FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 9


__ADS_3

Tindakan Fhadlan menyadarkan paman Haikal dan Perdinan segera tersebar luas di tengah warga desa. Akibatnya tidak saja menyadarkan paman Haikal bahkan menghentikan budaya penduduk desa mengasingkan orang tuanya di tengah hutan. Menghentikan Adat istiadat yang memang sudah di tantang beberapa ulama dan kaum terpelajar di desa tersebut.


Semenjak kakek Ammar di bawa paman Haikal dirawat di rumahnya, Fhadlan juga gak mau lagi tinggal di rumah ibu Sherina. Sejak saat itu Fhadlan memilih ikut Abu Daud dan umi Sarah tinggal di Kota Tapus.


****


Baru dua minggu Fhadlan tinggal bersama ayah dan ibu kandungnya sebuah tragedi tragis menimpa orang tuanya. Nasib naas menimpa Abi Daud ayah Albara, saat akan membayar gaji karyawan kebon kopinya. Istri Abu daud jatuh sakit dan di opname di rumah sakit, sementara uang untuk pembayaran gaji mereka masih harus di ambil di sebuah bank di luar Kota Tapus, sehingga pembayaran gaji karyawan jadi tertunda.


Ibu Zakiah memanfaatkan kondisi ini untuk menghasud karyawan kebon kopi Abu Daud untu mogok kerja. Karyawan yang terhasud akhirnya mogok kerja dan berdemo di rumah Abu Daud minta pembayaran gaji mereka.


Fhadlan berlari ke kamar ibunya saat, Puluhan karyawan kebun kopi Abu Daud terlihat mendatabgi rumah orang tuanya. Puluhan karyawan dengan berbagai jenis senjata di tangan mendatangi rumah abu Daud untuk menuntut pembayaran gaji mereka yang sudah tertunda selama satu minggu.


"Pokoknya kami tidak mau tau, apapun usaha Abu Daud untuk membayar gaji kami hari ini juga" kata perwakilan karyawan yang menemui Abu Daud.


Dari celah pintu Fhadlan memperhatikan karyawan dengan parang terhunus mengancam ayahnya untuk membayarkan gaji mereka. Fhadlan melihat ayahnya yang panik mendapat ancaman dari karyawan yang berwajah sangar. Fhadlan melihat ibunya umi Sarah yang baru saja keluar dari rumah sakit, berjemas dengan buru buru untuk keluar rumah.


"Nak Fhadlan... ikut umi" kata umi Sarah.


"Umi Fhadlan takut, Fhadlan takut abi kenapa napa, Fhadlan gau sama umi, Fhadlan akan bersama Abi di sini" ucap Fhadlan bertahan di balik pintu.


"Nak Fhadlan... yang kemana mana ya, umi akan minta bantuan pak lurah" ucap umi Sarah tergesa gesa.


Tak lama setelah umi Sarah meninggalkan rumah terlihat beberapa orang pejabat Kelurahan nendatangi rumah Abu daud, Abu Hamid yang sedari tadi memperhatikan keadaan, segera bergabung dengan pejabat kelurahan untuk menjadi penengah.


Kehadiran pejabat kelurahan tak luput dari perhatian Fhadlan dari balik pintu kamar orang tuanya.


"Saya mohon saran dan bantuan bapak bapak yang hadir untuk solusi saat ini" kata Abu Daud pasrah, saat istrinya umi sarah membawa beberapa pejabat kelurahan.


Setelah menanyakan duduk persoalannya, pada pihak karyawan dan Abu Daud, pejabat kelurahan angkat bicara.

__ADS_1


"Pak abu Daud, mereka benar anak istri mereka juga harus makan, saran saya coba usahakan atas nama pinjaman setidaknya separo gaji mereka bisa di bayar hari ini" Pejabat kelurahan lalu memperhatikan pak Hamid yang terkenal kaya di Kota tapus.


"Mungkin pak abu Hamid bisa pinjami abu Daud?" tanya pejabat kelurahan.


"Saya bisa pinjami dulu kebetulan saya sedang ada simpanan uang kontan di rumah" Abu Hamid memberi solusi.


"Benarkah bang hamid?" tanya abu Daud.


"Benar tapi kapan kamu akan kembalikan?" tanya Abu Hamid.


