
Setelah seharian bersama Tika Fhadlan mulai merasa akrab, sikap Tika yang sangat familer membuat Fhadlan punya harapan untuk melanjutkan hidupnya di masa depan.
"Kamu pernah ke keraton Lan" tanya Tika saat mereka melewati gerbang keraton.
"Blum pernah mbak.... emang keraton itu apa Mbak? Fhadlan balik bertanya.
"Keraton Yogyakarta adalah tempat tinggal Sultan, sebuah kompleks besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan kosmologi Jawa. Dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I secara bertahap hingga selesai tahun 1790. Kraton juga merupakan musium hidup tentang budaya Jawa di sini kamu bisa mempelajari attefak kuno atau beberapa budaya Jawa dari zaman kerajaan" jelas tika.
Dengan penuh kasih sayang tika nembawa Fhadlan menyusuri kraton, hingga Fhadlan benar benar merasa frees bersama tika. Keraton Jogja dibangun menghadap langsung ke arah utara Gunung Merapi. Di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia yang diyakini sebagai tempat tinggal Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan dan dianggap sebagai permaisuri mistis Sultan.
Sebuah alun-alun menghadap istana dengan pohon beringin besar di tengahnya, sementara di belakang istana juga terdapat alun-alun serupa.
"Paviliun Kompleks Keraton Yogyakarta dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang luhur" Tika seperti mengerti keheranan Fhadlan selama menjelajahi kraton, tika lalu menjelaskan semua lambang dan pitur komplek istana.
Memang Paviliun Kompleks Keraton Yogyakarta dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang luhur.
"Ketika berada Keraton, Fhadlan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya tetap dilestarikan di tengah laju perkembangan dunia" ucap Tika saat Fhadlan berhenti memperhatikan pertunjukan seni di alun alun.
“Istana ini dirancang lebih dari sekedar tempat tinggal kerajaan tetapi juga untuk menjadi titik pusat dari kegiatan sultan. Ia menjadi penjaga nyala kebudayaan Jawa,” kata Tika seperti layaknya Pemandu Wisata yang biasa membawa turis menjelajahi kraton Jogja.
Srtelah puas berkeliling keraton Dari Utara ke selatan area Keraton Yogyakarta, mulai dari Alun-alun Utara, Siti Hinggil Utara, Kemandhungan Utara, Srimanganti, Kedhaton, Kemagangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil Selatan dan Alun-alun kidul. Tika membawa Fhadlan ke sebuah rumah mewah masih di lingkungan kraton.
Saat Fhadlan memasuki rumah mewah dia merasakan suasana yang sejuk dan tenang, tempat yang jauh dari terlepas dari panas, keramaian, dan hirup pikuk dunia luar.
Di pintu masuk mereka di sambut oleh sepasang suami istri yang berpakayan selayaknya bangsawan kraton Jogjakarta. Mereka adalah Raden Mas Adiwilaga dan Raden Ayu Atmariani ayah ibunya Atika.
"Raden Ayu Pratista Maktika sudah pulang kamu tambah cantik lo nduk" ucap ibu Atmariani memeluk Tika.
"Ini pasti nak Fhadlan ya" ucap Raden Mas Adiwilaga mengusap kepala Fhadlan.
__ADS_1
Fhadlan hannya menggangguk.
"Yah kalian mandi dulu, sebentar lagi kita makan malam bersama" ucap Raden Mas Adiwilaga.
Tika membawa Fhadlan ke kamarnya, di mana ayah ibunya sudah mempersiapkan semua keperluan mereka di kamar Tika.
"Fhadlan mandi dulu gih" Atika menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar Tika.
"Iya mbak" icap Fhadlan nurut.
****
"Tok tok tok" Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Tika.
"Raden Ayu Tika sudah di tungu Romo di meja makan" ucap pelayan.
"Baiklah Tika ganti baju sebentar" ucap Tika.
"Up... tunggu romo dulu Lan,.." ucap Tika mencegah Fhadlan.
"Dasar udik" ucap Tika dalam hati.
Raden Mas Adiwilaga mengambil nasi, di ikuti Raden Ayu Atmariani lalu Atika dan terakhir barulah Fhadlan.
