FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 77


__ADS_3

Selama hidupnya, baru satu kali itulah Fhadlan melihat orang dengan mata yang berwarna biru laut! Hidungnya amat panjang, bukan mancung lagi namanya, bibir yang sebagian tertutup kumis itu terbentuk manis seperti bibir wanita, benar-benar seorang laki-laki yang amat aneh dan sukar ditaksir usianya.


Akan tetapi pakaiannya lebih aneh lagi! Sepatu kulitnya mengkilap dan tinggi sampai ke bawah lutut. Celananya sangat sempit dan membungkus ketat tubuh bawahnya sehingga memandangnya saja membuat orang jadi jengah. "Betapa tidak sopannya," pikir Fhadlan.


Pakaian bagian atasnya yang lebih aneh. Di sebelah dalam merupakan baju pendek yang berkancing emas. Pada bagian luar tertutup oleh jubah lebar dan panjang sampai ke lutut, berlengan panjang pula dengan saku-saku yang besar, akan tetapi lucunya, bagian depan jubah ini terbuka sama sekali dan lehernya diikat dengan sehelai kain seperti kapas.


Fhadlan pernah mendengar kabar bahwa di beberapa tempat di sebelah utara orang-orang geger mengabarkan adanya manusia asing yang aneh, yang kabarnya datang dari tempat yang amat jauh dari seberang lautan, manusia ‘biadab’ yang pakaiannya aneh-aneh, rambutnya pun ada yang putih, ada yang kuning dan ada pula yang coklat atau biru, matanya juga bermacam-macam warnanya.


Akan tetapi tadinya Fhadlan menganggap kabar itu kosong dan seperti dongeng tentang iblis dan setan saja untuk menakuti anak-anak atau orang yang penakut. Akan tetapi kini Fhadlan sedang berhadapan dengan seorang yang bahkan keanehannya jauh melampaui dongeng yang pernah Fhadlan dengar.


Lelaki asing itu memandang Fhadlan dengan sinar mata penuh selidik kemudian terdengar dia bertanya, "Siapakah anak muda yang berani mati, memasuki markas dan mengganggu seorang pembesar pemerintah Imperium balqis?"


Fhadlan, melangkah maju dan menjawab, "Saya tidak mengganggu seorang pembesar, karena urusan kami tidak ada hubungannya dengan pemerintah mana pun, melainkan urusan pribadi. Pak Wijaya sudah berlaku sewenang-wenang terhadap saya dan teman wanita saya, karena itu saya perlu memberi hajaran agar dia lain kali tidak lagi berani bertindak sewenang-wenang, apalagi mengandalkan jabatan" ucap Fhadlan.


"Hmmmm... jadi kami tidak ada urusan dengan dengan anak muda."


Sepasang mata biru itu berkilat dan wajah yang kemerahan itu berseri.


"Hemm, anak muda... Bagus sekali, ingin saya berkenalan dengan anak muda!"


Dalam istilah dunia persilatan, kalau dua orang berkepandaian tinggi saling berhadapan, maka kata-kata ‘berkenalan’ dapat juga diartikan tantangan mengadu kepandaian, karena yang akan dikenal bukan orangnya melainkan ilmunya. Maka Fhadlan sudah membentak,


"Iblis bermata biru! Siapa takut menghadapi tantanganmu?"

__ADS_1


Akan tetapi Jendral Benyamin yang sudah melihat pasukan nya terdesak hebat oleh resimen Hamdani yang di dukung kendaraan lapis baja, tidak menghendaki urusan berlarut-larut dan timbul perkelahian antara mereka berdua dengan Fhadlan.


Jendral Benyamin menggandeng tangan temannya dan berkata, "Mari kita juga harus pergi, keadaan di sini tidak menguntungkan"


Orang asing itu sadar kembali saat merasa tangan jendral Benyamin menggandengnya. Dia menekan kemarahannya dan tidak membantah. Sambil bergandeng tangan Jendral Benyamin mereka segera melangkah ke luar dari dalam kamar itu, menyusul pak Wijaya beserta para pengawalnya yang terlah dahulu keluar ruangan.


"Eh-eh, sahabat gagah... semoga ketemu di lain waktu!" Suara asing itu berseru dan tangannya diulurkan ke depan seperti hendak bersalaman.


