
"Ibu gak sarapan?" tanya Fhadlan membuyarkan lumunan ibu Maryani.
"Sudah ... ibu sudah sarapan di warung Lan" ucap ibu Maryani kaget.
"Ibu baik baik saja kan?" tanya Fhadlan saat memperhatikan ibu Maryani yang terlihat kurang gairah.
"Maafkan ibu Lan... ibu hanya merasa lelah dan ingin istirahat" jawab ibu Maryani.
"Berarti kita tidak turun ke jalan menjajakan tisu ya bu?" tanya Fhadlan lagi.
"Tidak nak .. kamu boleh main sepuasnya hari ini" ucap ibu Maryani.
"Horee.... yes" ucap Fhadlan kegiarangan.
"Tapi Fhadlan juga lelah bu, Fhadlan ingin tidur" ucap Fhadlan.
"Serah Fhadlan ... kalau lelah gak usah main mendingan Fhadlan nya baring di kamar gih" ucap ibu Maryani.
"Iya bu" ucap Fhadlan melangkah ke kamar mereka.
Tak lama kemudian Rolan dan Satrio memasuki rumah.
"Pagi bu" ucap Rolan dan Satrio menyapa ibu Maryani yang masih merenung di ruang tamu.
"Pagi Rolan, pagi Satrio" sapa ibu Maryani
"eh kalian gak jadi gamen?" tanya ibu Maryani.
"Gak buk Rolan kurang enak badan" jawab Satrio.
"Iya udah, kalian sarapan dulu lalu istirahat" ucap ibu Maryani
****
Jam 10 pagi di ruang tamu terlihat pak Herman, ibu Maryani dan dua orang berpakaian sebagaimana pakaian dokter di rumah sakit. Terlihat salah satu mereka melakukan tes sampel darah yang baru saja di ambil dari tubuh Fhadlan, Rolan dan Satrio saat meteka terlelap tidur.
__ADS_1
Fhadlan membuka matanya di lihatnya Rolan dan Satrio juga terlelap di sampingnya. Sisa sisa kantuknya masih terasa kembali di berbaring matanya kembali menyipit kemudian terpejam. di ruang tamu sayup tetdengar di telinga Fhadlan suara ibu Maryani, pak Herman dan beberapa suara yang terdengar asing bagi Fhadlan.
"Bagaimana dok ... apa ada ginjal mereka yang cocok?" tanya pak Herman pada dokter Fredi, seorang dokter spesialis urologi yang sedang memeriksa sampel darah anak anak asuh bu Maryani.
"Semua ginjal mereka cocok untuk anak pak Brata" ucap dokter Fredi.
"Kita akan abil ginjal anak yang paling besar, siapa ya... namanya?" tanya dokter Ferdi memeriksa data ketiga anak asuh ibu Maryani.
"Satrio dok... " jawab ibu Maryani.
"Ya benar .. Satrio" ulang dokter Ferdi.
Fhadlan sangat kaget dengan apa yang dia dengar, masih dengan mata terpejam dia berusaha mendengarkan percakapan meteka. tak lama kemudian terdengar sebuah meja di seret lalu terdengar pintu kamar terbuka. Fhadlan ingin membuka matanya tapi terasa berat, makin dia coba melawan kantuknya tapi matanya makin terasa berat untuk di buka.
"Pak herman .... bantu saya angkat tubuh Satrio ke meja" kata dokter Fredi.
Fhadlan merasa ada beban berat menindih tempat tidur mereka, tak lama kemudian tempat tidurnya tersa bergoyang lalu diam kembali, samar samar Fhadlan melihat tubuh Satrio di baringkan di atas meja di tengah kamar. disudut kamar terlihat meja kecil penuh peralatan operasi dari jarum suntik, pisau dan gunting.
"Bagai mana dokter Edy?... bisa kita mulai?" tanya dokter Ferdi pada dokter Edy seorang dokter spesialis anastesi.
"Jam berapa mereka mengkonsumsi obat tidur bu?" tanya dokter Edy pada ibu Maryani
"Sekitar jam delapan pagi dok" ucap ibu Maryani
"Obat tidur yang di berikan ibu Maryani akan bertahan hingga jam sebelas, kita perlu melakukan pembiusan lokal sebelum pengaruh obat tidur membangunkan Satrio" ucap dokter Edy lalu melakukan penyuntikan obat bius di punggung Satrio.
