FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 51


__ADS_3

"Kakak kakak ini siapa?" tanya Fhadlan.


"Gua Eky, ini teman gua Rivaldi, dan ini Rolan" ucap Eky.


"Rolan" ucap Fhadlan memandang Rolan lekat sekali.


"Ya gua Rolan, dan lo Fhadlan kan" ucap Rolan setengah menjerit, juga dengan pandang mata yang lekat menatap Fhadlan.


Keduanya terlihat saling pandang seperti sedang melepas rindu dengan saling menatap, memeriksa keadaan masing masing. Memang banyak perubahan pisik pada kedua nya namun mereka masih bisa saling mengenali satu sama lain, lalu bagai sebuah adengan sinetron televisi yang sangat mengharukan, mereka seperti di komando menghambur saling memeluk satu sama lain.


"Bang Rolan huhu hu hu" teriak Fhadlan.


"Dik Fhadlan hu hu hu hu" Rolan juga berteriak


Mereka berdua bertangisan haru ketika dua orang pernah di persaudarakan ibu Maryani ini kembali dipertemukan setelah hampir tujuh tahun terpisah.


"Hah Ky, gak salah liat gua, mereka ternyata saudara" ucap Rivaldi.


"Iya Val kayak adegan film aja Pertemuan mengharukan antara kakak dan adik yang sudah terpisah lama sekali " timpal Eky.


Pagi itu terasa matahari mulai bersinar hangat sehangat kedua hati yang sedang berbunga-bunga. Pasalnya dua orang anak manusia yang sudah lama berpisah ini, akhirnya dipertemukan dalam situasi yang tak disangka-sangka.


Pelukan erat seakan tidak ingin dipisahkan kembali diantara keduanya. Pertemuan yang tidak disengaja tersebut terjadi ketika Fhadlan sedang mengikuti acara Jamparingan, lalu Rolan dan teman temannya yang tadi menonton juga tertarik mengikuti acara tersebut.


Seperti ada yang ngatur Rolan dan teman temannya memilih tempat duduk pendekatan dengan Fhadlan. Tak disangka tak diduga, setelah bertutur kata saling memperkenalkan diri, ternyata Rolan yang sudah Remaja sekarang sudah menjadi siswa salah satu SMA di Jakarta, merupakan kakak angkat Fhadlan waktu mereka di deportasi sebagai psngemis oleh pak Herman.


"Ky.. mereka serius bersaudara, ayo lo photoin mereka Ky, ini pertemuan yang akan menjadi momen yang sangat bersejarah bagi keduanya" ucap Rivaldi mengeluarkan Android Samsung Galaxy S3, sebuah handphone tercanggih di zamannya.


Ketika Fhadlan menangis haru, Rolan tampak menutupi wajahnya untuk menyeka air matanya.

__ADS_1


"Lo kemana aja, gua sama Abi dan umi mencari lo ke mana mana" ucap Rolan menghapus air matanya.


Fhadlan melepaskan pelukannya


"Abi dan uminya siapa?" tanya Fhadlan.


"Orang tua lo dik.. Abi Daud dan Umi Sarah" ucap Rolan.


"Bang Rolan kenal Abi dan umi Fhadlan juga?" tanya Fhadlan hampir tak percaya.


"Iya dik... saat bang Satrio di curi ginjalnya Polisi datang bersama Abi Daud dan umi Sarah nyari lo, tapi lo udah gak ada di lokasi, akhirnya abi daud dan umi sarah membawa gua untuk bantuain mereka nyari lo. Akhirnya abang Rolan mereka adopsi sebagai anak mereka sampai sekarang abang tinggal bersama mereka" tutur Fhadlan.


Semua orang yang tadi nonton Fhadlan bermain panahan, seperti ikut menangis haru melihat adegan pertemuan mereka, termasuk juga Rivaldi dan Eky teman Rolan.


"Lo berdua kenapa ikutan nangis" ucap Rolan pada Eky dan Rivaldi.


"Gua juga terharu bangat" sambung Eky.


"Mana Abi dan umi?" kata Fhadlan.


"Mereka ada di rumah" ucap Rolan.


"Ayo bang Rolan bawa Fhadlan ketemu abi sama umi ya, Fhadlan udah kangen abi sama umi, selama tiga hari di Jakarta Fhadlan nyariin abi dan umi terus" ucap Fhadlan.