"Up... tunggu dulu Lan.. tunggu instruksi romo dulu" kembali Atika menghentikan gerakan Fhadlan
"Ayo baca doa sebelum makan" ucap romo lalu membaca doa sebelum makan di ikuti yang Lainnya.
"Ayo nak Fhadlan .. Ayo semua makan, nak Fhadlan makannya dihabiskan" romo mempersilahkan mereka makan di awali dengan dia sendiri.
__ADS_1
"Nak Fhadlan sudah berapa Lama tinggal bersama pak Sukarjan?" tanya Raden Mas Adiwilaga.
"Setahun lebih Romo" jawab Fhadlan tadi diajari mbak tika memanggil romo pada Raden Mas Adiwilaga.
"Pak Sukarjan adalah teman kuliah Romo, Kalau lagi bertugas di Jogja pak Sukarjan pasti mampir di rumah romo. Makanya atika romo minta melihat keadaan pak Sukarjan saat membaca berita kalau beliau tewas tertembak sindikat pemburu pusaka ratu adil" cerita romo.
"Romo juga dapat kabar kalau para sindikat pemburu harta pusaka ratu adil sedang memburu Anak angkat pak Sukarjan, syukurlah Raden Ayu Pratista Maktika bertemu Fhadlan, sekarang adalah kewajiban Romo untuk melanjutkan kewajiban pak Sukarjan. Sekarang Romo akan menggantikan pak Sukarjan sebagai ayah angkat Fhadlan"
"Bagaimana kamu bersedia?" tanya romo pada Fhadlan.
"Iya Romo ... Fhadlan bersedia, Fhadlan juga berterima kasih akan kebaikan romo?" ucap Fhadlan terharu.
"Ok kalau begitu mulai sekarang kamu tinggallah di sini, Kamu jagan kuatir Insyaallah kamu aman di lingkungan kraton, nanti romo juga akan urus supaya kamu bisa sekolah di kraton" ucap romo.
"Pak Sukarjan diam diam mengirimkan beberapa terjemahan buku kuno tentang negri Eyang Esis pada romo, sekarang sudah romo cetak menjadi buku untuk koleksi perpustakaan Romo"
"Sayangnya semua buku di rumah pak Sukarjan ikut musnah pasca, kematian beliau, Romo sangat berminat untuk mengkoleksinya" ucap romo.
Raden Mas Adiwilaga merupakan doktor arkeologi seperti pak Sukarjan. Beliau bekerja di Balai Arkeologi Jogja, sebagaimana pak Sukarjan mereka adalah teman akrab semasa kuliah dan teman seperjuangan saling berbagi saling bantu dalam profesi mereka.
"Apa romo juga menterjemahkan buku buku kuno seperti pak Sukarjan?" tanya Fhadlan.
"Iya Lan, sekarang romo sedang merintis sebuah program Arkeologi digital di mana semua temuan arkeologi kedepannya bisa di akses melalui internet, sehingga generasi Fhadlan nantinya tidak harus ketergantungan pada pak Sukarjan, pada Romo atau pada ahli arkeologi lainnya" ucap romo.
"Nanti Fhadlan bisa bantu romo seperti membantu pak Sukarjan, secara diam diam pak Karjan mu membuat kerjasama untuk nenyingkap sejarah Indonesia, zaman kuno yang mungkin ada hubungannya dengan pusaka ratu Adil yang sedang di buru banyak pihak"
"Kamu sudah baca kalau enam ratus ribu tahun silam di Indonesia sudah berpenghuni. Lalu temuan sejarah seperti menghilang dan timbul kembali setelah zaman sejarah, Seolah ada zaman kosong di tengahnya" kata Romo.
"Kalau menurut pak Sukarjan setelah zaman pemerintahan eyang Esis, ada sebuah bangsa yang sangat makmur menguasai negri ini. Mereka Ahli ilmu pengetahuan, mereka memiliki bermacam profesi yang mungkin lebih maju dari sekarang" sambung Fhadlan mulai nyambung dengan cerita Romo.
__ADS_1
"Kata pak Sukarjan bangsa inilah yang di maksud sebagai pewaris pusaka Ratu Adil, dan newariskan harta yang tidak akan habis selama tujuh turunan sekalipun di bagikan merata pada penduduk Indonesia saat ini" ucap Fhadlan.