Dokter Edy mulai menggunting baju dan celana yang melekat di tubuh Satrio, lalu membersihkan bagian di bawah perut satrio hingga ke pinggang.
"Kalaupun Satrio bangun dia akan mati rasa dari dari punggung hingga pangkal kaki" ucap dokter Edy.
Fhadlan mulai bisa melihat dengan jelas saat dokter Edy terus memeriksa keadaan tubuh Satrio, memastikan kalau obat bius yang dia suntikkan bekerja dengan baik.
"Siap dok" ucap dokter Edy pada dokter Fredy sebagai isyarat operasi sudah bisa di lakukan.
Dokter Ferdi pun dengan cekatan membedah bawah perut melintang ke arah pinggang kiri Satrio. semua yang di lakukan dokter bedah terlihat jelas oleh Fhadlan sekalipun matanya setengah terpejam menahan kantuk. Fhadlan menyaksikan pisau bedah mengiris pinggang Satrio, lalu kedua sisi di jepit pinset, kemudian dokter Ferdi mulai menggunting lapisan yang lebih dalam.
__ADS_1
"Itu ginjalnya sudah keliatan dok" ucap dokter Edy.
"Iya.... siapkan wadahnya" ucap dokter Ferdi.
Setelah ginjal di angkat dokter Ferdi mulai menjahit luka bedah di bawah perut Satrio. Operasi berjalan cepat dan lancar hanya butuh waktu lima belas menit sayatan di bawah perut Satrio sudah di jahit kembali oleh dokter Ferdi tanpa Satrio sadari.
Pencurian ginjal dan organ tubuh adalah salah satu kejahatan belakangan ini, itulah yang terjadi pada Satrio. Memang beberapa tahun belakangan ini menurut WHO terjadi jutaan kasus cangkok organ di seluruh dunia. Ini satu kemajuan di bidang kesehatan tapi di sisi lain asal organ yang di cangkokkan di pertanyakan.
"Dari mana organ tubuh untuk donor di Diperoleh?
Bagaimana cara memperolehnya?
Adakah yang secara sukarela memberikan atau menjual organnya tubuhnya?.
Mungkinkah para pendonor mau mengorbankan organ pital seperti jantung, hati dan lainnya utuk menyelamatkan nyawa seseorang sementara nyawanya sendiri melayang?.
Itu beberapa pertanyaan yang sering di ajukan dalam tiap seminar pembahasan cangkok organ. Sehingga beberapa ilmuan mencoba meneliti dan hasil penelitian mereka sangat mengejutkan, ternyata sebagian besar cangkok organ di peroleh dari pasar gelap. Mungkin saja organ yang di peroleh di pasar gelap di ambil dengan cara cara seperti yang terjadi pada Satrio.
Fhadlan sepenuhnya sudah terbebas dari pengaruh obat tidur yang di berikan oleh ibu Maryani, menyaksikan kejadian yang nenimpa Satrio timbulah rasa takutnya, mukanya pucat pasi semua bulu bahkan rambutnya terlihat berdiri. Tangan Fhadlan mencenkram tubuh Rolan di sebelahnya, merasa kesakitan Rolan yang juga sudah bebas dari pengaruh obat tidur jadi terjaga. Berlahan Rolan membuka matanya, dia hanya tertegun melihat pemandangan di depannya.
Saat dokter Edy dan dokter Ferdi mengangkat tubuh Satrio lalu membaringkan di samping Rolan, barulah Rolan sadar akan apa yang terjadi. Sontak Fhadlan Rolan bangun dengan rasa takut yang sudah menguasai mereka.
"Hoaaaaa, hoooaaaa" jerit Fhadlan menangis sangat kencang.
"Hooooaaaaa .... Tolooooggg" pekik Rolan juga menangis.
Pak Herman yang sangat panik mendengar jeritan Fhadlan dan Rolan, segera menangkap Rolan lalu mengancamnya.
"Diammm... diam kau" bentak pak Herman.
"Atau kalian berdua akan mengalami nasip yang sama dengan Satrio" acam pak herman.
"Tangkap yang satunya mereka harus dibius juga biar tenang" ucap dokter edi mengambil peralatan bius.
Ibu Maryani segera memegangi Fhadlan sementara pak herman memegangi Rolan yang terus meronta.
__ADS_1
"Udah sekalian aja ginjal mereka bertiga di angkat, mumpung agen pasar gelap juga punya pesanan yang sama" ucap dokter Ferdi.