FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 13


__ADS_3

Melihat jarum suntik telah tetisi cairan obat bius Rolan makin ketakutan, dengan semua tenaga dia berusaha melepaskan diri dari pegangan pak Herman.


"Tolong ..... tolong..." pekik Rolan seluruh rambutnya terlihat berdiri karena rasa takut yang menguasai nya.


***


Jam Sepuluh pagi di ruang subdit Cyber Crime kapolda Merto Jaya seorang perwira polisi dibantu beberapa intel dan ahli IT Dinas Perhubungan, terlihat mengamati monitor cctv jalan tertanggal hilangnya Fhadlan anak abu Daud. Setelah mengamati perjalanan taxi yang di duga membawa Fhadlan polisi akhirnya mengunci suatu tempat di mana Fhadlan di sekap.


"Pak abu Daud coba amati cctv di layar monitor, apakah bapak melihat keberadaan Fhadlan di sini" kata seseorang ahli IT yang terpaksa meretas sebuah cctv di perumahan elit.


Abu Daud dan umi Sarah yang sengaja di datangkan ke Polda Metro Jaya, menggeser duduknya lalu mulai memperhatikan monitor cctv. Cctv sepertinya di pasang di sebuah teras sebuah rumah, dimana di layar monitor terlihat jalan dan di seberang jalan terlihat pagar sebuah rumah elit yang menghadap kamera. sehingga aktifitas pengguna jalan dan penghuni rumah di seberang jalan sangat jelas terlihat di layar monitor.


Mula mula terlihat beberapa kendaraan lalu lalang, lalu beberapa anak anak keluar dari rumah di depan kamera cctv.


"Ada anak bapak di sini" tanya petugas It menghentikan gambar di monitor.


Abu daud mengamati gambar empat orang anak anak di bimbing seorang ibu muda di monitor terlihat juga di monitor menunjukkan jam kejadian 06.30 WIB. Umi Sarah juga memperhatikan layar monitor memastikan kalau Fhadlan ada di antara mereka.


"Tidak ada pak" umi sarah yang menjawab.


Vidio cctv di lanjutkan dan di percepat lalu terlihat lagi beberapa anak keluar rumah, seperti yang pertama petugas IT kembali menghentikan gambar di monitor.


"Yang ini ada pak... ibuk" tanya petugas IT.


"tidak ada" kembali umi Sarah menjawab.


Petugas kembali melanjutkan vidio cctv, seorang ibu muda keluar rumah, tak lama kemudian tiga orang anak juga keluar rumah, salah satu anak membawa sebuah gitar mini sedangkan yang lain membawa tisu untuk di jajakan.


"Bisa di zoom gambarnya pak" pinta umi Sarah.


"Boleh" ujar petugas memperbesar gambar.


"Ada anaknya bu" tanya petugas.


"Iya itu Fhadlan pak, yang paling kecil itu Fhadlan anak saya" teriak umi Sarah Yakin.

__ADS_1


"Yakin ibu?" tanya seorang perwira polisi.


"Yakin pak" jawab umi sarah mengangguk.


Setelah mendapatkan kepastian dari ibu Sarah, seorang perwira polisi segera memerintahkan beberapa orang personil menuju lokasi. Di layar monitor masih terlihat aktifitas di rumah elit di seberang kamera. Seorang ibu muda kembali terlihat memasuki rumah, selang berapa menit anak yang paling kecil kembali, tak lama kemudian dua anak yang lain juga kembali lalu rumah terlihat sepi kembali.


Jam 9 39 WIB waktu yang di tunjukan di layar monitor terlihat pria setengah baya masuk lalu berhenti di teras, sambil nelepon dia kelihatan hilir mudik dengan gelisah. Lima menit berikut nya sebuah mobil AVV penumpang memasuki pekarangan, dua orang berpakaian dokter keluar membawa kotak yang cukup berat. lalu terlihat seorang ibu muda nembukakan pintu dan mempersilahkan mereka bertiga masuk.


Kembali pemandangan hening, sepi cukup lama hingga di monitor terdengar teriakan dan jerit tangis dari dalam rumah. Beberapa pengguna jalan terlihat berhenti dan mencoba melihat apa yang terjadi di rumah seberang jalan.


"Sepertinya ada yang terjadi dengan mereka" ucap seorang perwira lalu memanggil seorang bawahnya


Seorang polisi mendekati sang perwira lalu memberi hormat,


"Siap komandan" ucapnya.


