
"Sepertinya lembaran pertama buku ini mengisahkan proses kelahiran sebuah pemeritahan, di bawah pimpinan eyang Esis, sebagai pemerintahan pertama di Negeri Al Hind bisa jadi juga pemerintahan pertama di dunia" ucap pak Sukarjan.
"Lembaran kedua mengisahkan pememerintahan yang berdasarkan musyawarah, ini idiologi tertua yang pernah ada. tidak salah lagi model pemerintahan inilah yang telah mengakar di kerajaan kuno di nusantara yang di tuangkan dalam adat istiadat di nusantara sepertinya bersumber dari buku yang sama, hanya ada perubahan tiap masuknya agama baru" pak Sukarjan mencatat opininya sendiri di bawah terjemahan buku yang baru saja di bacakan Fhadlan.
Dengan tekun Fhadlan menterjemahkan lembar demi lembar kemudian di catat kembali oleh pak Sukarjan. Lembar berikutnya berisi tentang hukum hukum, kewajiban dan pantang larang, hukum halal dan haram, serta batasan-batasan hukum-Nya.
Batasan batasan yang di gunakan sebagai jati diri raja dalam mengatur rakyat nya. Sebuah jati yang tak bisa di ubah, dimana jika terjadi perubahan atau di tinggalkan maka kutuk akan melanda seluruh negri.
Juga di ceritakan kalau pengganti raja haruslah mereka yang baik bersih dari kezoliman. Raja di haruskan tidak saja menjadi orang baik tapi harus mendarah dagingkan jati dirinya. Jika raja mengingkari jati dirinya maka kutuk akan menimpa dirinya dan keluarganya.
"Wah jadi presiden tidak cukup dengan baik ya om. tapi juga harus memiliki jati diri yang benar" ucap Fhadlan.
"Iya Lan, sepertinya sudah berlaku aturan alam semenjak dulu, jika raja alim kerajaan ajan makmur jika raja zolim kerajaan menjadi hancur" timpal pak Karjan.
"Fhadlan mau jadi presiden?" tanya pak Sukarjan.
"Bukan Fhadlan om, tapi Tatang cita citanya ingin jadi Presiden, nanti biar Fhadlan kasih tau kalau presiden harus baik dan memiliki jati diri yang benar" ucap Fhadlan.
Dalam lembaran pantang larang memperlihatkan gambar alam hawa nafsu yang tunduk pada hukum karma. Beberapa larangan yang di gariskan pada masyarakat berupa, berzina, membunuh, mencuri, mempitnah, meracun, merampas milik orang lain, dan melanggar adat yang berlaku.
"Luar biasa kitab ini seperti induk dari seluruh hukum di dunia, mungkin di tulis sezaman dengan kitab hanok yang di tulis oleh Nabi Idris" decak kagum pak Sukarjan.
"Dulu om mengira kalau buku buku kuno hanya di tulis di zaman kerajaan kediri seperti buku Mahabarata, Arjuna waha, buku ramamalan Jaya Baya yang di tulis di atas daun lontar" ucap pak Sukarjan
__ADS_1
Fhadlan meneruskan terjemahannya.
"Akhir kisah di ceritakan kehancuran negeri saat penduduknya sudah di perbudak hawa nafsu, perkawinan sedarah yang dulunya di larang sekarang mereka langgar dengan alasan sama sama cinta."
"lalu sebuah karma kutukan melanda negeri di mana penduduk melahirkan kembar berpasangan dengan salah satunya memiliki pisik sangat kecil. dengan keadaan ini perkawinan kembali terjadi secara silang Anak yang bertubuh besar tak mungkin menikahi saudaranya yang kerdil, mau tak mau saudaranya yang kerdil akan menikah dengan sepupunya yang kerdil juga.
"Sekalipun pisik Mereka yang melahirkan kecil tapi dia punya keunggulan dalam kecerdasan dan menguasai banyak keahlian. Dari perkawinan keturunan manusia kecil ini lah yang menghukum kezoliman penguasa, dan menyelamatkan orang orang yang masih berpegang pada ajaran eyang Esis dan menyelamatkan kan mereka dari murka yang maha kuasa" ucap Fhadlan.
"Ingat Lan ini sebuah pelajaran yang sangat berharga, kalau sejarah suatu bangsa selalu bersiklus, berawal dari penguasa yang taat pada tuhan, dan berakhir pada raja yang zolim, di mana Tuhan menghancurkan Negeri mereka lalu di selamatkan sebagian orang yang beriman untuk di jadikan penguasa berikutnya dengan bangsa dan negeri yang baru" ucap pak Sukarjan.