"Paling lambat sepuluh hari dari sekarang, jika istri saya sudah benar benar sembuh saya akan keluar kota untuk transfer pembayaran ke rekening bang Hamid" jawab Abu Daud.


"Tidak... saya pinjami Abu Daud uang tunai juga harus di bayar uang tunai, jika tidak terbayar hingga limit yang kamu tentukan jaminannya separoh kebon kopi Abu Daud serahkan pada saya bagaimana" usul Abu Hamid.


"Baiklah saya terima" ucap Abu Daud.


"Umiiii.." teriak Fhadlan keluar dari persembuyian setelah semua karyawan bubar meninggalkan rumah Abu Daud.


Umi Sarah yang masih lemah menggendong Fhadlan kembali ke kamarnya.


"Fhadlan jangan temani umi ya, umi lelah" ucap Sarah lalu beraring di tempat tidurnya kembali.


Selama di rumah orang tuanya Fhadlan selalu tidur bersama kakaknya Albara, di temani umi Kalsum neneknya.


"Umii ..." panggil Fhadlan.


"Fhadlan boleh tidur di kamar umi?" tanya Fhadlan.


"Boleh sayang" ucap umi Sarah.

__ADS_1


Dengan senang hati Fhadlan berbaring di samping umi Sarah, Umi sarah melihat betapa rindunya Fhadlan ingin bersamanya, segera di peluknya hingga Fhadlan tertidur di sampingnya.


****


Untung tak dapat di diraih kok rugi tak dapat di tolak begitu kata pepatah tentang nasib Abu Daud. Seminggu setelah perjanjian dengan Abu Hamid nasib buruk kembali menimpa Abu daud saat kembali dari luar kota membawa uang untuk melunasi hutangnya. Abu Daud di hadang gerombolan perampok di tengah hutan, suluruh uang yang di bawa untuk melunasi hutangnya pada Abu Hamid ditambah uang untuk membayar gaji karwaan bulan berjalan ludes di embat perampok.


Masih untung Abu Daud bisa kembali dengan selamat, sekalipun dengan luka tusukan di tangan dan punggungnya. Habis jatuh tertimpa tangga itulah pepatah adat yang menggambarkan keadaan Abu Daud saat kembali ke Kota Tapus. Dalam keadaan berbaring tak berdaya Abu Hamid datang dengan tukang pukulnya menagih hutang yang jatuh tempo. Karena tak terbayar maka sesuai perjanjian separo dari kebun kopi Abu Daud di ambil oleh Abu Hamid.


Karyawan kebun kopi kembali mendatangi rumah Abu Daud meminta pembayaran gaji mereka untuk bulan yang sedang berjalan. Untuk membayar gaji mereka abu Daud terpaksa melelang berbagai hartanya, hingga dalam satu minggu seluruh harta abu daud ludes terjual kecuali sebuah rumah yang mereka huni sekarang.


Dengan modal yang masih tersisa deri hasil penjualan Asetnya di Kota Tapus Abu Daud memutuskan untuk pindah ke Ibukota memulai bisnis baru dengan teman kuliahnya dulu.


Albara kakak Fhadlan makin dekat dengan umi Kalsum dan Sultan Murod kakeknya, bahkan Lebih dekat dari pada orang tuanya sendiri, hingga saat orang tua Albara pindah ke sebuah kota besar untuk memulai bisnis baru yang menjanjikan. Albara menolak mengikuti orang tuanya dan memilih untuk tinggal dengan umi Kalsum dan sekolah di Kota Tapus.


"Bi Albara sekolah di Kota Tapus aja, biar bisa tinggal dengan umi Kalsum" pinta Albara pada abi Daud.


"Baik lah nak, jika nanti Albara pingen sekolah di kota besar tinggal sama abi dan umi, Albara segera telpon umi atau abi" kata abi Daud.


"Iya bi, kan kasian kakek kalau Bara ikut Abi, kakek jadi tinggal sendirian" ucap Albara berargumen.


"Umi Kalsum... Sarah titip Albara untuk sementara ya" pinta Umi Sarah ibunya Albara sebelum berangkat.


"Iyaa Sarah" ucap umi kalsum singkat melepas keberangkatan mereka.


***


Baca juga kisah Albara dalam novel berjudul


Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN), di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1179263&\_language\=id&\_app\_id\=2

__ADS_1


__ADS_2