FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 26


__ADS_3

"Apa ya cita cita Fhadlan?" tanya bu guru.


Fhadlan berpikir sejenak, tiba tiba dia ingat ucapan pak Sukarjan tentang Raja Titisan Dewa maksudnya adalah Utusan Allah serang Wali semacam ulama suci pada suatu agama.


"Dadi Wali.. buk guru" jawab Fhadlan.


Buk guru terperangah mendengar jawaban Fhadlan, satu satunya muridnya yang kepikiran untuk menjadi Wali.


"Wali apa Fhadlan... Wali Kota, atau cuma Wali Kelas seperti ibuk guru?" tanya buk guru lagi.


"Wali Allah... buk guru" jawab Fhadlan lagi.


Buk guru diam sejenak, makin heran dengan jalan pikiran Fhadlan, tali dia tetap memberi komentar memuji.


"Itu juga bagus.. Fhadlan harus belajar ilmu agama biar cita cita nya terkabul" komentar ibu guru memberi semangat.


Hingga jam istirahat mereka masih menghafalkan kata kata bahasa jawa untuk percakapan sehari hari. Saat lonceng istirahat berbunyi Fhadlan dan Tatang masih duduk di bangku mereka, mereka bingung harus bagaimana sementara itu teman sekelas mereka sudah berhamburan menyerbu tempat jajanan di luar kelas.


"Fhadlan ... Tatang kalian tidak jajan?" tanya Andina yang baru saja kembali dengan es potong di tangannya.


Melihat Andina dengan jajanan es potong terbitlah selera Fhadlan untuk jajan es potong. Es potong merupakan jajanan berupa minuman manis yang di bungkus plastik setelah membeku es tersebut di potong potong sesuai permintaan harga mulai dari Rp. 500, Rp 1000 hingga Rp 2000. es potong merupakan salah satu jajanan paporit Fhadlan waktu menjadi mengemis di ibu kota.


"Di mana belinya, Dina?" tanya Fhadlan.


"Di situ di luar gerbang sekolah" ucap Andina menunjuk ke luar pagar depan sekolah.


"Tatang tunggu sini ya, biar Fhadlan beliin" ucap Fhadlan telah menghambur ke gerobak es potong yang mangkal di luar pagar sekolah.


"Es potong dua ribu mang, tapi di buat dua potong seribu seribu" pinta Fhadlan.


"Yo wis, endi dhuite" ucap mamang tukang es.


Fhadlan seperti linglung harus jawab apa, tapi dia ngerti kalau duit yang di maksud mamang es adalah uang, seketika Fhadlan memberikan uang dua ribuan pada mamang es.

__ADS_1


"Ini mang" ucap Fhadlan memberikan uang dua ribu rupiah.


"Matur nuwun" ucap mamang es menyerahkan dua es potong yang telah di tusuk lidi sebagai pegangan.


Saat Fhadlan memasuki kelas dia melihat seorang murid yang paling besar di kelas mereka sedang berusaha merebut pensil dari tangan Tatang.


"Iku potlotku" ucapnya dengan bahasa jawa.


"éta pensil kuring" ucap tatang dengan logat sunda, berusaha mempertahankan pensilnya.


"Iku potlotku... éta pensil kuring... iku potlotku.. éta pensil kuring" Tatang dan murid yang mencoba merampas pensil mulai bertengkar sengit.


Andina yang ada di dekat mereka berusaha untuk melerai.


"Eh Bram kamu ya.. tiap hari bikin gaduh, gak ada kapoknya dihukum buk guru" ucap Andina.


Linggo Bramantio Kawisworo itulah nama anak yang bertengkar dengan Tatang, dia memang di kenal dengan murid bandel di kelas. Semua murid tidak ada yang berani padanya. Hampir tiap hari ada saja siswa yang di pukulinya.


"Buk guru.. Lihat bram jahat" teriak Andina berlari keluar kelas di kejar Bramantio.


Bramantio berhenti mengejar Andina saat melihat Fhadlan masuk membawa dua potong es di tangannya.


"Bagus kamu belikan es buat bram.. sini" kata bram pada Fhadlan.


"Ini es buat tatang bukan buat lo goblok" ucap Fhadlan lalu menyerahkan sepotong es pada tatang.


