
Fhadlan memandang dengan alis berkerut. Apa pula kehendak Linggo Bramantio, seperti sengaja mencari gara dengan nya.
"Udah Fhadlan kasih aja maunya, Linggo galak orangnya" kembali teman Fhadlan mengingatkan.
"Gua punya jajan cuma lima rebu" ucap teman Fhadlan memberikan uang jajannya.
"Ya udah ini gua kasih goceng" ucap Fhadlan menyerahkan uang lima ribuan juga pada Linggo.
Sikapnya tenang sekali sehingga Linggo orang yang mempunyai pandang mata yang sudah waspada itu, diam-diam merasa gentar juga. Akan tetapi Linggo mempunyai semacam dendam saat di kalahkan Fhadlan beberapa tahun yang lalu.
Bertahan tahun dia berlatih dengan tekad, yaitu kalau bertemu Fhadlan, hatinya belum merasa puas jika belum menguji kepandaiannya.
"Ok gua terima, tapi sebagai imbalan keputusan gua mengampunin lu, gua minta agar lu menyatakan tunduk pada gua, dan suka menjadi anggota geng gua." ucap linggo.
"Fhadlan, lu terima aja deh, sekolah ini Katanya milik pamannya Linggo, jangan cari masalah, bisa klar hidup lu" teman Fhadlan kembali kasih saran.
Fhadlan agak ragu tapi saat melihat pandang mata temannya sangat memelas, dan wajah yang ketakutan maka Fhadlan lalu menjawab,
"Baiklah, gua ikut kemauan lu" ucap Fhadlan.
"Dan lu... siapa nama lu?" tanya Linggo pada teman Fhadlan.
"Gua ... nama gua Eko" jawab teman Fhadlan.
"Mulai sekarang lu berdua Fhadlan dan Eko pangil gua Presiden geng ngerti" bentak Linggo.
"Baik Presiden" ucap Eko ketakutan.
Eko menarik tangan Fhadlan menjauh dari Linggo, setelah mereka cukup jauh barulah Eko menarik napas lega.
"Akhirnya kita lepas juga dari si brengsek Linggo" ucap Eko.
Kejadian yang menimpa Eko dan Fhadlan tidak lepas dari perhatian seorang siswi putri yang kebetulan sekelas dengan Fhadlan dan Eko. Tak terima teman sekelasnya di palakin sama Linggo diapun menghampiri Linggo. Siswi dengan nama Geza Chasmi akrab di panggil teman sekelasnya Geza lantas membentak Linggo.
__ADS_1
"Eh Linggo.. lu kurang ajar benar ya, semua teman gua lu palakin, sini kembalikan atau gua bikin lu jadi perkedel" ucap Giza.
"Siapa lu... lu brani sama gua, belum tau siapa gua" balas Linggo juga membentak.
"Gua Giza gak takut ama lu, siapa juga yang gak kenal tukang palak rendahan kayak lu, jangan mentang mentang ini sekolah paman lu, seenaknya malakin teman gua" Giza tak kalah garangnya.
Makin dingin senyum di bibir Linggo saat beberapa siswa mulai berkerumun melihat pertengkaran mereka.
"Giza ... gua gak butuh ceramah lu, dan jika lu tidak terima, coba majulah. Gua gak pernah dan gak akan pernah takut kepada pada siapapun, tak peduli perempuan asal melawan ... pasti gua gebukin"
Giza makin emosi, wajahnya menjadi merah sekali. "Ihhh dasar kampungan gak kenal budaya! Lu kira siswa siswi di sini sekolah numpang doang, mereka juga bayar tau!"
"Balikin uang teman gua, atau gua lapor kepsek sekalian" ancam Giza.
Tiba-tiba saja tubuh Linggo mencelat ke arah giza dia menerjang dan menyerang dengan ganas, dengan gerakan yang sangat hebat.
Melihat datangnya tendangan ke dadanya, Giza yang juga sebagai seniman bela diri dari perguruan kungfu berlaku nekat dan hendak melawan Linggo.
Giza bergerak tak kalah cepatnya dan tiba-tiba dia mendoyongkan tubuh ke kiri, menepis tendangan lawan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mencengkeram ke arah perut Linggo!. Meski pun gerakan tiba-tiba ini sangat membahayakan dirinya sendiri, akan tetapi sekali tangannya berhasil mencengkeram perut Linggo.
"Aiiih Setan!" Linggo mendengus kaget tak menyangka kalau Giza sehebat itu.
