FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 7


__ADS_3

Dorongan Fhadlan sangat menyakitkan bagi umi Sarah, tapi lebih menyakitkan lagi sikap Fhadlan yang sangat takut dan membencinya. Sebuah kenyataan yang memberikan pukulan batin yang hebat untuk umi Sarah dan Abu Daud.


Pukulan batin yang membuat umi sarah hilang semangat, pukulan batin yang membuat umi Sarah merasa berdosa, pukulan batin yang membuat umi Sarah merasa tertekan dan menyesali nasibnya. Umi Sarah merasa hatinya bagai di sayat sayat sembilu saat mendapati Fhadlan, tidak ingin melihatnya.


"Maafkan umi nak, umi salah, umi tidak akan meyia nyiakan Fhadlan lagi" ratap umi Sarah.


Fhadlan bukannya iba malah lari menghambur ke pelukan Perdinan.


"Sama abi aja nak Lan nya ya" ucap Abu Daud juga berusaha mememeluk Fhadlan, tapi malah Fhadlan nangis sangat kencang seperti ketakutan, mencoba melepaskan diri dari genggaman abu Daud, Fhadlan lari kembali ke kamar Sherina memnyeret abu Daud hingga dua meter sebelum genggamannya terlepas.


Luar biasa tenaga yang di miliki Fhadlan bagai kerasukan roh yang sangat kuat, menyeret ayahnya hingga dua meter, suatu yang di luar logika mereka yang menyaksikan. Perdinan dan Sherina melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Abu daud dan umi Sarah sebaiknya urungkan dulu niat kalian membawa Fhadlan, kalian kan tau sudah dua tahun Fhadlan bersama Perdinan dan Sherina tampa pernah melihat orang tua kandungnya, tentu sangat sulit baginya untuk menerima kalian yang masih sangat asing baginya" ucap kakek Ammar sambil melinting rokoknya.


"Apa.. ?" jerit umi Sarah air matanya masih mengalir deras, rasa duka bertambah menyesak di dadanya saat mendengar ucapan kakek Ammar.


"Maksud kakek, kalian mulai dulu mencoba mengakrabkan diri dengan Fhadlan setelah Fhadlan merasa akrab barulah kalian membawanya pulang" ujar kakek Ammar memberi saran.


"Paman benar tenaga Fhadlan kuat sekali saya ayahnya tak kan mampu memaksanya, seharusnya kami mencoba mengakrabkan diri dulu dengan Fhadlan barulah membawanya pulang" kata abu Daud.


"O ya Perdinan dan Sherina terima kasih telah merawat anak kami" kata abu Daud.


"Sama sama pak abu Daud maaf juga atas perbuatan Fhadlan telah menyakiti kalian, kami tak pernah mengajarkan untuk membenci orang tuanya. Saya juga baru menyaksikan betapa dahsyatnya kekuatan Fhadlan saat ngamuk" ucap Perdinan.


Demikianlah Abu Daud dan Umi Sarah pulang dengan tangan hampa, dan berjanji akan mengunjungi Fhadlan setiap akhir minggu untuk membiasakan Fhadlan bersama mereka.


****


Sherina Memiliki kesibukan di warung manisan di rumahnya, Sherina dapat membuka warung melalui bantuan modal dari umi Sarah. karena letaknya yang strategis warung Sherina cukup laris, sehingga perhatiannya terhadap Rania dan Fhadlan makin berkurang.

__ADS_1


Rania dan Fhadlan lebih banyak bersama kakek Ammar di banding bersama Sherina, khususnya Fhadlan bahkan tiap malam Fhadlan tidur di kamar kakek Ammar. Perhatian kakek Ammar juga lebih banyak terhadap Fhadlan, kasih sayangnya seperti tumpah pada Fhadlan. Hingga Fhadlan makin lengket dengan kakek Ammar bahkan setelah enam bulan berlalu Fhadlan belum juga ingin bersama orang tuanya masih betah brsama kakek Ammar.


Kakek Ammar dulunya adalah praktisi ilmu silat dari perguruan silat Hulu Tembesi yang di segani di wilayah Kota Tapus, namanya sebagai pendekar bahkan di kenal di berbagai daerah di Sumatra. Kakek Ammar melihat bakat yang sangat besar dalam diri Fhadlan, sehingga timbul keinginannya untuk mengajari Fhadlan dasar dasar ilmu silat.