****


Sepertinya harapan Fhadlan selama ini menemui hasil yang sangat mencengangkan. Setelah semua usaha dan upaya tak membuahkan hasil Fhadlan hampir saja putus asa.


Saat teringat nasehat kyai sholeh kalau putus asa dari rahmat allah itu termasuk hal yang di larang dalam agama, maka Fhadlan kembali berharap pada tuhan, setiap langkah dan napasnya Fhadlan berharap tuhan mengabulkan harapannya.

__ADS_1


"Doa adalah inti dari ibadah" itulah yang dikatakan para ustadz tentang pentingnya jiwa dalam agama. Dengan sebuah keyakinan menimbulkan harapan, harapan supaya yang maha kuasa mengabulkan nya. Dari harapan manusia memanjatkan doa, dari harapan manusia akan melakukan usaha.


Harapan Fhadlan tidaklah sia sia setelah tiga hari keliling ibukota tak membuahkan hasil, Fhadlan merengek pada Tuhan melebihi pengemis atau anak yang tak tau diri merengek pada orang tuanya. Hingga secara ajaib malah Tuhan menunjukkan jalan bagi Fhadlan menemui ibunya.


Semenjak saat itu Fhadlan kembali bersama orang tuanya, namun hubungan baiknya dengan Romo Adiwilaga tidaklah menjadi renggang, bahkan tiap minggu sekali minimal satu bulan sekali Fhadlan kembali ke Jogja nginap di rumah romo Adiwilaga. Begitupun romo Adiwilaga setiap Fhadlan liburan semester selalu menjemput Fhadlan di Jakarta di bawa keliling tempat tempat wisata sejarah dan tempat wisata lainnya.


Tiga tahun sudah Fhadlan bersama orang tuanya, tinggal bessma Rolan dan adiknya yang bungsu saat ini sudah berusia delapan tahun. Adik perempuan yang selama ini belum pernah dia lihat, Wahyuni itu lah nama adik perempuan Fhadlan.


Dia seperti telah di lupakan oleh tokoh tokoh pemburu pusaka Nusantara. Hingga saat Fhadlan masuk SMP dia kembali satu kelas tapi beda lokal dengan Linggo Bramantio Kawisworo. Seperti saat pertama bertemu Linggo masih saja arogan terhadap teman temannya.


Linggo berindap-indap mendekati dan betapa gembira rasa hatinya ketika dia mengintai dari balik pintu kelas, dia melihat Fhadlan sedang duduk mengobrol sambil makan minum bersama teman nya sekelas.


Hanya berdua saja di ruang yang kelas yang sunyi, karena saat ini adalah jam istirahat. Saking girang dan lega hatinya dapat menemukan musuh besarnya waktu di Sekolah Dasar, Linggo langsung meloncat kedalam lokal Fhadlan.


"Fhadlan, akhirnya aku dapat menemukan engkau di sini!" ucap Linggo sepertinya masih punya dendam pada Fhadlan.


Fhadlan meloncat bangun dengan pandang matanya ditujukan kepada Linggo. fhadlan sama sekali tak kelihatan gugup seperti temannya yang masih duduk dengan muka pucat saat melihat Linggo.


"Linggo perlu apa kau mencari Fhadlan?" tannya Fhadlan lihat sikap Linggo tidak bersahabat.


"Fhadlan, tidak perlu banyak cakap lagi. Kalian sudah sama mengetahui mengapa aku datang mencarimu. Lekas serahkan uang jajan kalian kepadaku!" ucap Linggo yang memang di kenal tukang palak di sekolahnya.


Fhadlan justru tertawa mengejek. "Ha ha ha ha, enak saja kau bicara Linggo. Dari dulu tingkah mu tidak pernah berubah orang bodoh kau jadikan makanan dan yang lemah kau inja injak, Sadarlah kau itu dari dulu jahat, bahkan sampai sekarang pun masih jahat" ucap Fhadlan.


"Fhadlan... jangan ladeni dia... Linggo galak orangnya, mendingan kasih aja apa maunya" ucap teman Fhadlan.


Teman Fhadlan segera menarik tangan Fhadlan diajak kuar kelas, tapi Linggo kembali berdiri menghalangi langkah mereka.


"Kalian tidak bisa pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu ku minta" bentak Linggo menarik kerah baju teman Fhadlan.

__ADS_1


__ADS_2