh tentara tentara Imperium Balqis" ratap Fhadli.


"Yang sabar ya Fhadli, tawakkal pada Allah dan lebih baik kamu bergabung dengan kami resimen Hamdani untuk mengusir mereka dari desa kalian" ucap Hamdi menasehati Fhadli.


"Terima kasih paman, Fhadli sudah tak punya siapa siapa lagi, Fhadli bertekat melawan mereka bersama paman atau tanpa paman" ucap Fhadli.


"Bagus kalau begitu mari kita ke markas mempersiapkan sesuatunya kita harus segera menyusul Fhadlan" ucap Hamdi.


Sementara itu Fhadlan terus berlari mengejar seorang berpakaian perwira yang bertubuh sedang. Perwira itu larinya amat cepat dan geraknya gesit sekali, sungguh pun pakaian perang itu kelihatan kaku dengan wanita muda di panggulannya, namun tidak menghalangi gerakannya yang cekatan sehingga Fhadlan menjadi kagum dan maklum bahwa pasukan Imperium Balqis pastilah di pimpin oleh perwira yang lihai lihai.


Sesaat timbul keraguan dari Fhadlan untuk mengejar hingga ke markas mereka.


"Bagaimana jika di markas mereka banyak orang orang lihai, sedangkan melawan satu perwira ini saja Fhadlan belum tentu bisa menang" pikir Fhadlan.


Fhadlan segera melesat dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, dia melejit sangat cepat hingga mendahului perwira tersebut lalu berdiri di sebuah batu besar di pinggir jalan.


Sebentar saja perwira itu pun sudah tiba di bawah batu. Ia berdiri dengan tegak, memandang ke arah Fhadlan yang berada di atas batu, tanpa hormat sedikitpun dengan sikap gagah bahkan terkesan meremehkan Fhadlan.

__ADS_1


Diam-diam Fhadlan merasa kagum, tidak salah kalau Beni benar-benar orang yang tepat dijadikan seorang perwira, karena di samping ilmu kepandaiannya tinggi dia juga jelas bahwa perwira ini memiliki kecerdikan.


"Beni... betul-betul aku telah membuktikan bahwa kalian Imperium balqis merupakan manusia-manusia jahat berhati iblis. Dulu kalian meracuni Giza dan merampas kalung ku, sekarang kau menculik wanita muda sudah pasti untuk kau jadikan budak nafsumu. Saya harap kau secara suka rela menyerahkan kalung Fhadlan yang tidak berharga sama sekali dan bebaskan juga wanita itu" bentak Fhadlan.


Beni berusaha bersikap tenang, bagaimanapun dia sangat kaget melihat kemunculan Fhadlan "Ha ha ha Fhadlan ... Kalung ini maksudmu" Beni ketawa menunjukkan kalungnya.


"Tidak berharga? siapa yang tidak tau kalau ini adalah ajimat pemberian Cicilia juru kunci pusaka Nusantara, merupakan warisan Raja Besar Kediri terakhir. Sia sia saya menghindari kejaran ketaton taunya hingga ke timur tengah saya tetap di buru, tentu sangat berharga kan" ucap Beni.


"Setelah ibu Cicilia tiada maka sayalah yang di amanahi memegang kalung itu, ayo berikan pada Fhadlan" pinta Fhadlan.


Beni mengangguk-ngangguk "Mungkin memang di berikan padamu akan tetapi kamu bukan pewaris yang sah, dan setelah ajimat ini jatuh pada kami maka kamilah yang akan mewarisinya, karena Imperum Balqis akan mewarisi kerajaan Nusantara, pusaka maupun hartanya"


"Pewaris kerajaan.... tidak malu kalian... hanya penjarah pusaka lalu kalian jual pda orang asing kalian tidak lebih hanyalah para pemberontak hina dina yang berjiwa iblis" bentak Fhadlan.


Beni menurunkan wanita muda yang di panggulnya, lalu menantang Fhadlan.


"Orang muda yang tidak tahu menghormat orang tua!, sekarang pergilah jangan ikut campur urusan orang tua" Beni membentak marah.


"Kau pemberontak laknat! Sudah jelas memberontak terhadap pemerintahan yang syah, kau masih banyak cakap lagi?" teriak Fhadlan dengan sikap menantang.


Mendegar ucapan Fhadlan Beni sangat marah, tanpa dapat dicegah lagi Beni sudah maju menerjang kearah Fhadlan.


"Kraaaaak" Pada gebrakan pertama, kedua mereka mengirim pukulan dengan tangan kosong hingga terdengar suara keras, keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi tubuh mereka rupanya cukup kebal dan kuat sehingga tidak mengalami luka sedikitpun.

__ADS_1


"Berlututlah" Beni kembali menerjang dengan ganas.


Kalah pengalaman tempur membuat Fhadlan lebih terdesak, Fhadlan terkejut sekali saat tangan kiri Beni sudah melanjutkan serangan susulan mengarah ke lambung kirinya. Segera Fhadlan mengerahkan tenaga dalam-nya dan tubuhnya mencelat ke atas.


Gerakan ini bukan main cepatnya, digerakkan oleh tenaga dalam yang tinggi sehingga dia dapat menghindar dari cengkeraman Beni. Akan tetapi begitu dia meloncat turun, kedua tangan Beni sudah menerjangnya dengan pukulan Lainnya.


"Rebahlah!" teriak si Beni yang ingin cepat-cepat merobohkan Fhadlan, supaya dia dapat membawa lari wanita korbannya.


Beni pun mulai khawatir kalau-kalau orang orang desa datang membantu, dan lebih khawatir lagi kalau-kalau yang datang adalah bala tentara Yaman.


Fhadlan merasa betapa sebuah tenaga raksasa mendorongnya, Cepat dia mengerahkan tenaga dalam-nya dan menangkis dengan tangan digerakkan dari samping.


"Desssss!"


Sekali ini tubuh Beni yang terhuyung-huyung ke belakang, ada pun Fhadlan merasa betapa kedua tangannya tergetar hebat. Sikapnya beni mulai melunak setelah mengukur tenaga dalam Fhadlan.


"Hmmmm Fhadlan engkau dari Indonesia, dan aku juga dari Indonesia, kenapa harus saling mengganggu. Sungguh pun kini timbul urusan memperebutkan pusaka peninggalan Raja Nusantara, seharusnya kita selesaikan di Indonesia"


Melihat sikap melunak Beni tahulah Fhadlan kalau Beni sudah menjadi gentar, setidaknya mulai memperhitungkan kepandaian Fhadlan. Memang Fhadlan telah mengenal siapa adanya Beni salah satu petinggi Imperum Balqis di Indonesia, yang sejak pertama kali dia lihat amat saktiannya, Bahkan image di diri Fhadlan Benilah orang yang paling sakti rasanya Fhadlan tidak mempunyai harapan untuk menang.


"Ha ha ha Beni. Siapa bilang urusan kita harus di selesaikan di Indonesia, di sini pun juga bisa, apa harus ke pengadilan atau harus dengan kepandaian siapa sih takut menghadapimu" ucap Fhadlan.


"Jangan sombong nak, sekalipun kepandaian kita seimbang, dan tadi kau mampu menahan pukulan-ku. Tapi hari ini Beni tidak sempat meladenimu, kau tunggu saja, akan tiba saatnya aku datang dan menghabisimu dalam sebuah pertandingan yang menentukan. Sampai jumpa!" Sesudah berkata begitu, tubuh Beni berkelebat dan lenyap dari tempat tersebut meninggalkan korbanya yang masih terikat.

__ADS_1


__ADS_2