
"Ha ha ha he segitunya harapan, yang kau minta Lan, kenapa tidak berharap yang lebih baik dari itu" Tika tertawa, merasa apa yang di lakukan Fhadlan itu lucu tapi ada benarnya.
"Habis Fhadlan harus mengharapkan apa mba?" tanya Fhadlan.
"Kan bisa mengharapkan sesuatu yang menjadi cita cita Fhadlan di masa depan, punya pekerjaan dengan penghasilan tinggi, istrinya cantik, setia sholehah lagi, pokoknya kehidupan yang membahagiakan" ucap Tika.
"Iya mbak.. kan Fhadlan bisa coba dari sekarang, lagian untuk urusan jodoh waktunya masih lama yang perlu jodoh itu mbak Tika" ucap Fhadlan.
Tika mengalihkan pembicaraannya saat Seorang pelayan menghampiri kamar Tika lalu memberi tahu Tika dengan sopan.
"Jeng Tika sudah di tunggu paman Danu" ucap pelayan.
"Iya bik.. ayo Fhadlan kita berangkat" ajak Tika.
Setelah berpamitan dengan para pelayan rumah, Romo Adiwilaga, RA Atmariani, Tika dan Fhadlan di antar oleh Paman Danuwarsa ke bandara Jogjakarta. Jam 8 pagi mereka mulai masuk area ‘boarding pass’, yang telah ada petugas check-in untuk meneliti calon penumpang pesawat. Yang mana calon penumpang meski menunjukkan tiket dan bukti identitas diri KTP.
Setelah itu masuk ke pemeriksaan, baik barang bawaan maupun orang, semua barang masuk mesin pemindai/scan, termasuk barang elektronik, gadget, aksesoris dari logam. Dan dua kali pemeriksaan ini dilakukan.
"Wow pemeriksaannya berlapis yaa mbak" ucap Fhadlan saat merasa takjub dengan semua proses naik pesawat.
"Hmmmm….Ndeso…katrok …. Fhadlan" cibir Tika.
"Jeng Tika maklumi aja nduk.. adikmu Fhadlan kan baru ini naik pesawat, boleh jadi naik pesawat terbang menjadi hal yang biasa saja bagi jeng Tika, tapi bagi adikmu, naik pesawat untuk yang pertama kali pasti merupakan satu hal yang luar biasa lo" ucap Romo Adiwilaga.
Setelah semua clear saat nya ‘boarding-pass’, mendata penumpang dan mencetak/ print tiket. Setelah-nya menuju ruang tunggu. Yang mana diminta berada di ruang tunggu 40 menit sebelum jadwal keberangkatan. Namun mereka hanya menunggu sekitar lima belas menit pesawat lepaslendas menuju Jakarta.
Waktu terbang sudah tiba, ada panggilan suara dari petugas bandara untuk menuju pesawat, melalui pintu gerbang/gate yang telah di tentukan di e-tiket. Para penumpang berbaris menuju gate kembali ada petugas dari maskapai melihat dan menyobek sebagian dari tiket.
__ADS_1
Para penumpang antri melalui gate yang telah ditentukan, begitu keluar dari ruang tunggu suara bising pesawat yang sedang ‘stasioner’ begitu memekakkan telinga. semua penumpang termasuk RM Adiwilaga sekeluarga menuju pesawat yang telah ditentukan.
Fhadlan sepertinya menang katrok, semua di perhatikan dan di komentari, saat masuk ke dalam pesawat fhadlan menyalami dua pramugari yang menyambut mereka.
"Haaa haa... Semoga penerbangan adek menyenangkan" tawa sang pramugari yang di salami Fhadlan.
"Tepat duduk penumpang pesawat, mirip dengan tempat duduk saat naik bus.. ya mbak" komentar Fhadlan memperhatikan. Kursi berderet dan berjejer, berderet kebelakang, berjejer 3 – 3 dalam setiap barisnya.
"Iya Lan, Jarak antar kursi pun sama seperti di bus standar. Seperti halnya Bus angkutan lain, setiap baris ada jendelanya , tapi dipesawat bentuknya oval dan kecil terdiri dari dua lapis kaca, jadi bisa melihat luar. Jika ingin menikmati atau mengetahui keadaan diluar pesawat saat di udara, pilihan duduk dipinggir adalah yang terbaik" jelas Tika.
