FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 88


__ADS_3

Pertempuran hebat terjadi dengan dahsyatnya saat lima pengawal pengamanan luar istana serempak maju mengeroyok wanita bertopeng yang sedang mengamuk membantai anggota Imperium balqis.


Lima pengawal ini sangat marah saat mengetahui ada penyusup yang masuk, itu artinya merekalah yang di salahkan telah lalai dengan tugasnya.


"Suiiiiiit....!" salah satu mereka bersuit nyaring, spontan kelima mereka mengurung wanita bertopeng yang bergerak bagai bayangan di tengah ruangan.


"Ser.. serrr... serrr" pedangnya menyambar nyambar dengan cepat.


"Aihhh ...." tiga orang pengawal hampir saja tersambar pedang.


"Serrrrrr....." kali ini pedang mengarah ke leher sang jendral.

__ADS_1


"Pedang yang ganas" jendral pengamanan luar istana nelompat mundur saat merasakan angin pedang menerpanya sangat dahsyat.


"Ck ck ck.... " Fhadlan yang masih berdiri tidak jauh dari sang jendral ikut kagum saat merasakan betapa kerasnya angin sabetan pedang wanita bertopeng itu.


Tak lama kemudian masuklah dalam ruangan itu seorang laki-laki berpakaian pembesar tinggi Imperium Balqis, diikuti oleh seorang lelaki kurus berpakaian sederhana berusia kurang lebih empat puluh tahun yang kelihatannya seperti orang berilmu tinggi.


Sesaat wanita bercadar melirik ke arah dua orang pembesar itu, diam-diam dia terkejut melihat sinar mata kedua orang pembesar itu yang demikian terang dan tajam bagaikan mata harimau di tempat gelap.


Jendral pengamanan luar istana menyambut dua orang pembesar itu, akan tetapi jelas bahwa jendral ini amat menghormati pembesar yang bertubuh tinggi, yang usianya sudah lebih tua dari dirinya. Sedangkan pembesar kedua yang pendek tubuhnya dan memakai topi bundar (peci) dan berpakaian serba putih pula, membungkuk-bungkuk dengan sikap tenang kepada Jendral pengamanan luar istana.


"Kebetulan sekali engkau datang, Panglima Perdinan. Lihatlah wanita muda bertopeng itu. Bagaimana pendapat Panglima Perdinan?" tanya sang Jendral.

__ADS_1


"Hemmm, mengingatkan hamba akan kayu yang tumbuh di gurun, kecil pohonnya tapi sangat kuat kayunya, saya yakin dialah yang telah membunuh kaisar Linggo Bramantio ponaan Jendral Cahyono" ucap pembesar yang di panggil Perdinan.


"Ha-ha-ha-ha, wawasanmu terlampau mendalam, Panglima. Kalau tidak ingat dia telah mrmbunuh ponaan ku, maka sku lebih suka dia dijadikan pengawal pribadi Kaisar" Jendral Cahyono terlihat agak jengkel.


"Mana mungkin Jendral... dia adalah musuh yang sangat berbahaya yang telah membunuh Kaisar Linggo, memang ilmunya sangat tinggi pantas saja kaisar tewas tanpa sempat berteriak" Perdinan mengingatkan Jendral Cahyono.


"Justru itulah, kita harus berusaha menundukkannya, Tahukah engkau, wahai Panglima yang bijaksana, bahwa selain dia datang untuk mencuri ajimat Kaisar, dia juga wanita lihai yang ingin melenyapkan Imperium Balqis?"


Panglima Perdinan menarik nafas dalam "Aku sudah dengar kalau dia sudah berkali kali menyusup ke markas berkali kali pula bentrok dengan Kaisar Linggo dan nyaris merampas kalung Kaisar untungnya selalu di gagalkan Beni dan guru silat Kaisar"


"Iya Dosanya tidak kecil, sayangnya, pengawalku tidak mampu menundukkan nya apalagi mengambil ajimat Kaisar dari tangannya," kata pula Jendral Cahyono sambil tersenyum masam.

__ADS_1


"Ah, benarkah? Jendral, kalau begitu biar aku suruh pembantu ku, untuk ikut mengambilkan Ajimat itu dari tangannya?"


"Ha-ha-ha, ini pengawal mu si Josef yang dahulu berjuluk Setan seribu tenaga kuda kan, Bagus...cobalah!"


__ADS_2