FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 70


__ADS_3

"Sing sing sing" mereka mulai di hujani peluru peluru sniper yang ada di atas bukit.


"Jangan lewat situ Lan, biasanya di sisi sisi lembah ada parit parit perlindungan, kita bisa lewat menyusuri paret untuk menjauh" kata Asma.


Asma merasa ada peluru lewat sangat dekat kepalanya, Asma pun jatuh ke depan ke dalam parit yang menuju ke arah anak sungai.


"Kak Asma..." ucap Fhadlan mengguncang tubuh Asma, sementara desingan peluru mendadak berhenti setelah mereka jatuh ke dalam parit.


"Ya Fhadlan.... Aku hanya berpura-pura ditembak," katanya Asma bangkit.


"Kakak bikin panik Fhadlan aja" ucap Fhadlan.


Beberapa saat kemudian, Asma meletakkan ngelunjak di bibir meminta Fhadlan diam.


"Salah satu anggota Imperum Balqis berjalan kearah kita" bisik Asma.


Fhadlan menggunakan teknik pernapasan suci sehingga terlihat tidak bernafas lagi.


"Satu orang yang telah ditembak masih bernapas" ucap orang yang melihat ke dalam paret.


"Biarkan dia menderita," kata militan lain. "Dia seorang Pembelot, Biarkan dia menderita. Biarkan dia berdarah." ucap teman mreka yang lain.


Pada saat itu Asma meraba nadi Fhadlan yang diam seperti mati.


"Kamu masih hidup kan Fhadlan?" tanyanya.


Mereka menunggu sekitar 10 menit, sampai tak ada suara suara dari atas paret. hingga yang ada hanya keheningan.


"Sekitar 200 meter jauhnya menelusuri paret ini adalah tepi anak Sungai, kita lebih aman lewat pinggir sungai" ucap Asma.


Dengan merangkak mereka akhirnya berhasil sampai ke tepi sungai, di mana alang-alang memberinya beberapa penutup. Saat pinggiran sungai terasa sangat aman mereka kembali mengendap endap dalam pelariannya.


Fhadlan dan Asma tidak terlihat sebagai seorang tentara, mereka hanya mengenakan pakaian sipil, mulai berjalan keluar dari sungai, sehingga mereka tidak di curigai saat melewati pos terluar Imperium Balqis.

__ADS_1


"Untungnya sampai hari ini, desa kami tidak jatuh ke tangan Imperium Balqis, Itu yang membuat Asma dan teman-teman juga penduduk desa tinggal di sini yang hampir dipastikan satu satunya tempat yang aman" ucap Asma lagi.


"Masih jauhkah kak?" tanya Fhadlan, dia pikir mereka akan berjalan sejauh 20 km ke arah selatan untuk sampai kedesa pos resimen Hamdani.


"Tidak.. " ucap Asma menunjuk kearah depan yang hanya beberapa mil di depan terlihat orang-orang berlari ke arah mereka, sekitar 50 pejuang resimen Hamdani mengiringi kendaraan lapis baja, menyongsong mereka.


Fhadlan di elu elukan di sepanjang jalan lalu di giring hingga ke sebuah masjid di mana nasarakar desa telah berkumpul, sesuai tradisi yaman mereka mengumpulkan makanan yang mereka punya saat krisis untuk di makan bersama.


"Ini jatah makan siang Fhadlan" ucap paman Hamdi.


Desa tersebut sedang di landa krisis yang hebat sehingga, Fhadlan harus berbagi jatah makan siang nya dengan lima belas orang penduduk desa.


"Iya cuma kebagian satu suap" guman Fhadlan.


"Masih ada yang bisa di makan bersukurlah Lan" ucap paman Hamdi.


Pada saat Fhadlan akan menyuap makanan tiba tiba, srorang lelaki penduduk desa berjalan sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia setelah melihat masih ada yang belum menghabiskan bagiannya..


"Lan ... Makanan kamu bagi sama bapak itu" kata paman Hamdi.


"Assalamualaikum, wahai kawan sebangsa." ucapnya


"Wa alaikum salam, wahai sahabat," jawab mereka serempak.


"Siapa namamu nak? maaf bapak tidak punya apa apa untuk di bagi ucapnya."


"Nama saya Fhadlan, bapak ini siapa?" Fhadlan balik bertanya


"Nama bapak Ghafur, tinggal tidak jauh dari desa ini" jawabnya.


Saat ramah tamah penduduk desa justru minta pak Ghafur untuk memberikan ceramah singkat sebagai pencerahan bagi penduduk. Paman Hamdi sangat kagum dengan pemahaman agama pak Ghafur hingga berdecak kagum.


"Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada yang disukainya... tak selalu ulama berada di mesjid ternyata di lahan pertanian juga ada ulama" puji Hamdi.

__ADS_1


Lelaki yang bernama Jundub Ghafur ini ternyata berwatak patriot pula, telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun ia berada. Mendengar Imperium Balqis yang memblokir semua makanan melalui desa mereka dia makin marah


"Demi Tuhan yang menguasai jiwaku," kata pak Ghafur.


"Kita hidup berkongsi mewarisi bumi, tapi kenapa ada yang tak tahu diri memonopoli bumi" pidato nya berapi api.


"Kenapa kalian tidak bawa pedang terhunus kemarkas Imperium Balqis yang menumpuk numpuk makanan"


"Saya malu sama Fhadlan... anak kecil yang berani mendatsngi markas mereka hanya untuk menyelamatkan seorang penduduk desa"


"Belum pernah paman jumpai di bawah kolong langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Ghafur. Benar batinnya, benar juga lahirnya. Benar akidahnya, benar juga ucapannya, dan benar syariahnya" ucap hamdi pada Fhadlan


Lalu seseorang mengajukan pertanyaan kepadanya. "Wahai Abu Ghafur bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar atau pengusaha yang mengambil menumpuk makanan untuk diri mereka?"


Abu Ghafur menjawab, "Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!"


"Sekalipun kalian tidak akan mampu menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengambil kekayaan, dan menumpuk makanan untuk rakyat. Setidaknya kalian juga tidak akan bungkam atau berdiam diri mengetahui kesesatan mereka.


Dengan lisannya yang tajam dan benar abu Ghafur telah merubah sikap dan mental penduduk desa satu per satu.


Dalam beberapa jam saja tak ubahnya ia telah menjadi panji-panji yang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan gaungnya sampai ke desa desa sekitar.


Abu Ghafur membacakan sebuah hadist yang oleh penduduk desa tetasa seolah lagu perjuangan. "Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat!"


Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan mempengaruhi penduduk desa untuk melawan imperium Balqis.


Semua yang ada di majelis menjadi bersemangat mendapat pencerahan dari abu Ghafur, semua bertekad membantu resimen Hamdani menyerbu markas Imperium Balqis.


"Abu Ghafur ... kami para warga siap membantu resimen Hamdani menyerbu markas Imperium Balqis, bagaimana yang lain?" tanya warga tersebut.


"Setuju" ucap mereka serempak.


Sementara itu kabar ikutnya Arab Saudi membantu pemerintah Yamam memicu kegembiraan di kalangan pendukung pemerintah di media sosial dan jaringan obrolan terenkripsi. Ini telah mengangkat moral pejuang dalam wilayah yang masih mereka kuasai.

__ADS_1


Meskipun pemberontak telah berulang kali menyatakan kemenangan atas pemerintah, bahkan membual kepada para seluruh media bahwa ia secara pribadi telah "menangkap pemimpin penerintah", namun perjuangan mujahid tak pernah kendor.


__ADS_2