"Eh anak kecil, kamu bilang Bram goblok, coba katakan sekali lagi kalau berani" ancam Bram.


"Fhadlan yang sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan anak jalanan ibu kota tentu saja tak takut dengan ancaman Bram.


"Lu pikir lu siapa... goblok" tantang Fhadlan.


"Anak kecil kamu berani ya" Bramantio yang berwatak Bringas mendapat tantangan Fhadlan tentu saja tak mau terima, tinjunya yang sejak tadi terkepal sudah melayang ke arah muka Fhadlan.

__ADS_1


Fhadlan bukanlah anak bisa di permainkan seperti anak anak lainnya dengan jurus tangan kosong yang di ajarkan kakek Ammar waktu di desa dengan mudah Fhadlan mengelakkan setiap pukulan Bram, bahkan sebuah pukulan balik Fhadlan dengan telak menghantam ulu hati Bramantio.


"Bruuuk" Bramantio jatuh terduduk dengan keras.


"Aiiiih" Bramantio meringis kesakitan seluruh dadanya terasa sakit, dadanya sesak napasnya berhenti sejenak. Namun mental Bramantio luar biasa sekalipun air matanya mulai menetes tetap ditahannya untuk tidak menangis.


"Tidak sakit" ucap Bramantio menghapus air matanya, lalu kembali bangkit berusaha menyerang Fhadlan.


Dengan jurus rajawali sakti nembelah awan kembali Fhadlan mengelak dengan gesit, lalu me melayangkan pukulan balasan mengarah pelipis Bramantio.


"Duk" tinju lurus Fhadlan kembali dengan telak menghantam pelipis Bramantio, tak pellak lagi tubuh Bramantio terpental jatuh terjengkang.


"Brukkkk" tubuh Bramantio jatuh tepat di hadapan buk guru yang masuk setelah mendengar ada kegaduhan dalam kelas.


"Bram .. kamu tak inssyaf insyafnya tiap hari berkelahi" kata ibuk guru telah menjewer kuping Bramantio.


"Ayo kalian berdua ikut ibu ke kantor" ucap buk guru pada Fhadlan dan Bram.


Di kantor guru Fhadlan dan Bramantio di nasehati untuk tidak berkelahi lagi. Setelah mereka saling maafkan mereka kembali ke kelas manjutkan pelajaran. Semenjak saat utu Bramantio tidak berani lagi mengganggu tatang teman sebangku Fhadlan, walaupun dia masih merasa dendam pada Fhadlan masih terpendam namun nyakinya sudah ciut semenjak perkelahian dengan Fhadlan sudah berubah menjadi dia di hajar Fhadlan.


****


Tiga tahun sudah Fhadlan bersama Pak Sukarjan jalinan kasih antara mereka makin kuat, mereka memiliki kecocokan dalam banyak hal, sehingga mereka terlihat sangat akrab. Mereka sama sama tertarik dengan sejarah kepurbakalaan, sehingga Fhadlan dengan cepat bisa mewarisi keahlian pak Sukarjan dalam membaca tulisan kuno.


Pak Sukarjan juga telah menyusun beberapa kamus bahasa bahasa kuno yang lazim di gunakan dalam berbagai artefak kepurbakalaan. Pak Sukarjan juga meminta Fhadlan mempelajari kamus ciptaannya dalam menterjemahkan berbagai artefak dan kitab kitab kuno.


Tidak sulit bagi Fhadlan mempelajari kamus pak Sukarjan karena mereka langsung praktek dengan menterjemahkan kitab kitab kuno yang ada di ruang kerja pak Sukarjan.


Sekarang Fhadlan bukan hanya bisa membaca kitab kuno tapi dia juga bisa mengerti berbagai tulisan yang terdapat pada kitab kitab kuno tersebut.


Pagi minggu katena hari libur Fhadlan tidak sekolah, pak Sukarjan yang juga libur minta Fhadlan membersihkan ruang kerjanya, mereka sangat akrab dan kompak bekerja. Terlihat pak sukarjan dengan sangat hati hati merapikan kitab kitab yang di tulis di atas daun lontar.


"Hati hati lan" ucap pak sukarjan saat memperhatikan Fhadlan sedang memindahkan, sebuah kitab kuno yang ditulus di atas kain sutra yang di beri semacam zat pengawet seperti lilin.

__ADS_1


__ADS_2