FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 67


__ADS_3

"Besok pagi Invasi skala penuh akan diluncurkan pemerintah Yaman ke berbagai markas Imperum Balqis di sekitar kota Aden. Bahkan sederet infrastruktur militer hingga pos pos mereka di perbatasan aden tak lepas dari serangan pemerintah" ucap Hamdi.


"Saya di percaya sebagai memimpin resimen hamdani, sebuah resimen militer sipil yang akan di bentuk dari masxatakat kota aden berjuang bersama pemerintah membela muslim Aden khususnya"


"Siapapun yang seiman boleh bergabung, melalui kesempatan ini saya mohon doa saudara saudaraku seiman, untuk keselamatan kami khususnya resimen Hamdani yang akan bertugas di baris depan gerbang kota utara" ucap paman Hamdi mengakhiri pidatonya.


"Hidup resimen Hamdani... hidup Hamdi" ucap hadirin bersemangat.


***


Pemerintah mengeklaim yakin bahwa kota Aden tidak akan jatuh ke tangan pemberontak, sudah menguasai wilayah utara Yaman. sekalipun demikian pasukan pemerintah menggali terowongan di sekitar kota untuk memberikan perlindungan lebih lanjut, pada penduduk.


"Tanpa pemerintah masyarakat kota Aden akan melawan dan akan terus melawan," kata Hamdi saat mereka bersiap untuk melakukan penyerangan kemarkas Imperum Balqis.


"Ini adalah invasi pemerintah pertama semenjak pemberontak menguasai ibukota Sanaa, kita harus membantu pemerintah membuka jalur Aden ke kota Sanaa kemudian ke perbatasan Arab Saudi" ucap Hamdi pada anggota resimen Hamdani.


Saat paman Hamidi selesai berpidato membangkitkan semangat anggotanya, Fhadlan mendekati paman Hamdi menyampaikan keinginannya menyertai resimen Hamdani.


"Fhadlan sudah di beri izin oleh abi menyertai paman Hamdi" ucap Fhadlan.


Paman Hamdi memperhatikan Fhadlan dengan wajah sangat duka, namun dengan berat hati dia mengizinkan Fhadlan ikut dalam misi mereka kali ini, dengan harapan jika misi mereka berhasil hingga ke kota Sanaa atau kota Magrib maka Fhadlan akan di deportasi ke Arab Saudi.

__ADS_1


"Baiklah Lan tapi kamu jangan misah dari paman" ucap Hamdi.


Di dahului kendaraan lapis baja, lima buah truk dan puluhan mobil yang mengangkut anggota resimen Hamdani bergerak menuju arah kota Sanaa.


Hamdi rekan-rekannya dari Resimen Hamdani mendirikan markas di sebuah desa antara kota Aden dan Kota Ta'zz. Hamdi tinggal di rumah seorang mahasiswa yang sudah kehilangan anggota keluarga nya saat desa mereka di serang tentara Imperium Balqis.


Sang tuan rumah selalu dalam keadaan berduka, malam itu fhadlan melihaatnya kembali dengan wajah berduka.


"Kak Fadli kenapa kelihatan begitu sedih?" tanya Fhadlan.


"Maaf dek kakak tak sanggup lagi menerima kenyataan ini, setelah keluarga kak Fhadli mereka bantai, sekarang calon istri kak Fhadli juga tewas setelah mereka perkosa" kak Fhadli makin menjadi tangisnya lalu berkurung diri di kamarnya.


Pagi harinya, Fhadlan mengajak Fhadli mengikuti paman Hamdi dan rombongan patroli di jalan-jalan hingga ke pinggir desa. Udara terasa dingin mereka terus berjalan, yang pertama Fhadlan lihat adalah seorang lelaki tua yang terkubur hingga pinggang di dalam lautan sampah. Ia sedang mencari makanan.


"Baru beberapa bulan terjadinya perang, masyarakat sudah menggali tumpukan sampah agar dapat bertahan hidup," ujar paman Hamdi.


"Saat ini kota Aden merupakan kota teraman tapi tatap saja kita yang tinggal di sana, Merasa kalau Aden sudah menjadi neraka, apalagi di luar kota Aden yang situasinya bertambah parah. paman" Timpal Fhadlan.


"Saya tak dapat menghitung berapa kali desa ini di serbu, kami masih bisa tenang sekalipun dalam hujan peluru. Namun ketakutan kami di sini adakah adanya penculik yang sangat sakti bagai Dewa" ucap Fhadli.


"Menghadapi penculikan orang sakti yang datang dan pergi bagai hanti jauh lebih mengerikan, di bandingkan jujan peluru. Hujan peluru tak ada artinya jika dibandingkan dengan bayangan yang melakukan penculikan, pemerkosaan dan pemenggalan...," tutur Fhadli. 

__ADS_1


Fhadlan tersentak mendengar penuturan Fhadli, yang terkesan sangat menyedihkan dan menakutkan. Ungkapan Fhadli sudah menyatakan kalau mereka telah menjalani hal terburuk yang menghancurkan harga diri dan keberanian yang mereka miliki.


"Ohhhh begitu burukkah yang terjadi di sini?" paman Hamdi juga sangat terkejut mendengar kenyataan ini.


"Iya, saya rasa mereka akan segera datang saat mendengar kalian bermarkas di sini" ucap Fhadli.


"Seminggu yang lalu empat wartawan mereka culik, semua laki laki tewas dengan leher di prnggal sedangkan yang wanita tewas empat hari kemudian setelah menjadi budak sek, tentara bayaran Imperum balqis" cerita Fhadli.


"Terima kasih informasi dik Fhadli, sekarang kami sepertinya harus lebih waspada" ucap paman hamdi.


Saat mereka berada di jalan ujung desa Fhadlan melihat sebuah bayangan berkelebat sangat cepat menuju seorang wanita muda yang sedang menyiram bunga sendirian di halaman depan rumah-nya.


Awalnya Fhadlan pura pura tak peduli dengan apa yang akan di lakukan bayangan tersebut. Namun Kepedulian Fhadlan timbul saat menyadari bayangan tersebut adalah Beni


"Paman Hamdi... mereka telah datang" kata Fhadlan setengah berteriak sambil menunjuk ke arah sebuah rumah yang berjarak kira kira tiga puluh meter dari mereka.


Belum sempat mereka melakukan sesuatu, tiba-tiba Beni telah menodongkan pistol ke leher wanita muda pemilik rumah dan memaksanya masuk ke dalam rumah lalu mengikat pergelangan tangan dan kaki wanita muda tersebut, kemudian dibawa kabur ke keluar Desa.


"Ya tuhan ... manusia kah dia" ucap paman Hamdi saat melihat Beni berkelebat sangat cepat menuju keluar desa.


"Berhenti... jangan lari kau" teriak Fhadlan yang sudah melesat tak kalah cepatnya dengan bayangan beni yang memanggul tubuh wanita muda penduduk desa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2