FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 71


__ADS_3

"Dua bulan yang lalu kelompok Imperium Balqis sebanyak 1.800 anggota di sini dan sekitar 3.000 orang asing bermarkas di Kota Magrib, keseluruhan mereka yang ada di Yaman mencapai 24.000 personil aktif" jelas Asma pada Paman Hamdi saat mereka akan menyerbu markas Imperum Balqis.


"Jihad sedang berlangsung sampai hari penghakiman," kata paman Hamdi pada pendukungnya.


Pasukan Resimen Hamdani yang di bantu beberapa penduduk bergerak maju dari dua arah untuk menembus pertahanan Imperium Balqis.


Satu kelompok pasukan resimen Hamdani bergerak maju dari selatan, melewati perbukitan yang di kuasai Imperium Balqis.


Pasukan lain yang melancarkan serangan bergerak maju dari lembah yang di tumbuhi hutan jeruk yang merupakan akses utama keluar masuk markas Imperium balqis.


Sementara Fhadlan, Fhadli Asma dan beberapa orang pilihan, bergerak terlebih dahulu. Kelompok Fhadlan petugas melucuti bom pinggir jalan dan peledak yang dipasang oleh anggota Imperium Balqis, di samping itu mereka juga bertugas membersihkan penembak jitu dan penembak anti tank yang di siapkan Imperium Balqis.


Asma sebagai petunjuk jalan membawa mereka hingga kebun jeruk tempat biasanya mereka latihan.


"Sebentar coba lihat di bukit berbatu di sisi barat biasanya selalu di tempatkan sniper dan anti Thank, kita harus membersihkan mereka sebelum kelompok pertama dan kedua bergerak" ucap Asma.


"Tar tar tar ..." suara tembakan terdengar dari perbukitan.


"Sing sing sing" desingan peluru terdengar dekat dari mereka. mereka mencoba bertahan di balik sebuah batu.


Meskipun tentara Imperium Balqis sudah terus menghujani mereka dengan tembakan, mereka tetap mencoba bertahan dan membalas serangan.


Untuk mencegah jatuhnya korban, Fhadlan perintahkan pasukannya untuk mundur ke paret perlindungan.


"Duaaaar" benar saja saat mereka berada di paret perlindungan sebuah tembakan anti tank menghancurkan batu tempat perlindungan mereka.


"Lihat perbukitan di sisi barat di penuhi sniper dan penembak anti tank, kita di bejali senjata laras panjang untuk bertarung dengan sniper mereka, ayo kita cari posisi anam untuk membalas serangan mereka" ucap Fhadlan.


Masing masing mulai membidik untungnya bukit sisi barat sedang di terpa sinar matahari sehingga setiap senjata sniper mereka memantulkan cahaya matahari, kilatan cahaya pantulan membuat mereka dengan gampang mengetahui posisi mereka.


"Tar tar tar" tembakan balasan dari Fhadlan dan teman temannya juga mulai terdengar.

__ADS_1


mereka bergerak maju sambil memperhatikan perbukitan sisi barat yang sudah mulai sepi tembakan. mereka juga bisa melihat kalau kelompok pertama sudah bergerak menelusuri perbukitan barat. Sementara pasukan utama yang di dukung tank baja juga sudah bergerak melalui lembah.


Saat kelompok pertama telah merebut Perbukitan di disisi barat dan secara pasti meteka bergerak ke arah pangkalan tentara Imperium Balqis.


Kedua kelompok itu sesusi rencana bertemu di pangkalan Imperium Balqis, dengan anggota Fhadlan yang sudah terlibat baku tembak dengan sengit.


Perang pertama bagi Fhadlan dan resimen Hamdani, telah menjadi saksi nyata keberanian dan kepahlawanan Fhadlan ketika memerangi Beni, seorang perwira dan jawara yang tangguh dari Imperium Balqis.


Dengan angkuhnya Beni menari-nari di atas mobilnya sambil memainkan senjata beratnya, mengejek resimen Hamdani seraya berkata.


"Hai kalian yang menamakan diri kalian mujahidin, manakah surga yang telah dijanjikan kepada kalian, bahwa orang yang gugur diantara kalian akan masuk kedalam sorga? Inilah dia surga yang kini berada di hadapan-mu, maka sambutlah.”