Terpaksa dia menjatuhkan tubuh ke kiri, menarik serangannya laku melompat lagi menyambar ke depan dengan tijunya mengarah ke arah leher Giza
Giza miringkan tubuh, akan tetapi pukulan Linggo masih menyerempet pundaknya, membuat dia terhuyung ke belakang.
"Aaaahhh" jerit Giza kesakitan.
Namun pada detik berikutnya, pergelangan tangannya juga kena ditendang Linggo dengan cara menendang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Tubuh Giza yang masih terhuyung-huyung itu kehilangan keseimbangan, lalu dia pun jatuh terguling terguling.
"Ha ha ha ha, mampus lu... Linggo dilawan" Sambil tertawa-tawa Linggo yang berkepandaian luar biasa itu telah melangkah dengan pelan mendekati Giza
Tiba tiba Linggo berkelebat cepat sekali, membuat sinar kilat di depan mata Giza, sehingga Giza sukar mengikuti ke mana arah Linggo menyerang. Siswi ini yang merasa tak mungkin lagi dapat menyelamatkan diri hanya memandang sambil tersenyum dingin penuh ejekan.
__ADS_1
"Trakkk...!"
"Aiiihhhhh...!"
Kali ini Linggo di buat kaget bukan main karena tendangannya tertangkis seseorang, terasa kakinya kesemutan sendinya bagai terlepas dari lututnya. Cepat dia meloncat ke belakang dan dengan mata terbelalak dia melihat bahwa yang menangkisnya adalah Fhadlan.
"Gak malu... beraninya lu cuma sama perempuan" ucap Fhadlan.
Dengan sikap tenang namun cepat sekali tangan kiri Fhadlan menyambar tangan Giza lalu membantunya bangun.
"Fhadlan" teriak Linggo emosi, Linggo agak gentar menghadapi Fhadlan mengingat dulu pernah di kalahkan, namun semenjak dia berlatih keras tujuannya adalah mengalahkan Fhadlan, maka inilah kesempatan yang dia tunggu pikir Linggo.
Sejenak kedua orang ini berdiri berhadapan dalam jarak tiga meter, saling memandang penuh perhatian seolah-olah dengan pandang mata mereka itu mereka hendak mengukur keadaan lawan. sementara para siswa sudah ramai berkerumun secara otomatis membentuk lingkaran meberi ruang bagi mereka berduel.
"Fhadlan.. sambutlah!" Tiba-tiba saja Linggo berseru dan tubuhnya sudah bergerak ke depan, sekaligus mengirim pukulan dengan tangan kiri ke arah dada Fhadlan.
"Wuuuttttt!"
Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan sebelum kepalan itu datang, Fhadlan sudah merasakan hawa pukulannya. Hal yang tidak pernah didugaannya, kalau pukulan Linggo ini memiliki tenaga dalam yang hebat. Pantas saja kalau tadi Linggo berani sekali membuat gara gara padanya.
Cepat Fhadlan mementang kedua kaki, lalu memutar tubuh miring ke kiri untuk mengelak dan secara kontan dia membalas dengan pukulan tangan kiri ke arah lambung lawan. Sementara Linggo agaknya betul-betul hendak mengandalkan kemenangan tenaga dalamnya.
Merasa yakin dengan keunggulan tenaga dalamnya Linggo tidak mengelak seperti Fhadlan melainkan cepat menggerakkan tangan kanan dengan jari terbuka menerima hantaman pukulan Fhadlan.
"Desssss!"
Dua telapak tangan bertemu dan mengeluarkan bunyi keras. Akibatnya, tubuh tubuh Linggo terjengkang ke belakang sementara Fhadlan masih berdiri kokoh di tempatnya.
Linggo menjadi penasaran. Selama ini dia sudah belajar ilmu silat tinggi dan di bekali pula dengan tenaga dalam oleh guru yang sangat sakti, belum pernah dia menemui tanding yang dapat melawan tenaga dalamnya-nya.
Dalam hal ilmu silat, mungkin banyak tokoh-tokoh yang bermunculan, umpamanya tiga setan gentayangan ada juga orang misterius bertopeng, pengawal rahasia kaisar dan bangsawan kraton, yang dapat menandingi bahkan mungkin melebihinya gurunya.
Akan tetapi dalam hal kekuatan tenaga dalam dia belum pernah dengar ada yang mebihi gurunya apalagi ada anak seusia mereka yang lebih kuat dari dirinya. Siapa kira, hari ini Fhadlan dapat menandinginya, bahkan Fhadlan seperti tidak terpengaruh oleh tenaga dalamnya, sehingga diam-diam dia merasa sangsi apakah dia lebih kuat dari pada Fhadlan.
__ADS_1