Sang perwira mengangguk dan memberi perintah.


"Bawa anggota mu ke TKP, jika melihat pelaku kriminal segera tangkap dan amankan semua anak anak yang ada di TKP"


"Pak abu Daud dan umi Sarah.... kalian ikut bersama kami" ucap pak polisi.


Abu Daud dan umi sarah mengikuti pak polisi keluar ruangan Subdit Cyber Crime menuju perumahan elit di mana Fhadlan terlihat di cctv.


****


Suasana di rumah elit tempat Fhadlan dan teman temannya di sekap, menjadi bising oleh jeritan dan tangisan Rolan dan Fhadlan, pengguna jalan dan warga menjadi heboh mereka mulai berkerumun dan sebagian mencoba mencari tau apa yang terjadi di rumah tersebut.


"Tolong... tolong.... " teriak Rolan semakin ketakutan saat pak herman mencoba meringkus tangannya.


Pak Herman yang mulai panik melihat Rolan meronta ronta, meminta ibu Maryani nembawakan lakban untuk memplaster mulut Rolan.


"Maryani ambilkan lakban" pinta pak Herman.


Ibu Maryani melepaskan pegangannya pada Fhadlan lalu mengambil lakban dan menyerahkannya pada pak Herman.

__ADS_1


"Ini pak" ucap Maryani.


Fhadlan yang sangat ketakutan tiba tiba merasakan sesuatu bergerak di tubuhnya, sebuah tenaga dahsyat bergerak dalam tubuhnya kala dia melihat Rolan di tindih pak Herman yang berusaha melakban mulutnya, secara reflek Fhadlan menerjang ke arah pak herman.


"Buuuuk... braaak" tubuh pak herman terbanting dengan keras menabrak meja yang tadi di gunakan untuk operasi Satrio.


"Bang Rolan ayo pergi" kata Fhadlan menarik tangan Rolan.


dokter Fredi yang berdekatan dengan Fhadlan mencoba menghentikan Fhadlan dan Rolan, namun kembali Fhadlan menubruk dan mendorong dokter Fredi.


"Buuuuk" seperti pak herman dokter Ferdi juga terbanting dengan keras, lalu jatuh telentang tak jauh dari pak herman.


Dokter Edy tak tinggal diam segera menangkap tangan Fhadlan namun tenaga Fhadlan kuat luar biasa, tubuh dokter Edy justru terseret oleh Fhadlan hingga ke ruang tamu. Rolan ikut berlari mengikuti Fhadlan yang menyeret dokter Edy hingga keruang tamu sambil terus berteriak minta tolong.


"Tolong.. Tolong... Tolong ada pencuri ginjal" teriak Rolan makin kencang.


"Braak" pintu ruang tamu jebol di dobrak beberapa warga dari luar.


Warga yang sudah berkerumun mendengar jeritan Rolan dan tangisan Fhadlan akhirnya mendobrak pintu untuk menyelamatkan Rolan yang nenjerit histeris terdengar sangat ketakutan. Warga sebenarnya sudah lama nencurigai rumah tersebut sebagai tempat penampungan anak anak untuk di eksploitasi menjadi pengemis.


Tentu saja mereka sangat terkejut mendengar teriakan Rolan yang mengatakan adanya sindikat pencuri ginjal mereka. Beberapa masuk lalu melepaskan cengkraman dokter Edy dari tangan Fhadlan. Sementara Rolan terus berteriak minta pertolongan.


"Tolong pak ... tolong kakak saya pak" kata Rolan pada warga.


Seorang warga mendekati Rolan menanyakan apa yang terjadi.


"Kakak nya kenapa ...nak?"


Rolan menunjuk dokter Edy yang masih terbaring di seret Fhadlan.


"Mereka mencuri ginjal kakak saya pak" tangis Rolan.


"Tolong kakak saya pak, kakak saya mereka bedah di kamar itu" ratap Rolan menunjukkan sebuah kamar.


Beberapa warga menyerbu ke arah kamar yang di tunjukkan Rolan, kamar di mana Satrio masih belum sadar akan pengaruh obat bius yang suntikkan dokter Edy. Kamar di mana pak Herman dan dokter Ferdi meringis kesakitan akibat terbanting oleh dorongan Fhadlan, yang ngamuk bagai sedang kerasukan.

__ADS_1


__ADS_2