
"Kalau begitu kita harus hati hati, Mbak juga merasa kurang nyaman dengan perlakuan mereka, coba lihat temannya yang mirip turunan toghoa, juga selalu mencuri pandang kearah kita" timpal Tika.
"Yang mana mbak?" tanya Fhadlan.
"Itu yang memakai jubah dokter, mungkin tim kesehatan mereka" ucap Tika.
Fhadlan memperhatikan orang yang di maksud Tika, kembali Fhadlan merasa kaget karena memang wajahnya tidak asing bagi Fhadlan.
"Om yang itu... seingat Fhadlan adalah om wijaya yang dulu satu mobil dengan kami saat menuju gunung Kawi, lalu saat mobil kecelakaan kami sama sama di rawat di rumah sakit pada ruangan yang sama" ucap Fhadlan.
"Hmmmmm sepertinya ini bukan kebetulan tapi direncanakan dek" Tika makin curiga dengan kejanggalan pembawa acara yang di adakan oleh Balqis Kingdon.
Selanjutnya terlihat Giza di dampingi seorang pemuda tampan memasuki ruangan, pemuda yang tadi mereka lihat di rumah makan. Sejenak pemuda tampan tersebut memperhatikan Fhadlan dan Tika, lalu seperti sengaja menghindar mereka memilih tempat duduk agak jauh dari mereka.
Setelah Giza di dampingi pemuda tampan masuk dan mengambil tempat duduk mereka, Beni pun mulai memandu acara.
"Sebelum acara diskusi tentang kitab peninggalan raja kediri kita mulai, sebelumnya mari para tamu undangan silahkan makan snack dan minum teh dulu" ucap Beni membuka acara.
Semua peserta mengambil minum masing masing, mereka minum teh sembil mengenalkan diri masing masing.
Akhirnya tiba giliran pemuda tampan di samping Giza mengenalkan diri.
"Ini acara apa sih perayaan tahun baru, atau ada acara yang punya agenda terselubung?" tanya pemuda tersebut.
Mendengar ucapan pemuda tersebut, Beni, Linggo dan juga Wijaya mengikuti pandang mata pemuda itu ke arah Giza, Lalu semua memandang kepada Linggo yang berdiri dengan muka pucat memandang ke arah pemuda yang seperti mengetahui rencana mereka.
__ADS_1
Beni tertawa terkekeh-kekeh, mencoba mencairkan suasana. "Ha ha ha ha! kami memang merayakan tahun baru, tapi dalam hal ini kita mencoba membuat acara yang lebih bermanfaat dengan mengenal sejarah yang ada di Nusantara".
Akan tetapi pemuda tersebut tidak terlihat terhibur apalagi gembira. Sebaliknya dia berdiri terbelalak dengan muka pucat dan sikap penuh kengerian karena pada saat itu Giza terlihat terkulai lemas di tempat duduknya.
"Kau...! Kau...! Kau kalian semua terkutuk...!" teriak pemuda ini mengeluarkan lengking mengerikan menunjuk beni dan Linggo bergantian.
"Lihat apa yang kalian lakukan terhadap adik saya" pemuda itu menunjuk pada Giza yang sudah tak sadarkan diri.
Sejak tadi Beni sudah diliputi perasaan ngeri mengingat sikap dan pandang mata pemuda tersebut tak ubahnya seperti harimau terluka. Sebaliknya begitu melihat Giza roboh dalam keadaan pingsan, Wijaya bertindak sebagai dokter lalu bergegas meneriksa nadi Giza.
“Dia cuma kelelahan... Mari saya bawa ke ruang kesehatan...!" ucap Wijaya penuh semangat
"Braak.. " Tika juga menggebrak meja semua gelas teh di mejanya terpental berhamburan.
"Apa yang kalian lakukan ini? kalian meracuni teh hendak membunuh kami? Lihat apa yang terjadi dengan adik saya?" Bentak Tika saat melihat Fhadlan juga tergeletak lemas setelah meneguk tehnya.
Wajah Linggo berseri-seri ketika dia mebemukan dab mengambil kalung di balut kain merah dari leher Fhadlan lalu memasukan ke dalam kantongnya. Sementara Beni masih sibuk memeriksa lengan Fhadlan mencari ajimat yang biasanya di pakai sebagai gelang di lengan.