Walau pun gerakan ini biasa saja, namun diam-diam Fhadlan terkejut, karena dari tangannya keluar sambaran angin yang dahsyat! Namun angin pukulan ini bukan merupakan serangan, melainkan lebih merupakan ‘ujian’ karena tangan itu tidak menampar atau pun memukul, melainkan mencengkeram untuk memegang lengan Fhadlan.


"Hebat..." jerit fhadlan saat merasakan gempuran angin yang sangat dahsyat, Fhadlan pun tidak mau balas menyerang, hanya menggoyang tangannya seperti menolak dan berkata,


"Semoga di lain waktu... fhadlan berkesempatan untuk melayani Tuan!"


Meski pun kedua tangan itu tidak saling sentuh, namun pertemuan dua hawa pukulan di antara kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunyi nyaring dan orang asing botak itu terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya terpental dan terasa panas. Dia berdiri bengong menatap Fhadlan, lalu terus melangkah ke luar, terheran-heran dan akhirnya membentak teman-temannya yang sudah bergerak ingin menyerbu Fhadlan.


"Biarkan dia pergi, jangan ganggu!"


Dua orang temannya menurunkan senjatanya, lalu kembali kepada orang asing botak dengan pandang mata penuh pertanyaan. Si Botak ini menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengomel,


"Hebat...! Semuda itu sudah demikian hebat tenaganya...! Aihhh, ternyata benar cerita guruku bahwa bagian lain dunia ini penuh dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi."


Kemudian dia menoleh kepada dua orang temannya tadi dan berkata, "Amat keliru kalau kita mulai pekerjaan kita dengan menanam bibit permusuhan dengan orang-orang pandai seperti anak itu. Tugas kita bahkan harus mendekati orang-orang pandai, bukan malah memusuhi mereka."

__ADS_1


"Akan tetapi, mereka telah melukai pak Wijaya…," bantah seorang temannya.


"Hanya luka ringan saja. pak Wijaya tentu mau menyudahi perkara ini, demi tugas yang lebih penting. Lagi pula, kehilangan sebuah daun telinga untuk menebus kesalahan lalu, masih murah!" Dua orang temannya mengangguk dan mereka bertiga segera menuju ke mobil untuk bantu mengobati luka yang diderita pak Wijaya.


"Mundur... mundur.... mundur" terdengar komando dari jendral Benyamin yang tidak menyangka, kalau resimen Hamdani begitu kuat. Ketakutannya memuncak saat melihat Fhadlan yang hanya bertangan kosong telah merobohkan sniper, penjaga dan pengawal mereka. sehingga terbersit di benaknya kalau resimen Hamdani memiliki pasukan elit yang kemampuan nya sama seperti Fhadlan.


*****


Fhadlan terus meninggalkan markas yang dalam waktu sekejap telah kosong di tinggal penghuninya, tembakan dari kedua bekah pihak masih terjadi hingga malam hari.


Fhadlan menuju tempat persenbunyian abu Ghafur yang masih siaga dengan senapan rampasannya.


"Paman jangan tembak ini Fhadlan" teriak Fhadlan.


"Ha ha ha kamu Selamat nak?.. sungguh luar biasa benar benar karomah bersama Fhadlan... kamu menyerbu markas seorang diri, lalu mereka lari tinggang langgang seperti melihat hantu" ucap abu Ghafur sangat senang.


"Sungguh membuat orang penasaran sekali!" kata abu Ghafur sambil menepuk pundak Fhadlan.


"Paman fhadlan sangat jelas melihat mereka adalah seorang asing biadab seperti yang kita pernah dengar dari berita angin tentang munculnya orang-orang misterius bersama Imperium Balqis di sepanjang perbatasan utara dan timur Yaman, sepertinya itu bukanlah berita bohong" ucap Fhadlan.


"Akan tetapi mereka juga menguasai ilmu ilmu beladiri tinggi. Sambaran tangannya sangat dahsyat, mengandung tenaga dalam yang cukup kuat, juga gerakan mereka yang cepat dan baik sekali!, rasanya akan sulit untuk membekuk mereka" ucap Fhadlan jujur.


"Hanya tokoh-tokoh golongan sesat yang haus kekuasaan saja yang sudi bergabung bersama nereka dan memberikan negeri ini kepada orang asing, bagaimanapun kami akan mempertahankannya hingga kematian menghentikannya!" kata abu Ghafur.

__ADS_1


__ADS_2