"Kalau begitu Fhadlan di pinggir ya mbak. ya... ya... ya.." ucap Fhadlan langsung ambil posisi tempat duduk pinggir.
"Dadar ndeso..." kembali Tika mencibir melihat tingkah Fhadlan.
"Biarin we... " ucap Fhadlan yang saangat menikmati perjalanannya.
Deru mesin semakin kencang seiring melajunya pesawat semakin kencang.
"Wuuush…." pesawat melesat meninggalkan bandara Adisutjipto Yogjajarta.
Seiring melesatnya pesawat naik meninggalkan bumi, Fhadlan merasa dihempas kebelakang, seperti diayun seperti saat naik ayunan. Pesawat terus naik dan naik bahkan berasa menukik, yaa seperti kendaraan darat saat melewati jalan tanjakan, saat naik ditanjakan.
Setelah pesawat sudah berada di posisi datar, pesawat seakan berhenti, hanya awan yang berlalu…pelan-pelan….
"Oh begini toh rasanya naik pesawat….yaa seperti naik bus juga ya mbak" ucap Fhadlan.
"Iya Lan hanya saja lebih terasa tanpa guncangan, mungkin karena cuaca cerah kali yaa…hanya sesekali terdengar buangan gas dari sisi belakang" sambung Tika.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam perjalanan kembali pilot mengumumkan para penumpang untuk siap-siap mendarat, seperti halnya saat lepas-landas, penumpang diwajibkan untuk mengenakan sabuk pengaman.
Tika sedikit tegang pesawat mulai menukik ke bawah dan terus menukik serta berkurangnya laju pesawat, dan pesawat mendarat dengan lembut.
"Alhamdulillah" ucap Tika saat mereka sampai di bandara udara Halim Perdana Kusuma Jakarta.
****
Di Jakarta mereka cek in di sebuah holtel yang bergaya Keraton, sebuah hotel yang berdiri di dalam kompleks perkantoran dan pusat perbelanjaan serta berdekatan dengan permukiman warga.
Hotel yang sepertinya di peruntukkan bagi persinggahan Sultan dan bangsawan Keraton, namun hotel ini juga di peruntukkan bagi orang orang umum. Fasilitas hotel ini memang dapat membuat tamu serasa menginap di tempat kediaman ratu dan raja. Bukan cuma suasana yang tenang, tidak riuh seperti kebanyakan hotel besar, namun Hotel ini juga membawa nuansa khas Indonesia ke dalam kamarnya.
Mengambil konsep istana Keraton, Hotel ini melekatkan ornamen-ornamen Jawa pada interiornya. Mulai dari bagian lobi hingga kamar, terdapat simbol-simbol yang khas dengan Indonesia.
Masuk ke dalam kamar-kamar, tamu akan kembali menemukan simbol-simbol khas Indonesia lainnya. Seperti yang ditunjukan lewat kain ataupun ornamen dinding di atas kasur.
Setiap kamar untuk bangsawan Keraton dapat disebut sebagai suites karena ukurannya. Kita akan merasakan kamar hotel yang sangat berbeda karena luasnya yang mencapai 140 meter persegi. Romo Adiwilaga bersama istrinya menempati kamar ini, sedangkan Tika dan Fhadlan di siapkan kamar yang lebih kecil.
Selama di hotel Fhadlan merengek pada romo Adiwilaga untuk mencari abi dan uminya, namun romo Adiwilaga tidak pernah pemperbolehkan. Sampai dua hari Fhadlan merengek namun tak berhasil mendapatkan izin romo Adiwilaga. hingga hari ketiga saat romo Adiwilaga akan bertolak ke Amerika, Fhadlan masih saja merengek.
"Romo.. boleh lah ya Fhadlan jalan jalan keluar mencari abi dan umi Fhadlan" rengek Fhadlan pada romo Adiwilaga.
"Tidak boleh ... ingat Fhadlan itu sedang di cari cari orang jahat tau" ucap romo Adiwilaga.
"Aiiiih romo boleh la ya ... tolong izinin Fhadlan, hu hu hu" akhirnya Fhadlan menangis sejadi jadinya hingga tertidur dikamar romo Adiwilaga.
RA Atmariani sangat kasian lihat Fhadlan merengek selama tiga hari tak bosan bosanya, di elusnya kepala Fhadlan lalu berbaring di samping Fhadlan ikut meneteskan air mata.
__ADS_1