"Kalau begitu semua bangsa di dunia akan hancur om, lalu bangsa yang baru akan memulai kehidupan dengan sistem pemerintahan yang baru pula kan?" tanya Fhadlan.
"Kamu benar, itulah siklus dalam dunia termasuk di indonesia, Kediri misalnya hancur di gantikan Sigosari setelah mereka zolim Sigosari hancur di gantikan Majapahit dan seterusnya" ucap pak Sukarjan.
Setahun sudah Fhadlan bergelut dengan buku buku kuno brsama pak Sukarjan buku terakhir yang mereka terjemahan adalah ramalan prabu Jaya Baya tentang jedazangan ratu adil, Dalam kitab tersebut terdapat bait yang berbunyi “Prabu tusing waliyulah,kadhatone pankekaling ing Mekah ingkah satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, prenahe iku kaki, perak lan gunung Perahu, sakulone tempuran, balane samya jrih asih, iya iku ratu rinenggeng sajagat.”
(Raja keturunan waliyulah, berkedaton dua d Mekah dan Tanah Jawa, letaknya berada dekat dengan Gunung Perahu sebelah barat tempuran (pertemuan dua sungai), dicintai pasukannya, memang Raja yang terkenal di dunia)
Tertulis bahwa sang Ratu Adil di masa yang akan datang adalah orang Jawa dari keturunan Kerajaan Majapahit yang akan muncul saat kendaraan besi dapat berjalan tanpa kuda, dan kapal dapat menjelajah langit dan angkasa. Dalam ramalan itu juga dikatakan bahwa Ratu Adil akan menghadapi masa sulit, penghinaan dan kemiskinan. Namun masa itu akan terlewati karena ketulusan dan keteguhan hatinya.
Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa saat ini merupakan zaman edan atau era kegelapan, seperti yang diramalkan Jayabaya. Oleh karena itu kedatangan Ratu Adil diprediksi sudah dekat dan akan membawa negeri ini menuju ke masa kejayaan baru.
"Ini seperti ada kemiripan dengan ramalan tentang imam mahdi dalam islam, di sini di sebut juga kalau Ratu Adil memerintah dari Makah dan jawa atau mungkin remalan prabu Jayabaya bersumber dari islam" ucap pak Sukarjan
__ADS_1
"Siapakah sosok sang Ratu Adil yang akan datang itu om?" tanya Fhadlan sangat tertarik.
"Dalam buku lain di sebutkan kalau ratu adil merupakan penguasa terakhir dari tanah Jawa, bisa jadi sebagai penguasa pertama dengan Negara baru dengan wilayah dari Indonesia hingga Arab Saudi, dia selalu membawa senjata trisula wedha dan pedang pasutren yang sangat tajam" jawab pak Sukarjan.
"Apa tidak di tangkap polisi dia om, masak ke mana mana bawa pedang" tanya Fhadlan.
"ha ha ha kamu cerdas juga Lan, tapi kamu harus mengerti, terkadang tulisan memiliki makna tafsir, atau bukan makna seperti yang tertulis, mungkin saja Pedang pasutren yang tajam menggambarkan sifatnya yang gagah berani menantang kezoliman" jelas pak Sukarjan.
"Trisula bermata tiga bisa jadi kepribadian yang dia punya, sebagai senjata dalam memerintah misalnya berupa tiga jenis kesaktian atau kekeramatan"
"Dalam buku sebelumnya telah di singgung tiga kesaktian berupa kesaktian kepercayaan (Agama), Kesaktian Ahlak atau emosional dan kesaktian ilmu atau teknik"
"Bisa jadi trisula wedha memiliki Arti tafsir yang menggambarkan Ratu adil itu sangat religius, berahlak terpuji dan menguasai ilmu teknologi" ucap pak Sukarjan.
Tiba tiba Fhadlan ingat satu kejadian setahun yang lalu saat pertama masuk sekolah.
"Om dulu... Fhadlan pernah berkelahi dengan teman sekelas namanya Linggo Bramantio Kawisworo, apa mungkin dia ratu adil om" tanya Fhadlan.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya pak Sukarjan.
'Soalnya dia punya cita cita ingin jadi presiden, dan menurut ibu guru namanya cocok dengan ramalan prabu Jaya Baya" ucap Fhadlan.
"Lho kan banyak nama yang cocok dengan ramalan, nama kamu mahendra juga bisa di cocokkan" ucap pak Sukarjan.
__ADS_1