
Wijaya melompat ke belakang sehingga pukulan pemuda tersebut luput darinya.
"Engkau telah menjadi penghalang keinginanku. Untuk itu engkau harus mampus" Kembali wijaya menerjang maju.
Wajah Wijaya makin pucat, peluhnya sudah membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi matanya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, bahkan mata itu memancarkan cahaya seperti api menyala-nyala.
"Wijaya... menyerahlah. kau harus mrmpertanggung jawabkan kebejatan mu" ucap sang pemuda sambil memutar tangannya menangkis.
"Menyerah? Lebih baik aku mati!" Wijaya kembali menerjang maju.
Pemuda tersebut sadar bahwa sekuriti hotel sudah mengurung tempat pertarungan mereka dan menonton penuh perhatian. Di antara mereka juga terdapat Tika yang menonton dengan alis berkerut.
"Hmmm, kenapa engkau ragu-ragu merobohkan dia?" Tiba-tiba Tika bertanya, di dalam suaranya terkandung rasa penasaran yang amat besar.
Pemuda tersebut kaget dan maklum bahwa dia tengah menjadi pusat perhatian. Mungkin bagi orang-orang lain mereka tidak tahu betapa dia mengalah dan tak mau membunuh lawan, namun pandang mata tajam dari Tika yang ilmunya sudah tinggi akan mudah melihatnya.
Pemuda tersebut menjadi bimbang dan pada saat itu, kaki kiri Wijaya berkelebat menyambar lehernya, dia mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya dan menangkis sekuat tenaga.
"Trakkk!" terdengar suara nyaring saat kaki Wijaya bertemu tangan pemuda tampan tersebut.
Wijaya merasa tulang kakinya seperti patah, kakinya terbanting hingga dia terhuyung limbung, detik berikutnya serangan balasan pemuda tersebut masih menyerempet pundaknya.
"Aihhhhh…!" wijaya terhuyung dan roboh, dengan tulang pundak juga retak.
Sinar putih berkelebat menyambar ke arah kepala Wijaya yang masih rebah miring. Sinar itu adalah sabuk sutera yang digerakkan Tika. Agaknya gadis ini tidak bisa mebahan emosinya saat nengetahui kebejatan Wijaya, untung saja dia sendiri tadi telah siaga dengan meminum obat anti racun dan peransang jika tidak dirinyapun mungkin akan jadi korban Wijaya.
"Takkkk…!" Ujung sabuk sutera tertangkis oleh sang pemuda sehingga luput mengenai sasaran.
"Ehhhh kamu...!" Tika berseru kaget menunjuk muka sang pemuda.
Pemuda tersebut menarik napas panjang. "Nona, maafkan aku. Perlukah kita membunuh dia?. Dia sudah kalah, lebih baik kita serahkan pada pihak yang berwajib"
__ADS_1
"Tapi... tapi... dia telah meracuni kami bahkan sudah berniat memperkosa pula" ucap Tika emosi.
"Benar, akan tetapi apakah untungnya menghabisinya?, Akan tetapi aku juga tidak ingin melihat engkau menjadi buronan polisi sebagai pembunuh. Lihatlah kita sudah di kerumuni pihak hotel dan pengunjung yang akan menjadi saksi kalau nona melakukan pembunuhan" ucap pemuda tersebut.
"Nona, kuharap engkau suka memenuhi permintaanku, yaitu kita serahkan saja pada polisi yang juga sudah hadir di sini" ucap pemuda tersebut menunjuk seorang petugas yang sudah ada di antara mereka.
Tika mulai ragu untuk melanjutkan serangannya, memandang kepada pemuda tersebut, kemudian kepada Wijaya yang kini sudah merangkak bangun dengan wajah berkerut-kerut menahan sakit.
"Akan tetapi, andai kata dia tidak kubunuh, Tika rasa akan banyak wanita yang akan menjadi korbanya di masa yang akan datang!" ucap Tika masih ngotot.
"Aku masih percaya hukum akan memperlakukannya secara adil, hukum akan memberikan epek jera baginya. alalagi setelah aparat menyaksikan sendiri kekejianya terhadap adikku Giza" pemuda tersebut menunjukkan Giza yang masih terbaring lemah.
"Anak muda engkau benar!" Tiba-tiba terdengar suara keras seorang anggota kepolisian.
Polisi yang masih menggunakan seragam lengkap melangkah maju lalu memegangi Wijaya dan membelenggunya.