Hari itu Fhadlan dan Rania asik main di pekarangan belakang rumahnya di temani kakek Ammar yang selalu setia menjaga mereka.


"Kek kata papa Rania kakek hebat ilmu silat nya, ajari Rania silat dong kek" pinta Rania.


"Ajari Fhadlan juga kek" pinta Fhadlan.


"Tidak zamannya lagi kalian belajar silat, kalian hidup di zaman trendi, lebih banyak di depan hp, komputer dan perangkat internet lainya nantinya" kata kakek Ammar.


"Kalau zaman kakek kenapa harus belajar silat?" tanya Fhadlan.


"Kalau zaman generasi kakek mereka banyak merantau jadi harus bisa silat" kata Perdinan yang kebetulan lewat.


"Kan Fhadlan sebentar lagi mau merantau ke Kota Tapus tinggal di tempat abi dan umi Fhadlan" Fhadlan beralasan.


"Kalau mau belajar silat, maka mulai sekarang kalian harus pangil kakek sebagai guru" kata kakek Ammar.


"Baik kakek guru" kata Fhadlan sudah bersujud di depannya.


"Kakek guru" Rania juga melakukan hal yang sama seperti Fhadlan.


"Panggilan kakek guru terdagar sangat bagus, kakek suka panggilan itu" ucap kakek Ammar makin kagum pada Fhadlan.


Timbul persangkaan terhadap Fhadlan, kalau snak ini bukan anak sembarangan, di samping miliki bakat yang kuat dia juga memiliki kecerdasan yang luar biasa.


"Sekarang kalian sudah menjadi murid kakek ayo kita mulai berlatih" ucap kakek Ammar.

__ADS_1


Demikianlah selama hampir dua tahun melatih Fhadlan dan Rania ilmu silat, dari jurus tangan kosong, jurus pedang, jurus tombak dan jurus tongkat. Semua jurus yang di ajarkan kakek Ammar sudah bisa Fhadlan dan Rania Kuasai dengan baik.


***


Kakek Ammar makin tua dia tidak lincah lagi karena umurnya sudah di atas sembilan puluh tahun. Walaupun kakek Ammar sudah rukuh tak lagi lincah tapi dia tidak pikun. Hari itu dia seperti tak ingin berpisah dengan Fhadlan, wajahnya penampakan kesedihan yang mendalam.


"Cung besok kakek mau merantau jauh tak akan kembali lagi, cucu jaga diri baik baik ya jangan mudah marah terutama terhadap ayuk Rania" ucap kakek Ammar saat mereka sarapan pagi.


"Kalau kakek merantau Fhadlan juga akan merantau mengikuti abi dan umi Fhadlan" kata Fhadlan.


Kakek Ammar terlihat meneteskan air mata, sekalipun dia tidak menangis tapi wajahnya mencerminkan kesedihan yang luar biasa.


"Kakek kenapa sedih" tanya Fhadlan.


Kakek Ammar hanya menunjuk kearah Perdinan dan Haikal anak tertua kakek Ammar, yang sedang sibuk di beranda belakang. Fhadlan menghampiri mereka dan menemukan mereka sibuk dengan sebuah ambung besar (Sebuah keranjang terbuat dari rotan untuk mengangkut barang).


"Buat apa ambung sebesar ini pa?" tanya Fhadlan.


Perdinan tak nengacuhkan Fhadlan terus pokus dengan pekerjaannya.


"Untuk bawa kakek ke kampungnya" jawab Perdinan asal.


"Fhadlan ikut ya pa" pinta Fhadlan.


"Tidak, Fadhlan tidak boleh ikut, tempatnya jauh di hutan" kata Perdinan masih acuh tak acuh.


Saat itu ada kebiasaan penduduk desa tersebut mengsingkan orang tuanya yang telah renta di pondok yang jauh di tengah hutan. Karena adat istadat yang berlaku di desa tersebut, maka kakek Ammar pun mendapat giliran untuk di asingkan.


"Ayo Perdinan kamu sudah siap belum?" tanya haikal.

__ADS_1


"Sudah kak" jawab Perdinan.


Haikal mengangkat tubuh kakek Ammar dan di dudukan di dalam ambung yang baru saja mereka buat. Kakek Ammar meneteskan air mata saat Perdinan mengangkat ambung dan di letakkan di punggung Haikal, untuk memulai perjalan menuju tempat hidup barunya terasing sendirian di tengah hutan.


__ADS_2