"Hmmm, sepertinya dia juga kelelahan Mbak, ntar gua panggil tim kesehatan" ucap Linggo keluar ruangan
Wijaya sudah membopong Giza ke kamarnya, tidak mempedulikan lagi apa yang terjadi di ruang tersebut. Setelah wijaya membaringkan Giza di kamar nya, tak lama kemudian Giza sudah sadar kembali, akan tetapi dia menjadi kaget saat menyadari Wijaya berusaha membuka bajunya, sambil menggerayangi tubuhnya dan mengecup lehernya dengan penuh nafsu.
Giza mengangkat muka, ia memandang ke arah Wijaya dengan sinar mata penuh ketakutan seolah-olah sedang dalam terkaman harimau lapar.
"Tolong ... rintih" Giza lemah hampir seperti berbisik.
__ADS_1
"Ha-ha-ha-ha-ha, wanita yang cantik seperti bidadari! Tidur pun manis, sadar lebih cantik, Ha-ha-ha-ha, nona manis calon isteriku, kecantikanmu sudah membuat aku setengah mati! Marilah, manis, kau obati aku, kalau tidak aku bisa mati di depan kakimu karena menahan nafsu. Ha-ha-ha!" Wijaya kembali menubruk maju seperti seekor harimau kelaparan, menerkam Giza remaja yang cantik jelita.
"Braak" Pemuda tampan yang tadi mendampingi Giza menggebrak pitu kamar, saat mendengar tawa dari kamar di mana Wijaya tadi membawa Giza.
"Bangsat.. kalian semua bajingan kau apakan adik saya" teriak pemuda tersebut sangat marah saat melihat Wijaya bukannya mengobati Giza, tetapi malah sedang menciumi Giza dengan sangat nafsu.
Giza memandang ke arah Pemda tampan dengan lemah, tubuhnya sudah lumpuh terkena obat yang di berikan Wijaya. Giza yang tak berdaya tak bisa lagi menahan tangisnya, matanya menjadi merah sekali, air matanya mengalir membasahi pipinya. Mulutnya berucap seperti berbisik penuh ketakutan "Kak tolong Giza..."
Pemuda tersebut, hatinya makin menjadi panas saat mendegar rintihan Giza, ia segera menyerbu sabil berseru nyaring, "Dasar bajingan... Bukannya nau ngobati tapi malah mau memperkosa"
Wijaya menundukkan muka, saat menyadari pemuda kakak Giza sudah berada di kamarnya lau berkata.
"Maaf pak saya harap tingalkan ruangan ini biar saya leluasa mengeluarkan racun dari tubuh adik tuan"
"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kalian tipu heh" kembali sang pemuda membentak lantas tangan kanannya digerakkan menampar Wijaya dengan keras. Gerakannya sangat cepat dan mengandung tenaga dalam yang kuat sekali.
Akan tetapi Wijaya juga bukan orang lemah. Melihat datangnya tamparan ini, dia segera menggerakkan tangan kirinya menangkis.
"Plakkkk!"
Dua buah lengan saling bertemu dan akibatnya pemuda tersebut terdorong mundur selangkah, sedangkan Wijaya juga terdorong sampai tiga langkah dan berhenti setelah menabrak dinding kamar. Pemuda ini mengerutkan keningnya, saat nenyadari ternyata lawanbya memiliki kepandaian yang tidak rendah.
"Tidak perlu engkau mengurus adikku, dasar dokter bejat" pemuda ini kembali membentak lalu kembali menerjang ke arah Wijaya, sekali tangannya bergerak, tardengar swiran angin sangat kencang bersamaan dengan pukulan yang menggarah ke dada Wijaya.
Wijaya cepat-cepat menangkis, bahkan dia melanjutkan tangkisan dengan pukulan mengarah ke ubun-ubun lawan.
__ADS_1
"Iih" Wijaya menjerit saat menyadari gerakan pemuda ini lebih cepat, maklum akan bahaya maut ini maka cepat menangkis sekuat tenaga. Namun tetap saja dia merasa betapa tangan kanannya kesemutan sehingga dia cepat-cepat meloncat mundur.