Senjata nya terus menghujani tempat tempat perlindungan resimen Hamdani, bahkan senjatanya seperti menembus tank baja milik pasukan Hamdani. Namun nyatanya tak ada seorangpun dari resimen hamdani yang berani maju bahkan bergerakpun mereka akan jadi sasaran tembak senjata Beni.


Tak lama kemudian Fhadlan pun berdiri dan berkata kepada Paman Hamdi ”Ya paman Hamdi, kalau Anda mengijinkan, maka saya akan maju untuk bertarung melawannya”


Paman hamdi menarik napas berat lalu menjawab.


Fhadlan pun menjawab.


"Ya paman, Saya tahu dia itu adalah Beni yang sakti mandra guna, akan tetapi bukankah ia juga manusia seperti kita?”


Akhirnya paman hamdi mengijinkan Fhadlan untuk bertarung melawannya.


Selang beberapa saat kemudian, Fhadlan telah maju ke gelanggang pertempuran untuk bertarung melawan Beni.


"tar tar tar" Fhadlan terus bergerak maju membidik beni yang berdiri di atas mobilnya, dia juga harus bergerak menghindari peluru senapan mesin yang muntah dari mobil Beni.


Lalu Beni dengan memandang remeh kepadanya, berkata.


”Kamu jangan maju ke sini hai anak saudaraku! Kamu masih kecil. Aku hanya menginginkan orang yang lebih tua darimu, karena aku pantang menumpahkan darahmu.”

__ADS_1


Fhadlan menjawab. "Jangan sombong dulu hai Beni. Aku akan buktikan bahwa aku dapat merobohkan-mu hanya dalam beberapa detik saja dan aku tidak segan-segan untuk menghantarkanmu ke liang kubur.”


Betapa marahnya Beni mendengar jawaban Fhadlan, dia berjumpalitan menghindari peluru dari senjata Fhadlan, Lalu ia turun dari atas mobilnya dan dihunusnya pedang miliknya itu ke arah Fhadlan.


Sementara itu menghadapinya dengan senjata laras panjang di tangan kirinya.


Tiba-tiba Beni melancarkan serangannya dengan pedang. Dan fhadlan pun menangkis serangan itu dengan menggunakan senjatanya.


"Tak... " pedang dan senjata Fhadlan terbentur dengan keras, senjata dan pedang Beni sama sama terlempar.


"Eh-eh, sahabat gagah... tunggu dulu!" Suara Beni itu berseru dan tangannya diulurkan ke depan seperti hendak mencegkram tangan Fhadlan.


Walau pun gerakan ini biasa saja, namun diam-diam Fhadlan terkejut juga karena ada sambaran angin yang dahsyat dari tangan Beni! Namun angin pukulan ini bukan merupakan serangan, melainkan lebih merupakan ‘ujian’ karena tangan itu tidak menampar atau pun memukul, melainkan mencengkeram untuk memegang lengan Fhadlan.


Fhadlan hanya menggoyangkan tangannya untuk menghindar dari cengraman Beni


"Plak! Plakk!"


Meski pun kedua tangan itu tidak saling sentuh, namun pertemuan dua hawa pukulan di antara kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunyi nyaring dan di dengar sampai jauh. Kali ini Beni yang sangat terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya terpental dan terasa panas.


Beni berdiri bengong menatap Fhadlan, rasanya tak mungkin Fhadlan memperoleh kemajuan tenaga dalam secepat ini, setidaknya dia harus latihan selama dua puluh tahun untuk bisa menandinginya.


Saat Beni binggung maka secepat kilat Fhadlan menghantamkan dengan keras pada tengkuknya hingga Beni tersungkur ke tanah dengan leher bersimbah darah.


"Di mana kalung Fhadlan?" tanya Fhadlan saat mendapati kalung yang di pakai beni juga palsu.


"Kalung mu ada pada Linggo yang sekarang ada di kota Magrib" ucap Beni.


Setelah menggeledah Beni yang sudah tak berdaya, Fhadlan kembali kepasukannya.


Dalam kurun waktu 1,5 jam, mereka sudah berhasil mengepung kedudukan markas Imperium Balqis. Pertempuran sengit terjadi antara resimen Hamdani melawan 1.800 personil Imperum balqis yang terlatih.

__ADS_1


Setelah markas mereka dikepung selama empat jam. Pasukan Imperium Balqis yang sudah merasa terdesak berusaha untuk memutus pertempuran. Akhirnya pasukan Imperium Balqis meninggalkan markas mereka dan mundur ke kota Magrib.


__ADS_2