"Saya juga merasa sakit hati, emosi melihat kebejatannya, kalau di ikuti emosi ingin rasanya saya tembak kepalanya. Akan tetapi sesudah mendengar kata-kata anak muda tadi, saya merasa malu untuk bertindak arogan"
"Ayo bawa dia ke kantor polsek," kata petugas pada polisi lainya.
"Wijaya, Mudah-mudahan engkau bertobat dan menebus kejahatan-kejahatanmu dengan perbuatan baik," kata sang pemuda saat polisi membawanya pergi dengan tangan terbelenggu.
Melihat om Wijaya sudah dilumpuhkan pemuda tampan yang ternyata kakaknya Giza dan di giring polisi ke kantor kapolsek, diam diam Linggo dan Beni merasa takut lalu menyelinap pergi meninggalkan hotel.
Linggo bangkit lalu berlari, tubuhnya genetaran, rambutnya riap-riapan tertiup angin dengan wajahnya pucat pasi. "Fhadlan, keparat busuk! hari ini kau selamat dari ku, tapi kelak engkau akan kubunuh dengan tanganku sendiri...!"
Sementara sang pemuda kembali menyadarkan Tika, yang masih berdiri dengan wajah mengkal.
"Nona selamatkan saja adik mu, saya yakin sasaran mereka adalah adikmu" ucap pemuda tersebut.
Tika sadar telah melupakan Fhadlan waktu mendengar kegaduhan perkelahian pemuda tersebut dengan Wijaya, dia bahkan secara reflek melesat kearah kegaduhan meninggalkan Fhadlan yang terbaring lemah di aula hotel.
__ADS_1
Tika segera kembali ketempat di mana Fhadlan yang sudah sadar tapi juga masih terbaring lemah tak berdaya, pandangan Tika menyapu sekeliling ruangan mencari keberadaan Beni dan Linggo. Namun mereka berdua telah lenyap bagai di telan bumi.
"Keparat ini semua pasti ulah Balqis Kingdon" maki Tika.
"Mbak Tika kalung Fhadlan di mana!" ucap Fhadlan meraba lehernya yang terasa pedih.
"Jangan bayak gerak dulu dek Lan, leher Fhadlan luka,.... hmmm pasti mereka mengambil kalung Fhadlan secara paksa" Tika memeriksa leher Fhadlan yang lecet.
"Dimana kalung Fhadlan, siapa yang mengambilnya" tanya Fhadlan.
"Siapa lagi kalau bukan Linggo teman Fhadlan" ucap Tika.
"Linggo......" teriak Fhadlan tiba tiba dia berdiri seperti tidak pernah terjadi sesuatu pada dirinya.
"Mbak Tika di mana dia, Fhadlan tak akan mengampuni linggo kali ini" ucap Fhadlan yang sudah berdiri penuh emosi.
"Brakkkk" sebuah meja hancur berkeping keping beterbangan ke seluruh ruangan karena tendang Fhadlan yang sudah mengamuk.
Tika merasa kagum dengan tenaga Fhadlan yang masih dalam pengaruh obat tidur tapi pukulanya masih mampu menghancurkan meja hingga tak berbentuk lagi.
"Tenang dek kita akan cari kemanapun dia pergi. Betapa gembira hati mbak Tika menyaksikan kemajuan tenaga dalam dan saipi angin Fhadlan. Dengan kepandaian dek Fhadlan sekarang akan mudah bagi mbak Tika menghadapi mereka"
"Maaf kan kak Tika, telah lalai mengawasi Fhadlan hingga kalung adek telah di curi mereka" Tiba-tiba Tika mengeluh menyesali kelalayanya.
"Mbak Tika tau gak itu kalung sama berharganya dengan nyawa Fhadlan" keluh Fhadlan saat melihat di aula hanya tinggal mereka berdua.
"Hmmm jangan terlalu memuja ajimat dek.. jangan terlalu percaya dan mempercayakan nasip pada ajimat" ucap tika.
"Mbak itu bukan ajimat" ucap Fhadlan.
"Kalau bukan ajimat emangnya apa?" Tanya Tika.
__ADS_1
"Itu kapsul waktu mbak, yang harus Fhadlan buka di tahun 2020, menurut pak Sukarjan kemungkinan besar berisi petunjuk tentang pusaka dan harta warisan raja Nusantara" tutur Fhadlan sedih.
"Haaaah ... kapsul waktu?" tanya Tika kaget.