
FHADLAN GENERASI MILINIUM TRENDI
Merupakan lanjutan Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN), di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1179263&\_language\=id&\_app\_id\=2
"Fhadlan..." jerit Sherina histeris.
Sherina tak tau apa yang harus di lakukan sambil menggendong Rania anaknya, tangisnya makin jadi.
"Fhadlan.... bangun nak" tangis Sherina makin jadi.
Tubuh Fhadlan diam tak bergerak hanya napasnya yang pendek dan deras menandakan nyawannya masih bertahan di badannya. Matanya terpejam dari hidungnya mulai keluar darah hitam, Fhadlan tergeletak lemas tak sadarkan diri.
"Tenang Sherina jangan panik, ambilkan kapas" pinta kakek Ammar pada sherina.
Shrrina mengambil kapas yang di minta kakek Ammar.
"Ni kapasnya yah" kata Sherina masih nangis, Sherina mondar mandir tak tau harus berbuat apa.
Kakek Ammar membersihkan hidung Fhadlan dengan kapas hingga tidak terlihat lagi darah tersisa. Kembali kakek memotong jeruk nipis jadi dua bagian lalu di tempelkan pada bagian dada Fhadlan, terlihat pori pori kulit Fhadlan seoerti bintik bintik hitam tiap di tempeli jeruk nipis. Kakek Ammar mencelupkan jeruk nipis bekas di tempelkan pada dada Fhadlan, terlihat air mulai berubah warna merah hitam tiap kali jeruk nipis di celupkan ke dalam air.
Kakek Ammar menganti air yang sudah berwarna hitam dengan air baru, seperti sebelumnya warna air putih berubah merah hitam diganti lagi dan kakek Ammar menghentikan aksinya setelah air terakhir tidak berubah warna lagi.
"Biar Fhadlan tidur di kamar kakek" kata kakek Ammar memanngku Fhadlan setelah melihat Fhadlan bernafas teratur.
"Dedek ma dedek ma, dedek lan masih hidup kan ma?" tanya Rania menunjuk nunjukin Fhadlan di pengkuan kakek Ammar.
"Masih nak, dedek cuma tidur.. ayo yuk Rania tidur juga ya" sherina menggendong Rania kekamar, dengan air mata masih terus mebasahi pipinya.
Malam terasa panjang bagi sherina dan seisi rumah, setiap saat seperti akan mendapat kabar buruk tentang Fhadlan yang masih tak sadarkan diri di kamar kakek Ammar. Kekek Ammar juga sangat cemas berbaring di samping Fhadlan yang terasa kadang panas kadang dingin.
Sebelum azan subuh barulah Fhadlan sadarkan diri, dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Fhadlan yang belum begitu sadar seperti sedang mengigau memanggil ibunya.
"ma... mama" tangannya yang lemah mencoba memeluk kakek Ammar yang tidur di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu sadar cung" guman kakek Ammar yang semalaman tidak tidur tidur.
"Mama.. mama" teriak Fhadlan mendorong kakek Ammar, saat menyadari yang berbaring di sampingnya adalah kakek Ammar.
"Brrraak" kakek Ammar terbanting tubuhnya berhenti saat membentur dinding kamar.
"Sungguh ajaib" guman kakek Ammar setelah merasakan seperti ada tenaga dhasyat keluar dari tangan Fhadlan saat mendorongnya tadi.
Tak percaya dengan apa yang barusan dia rasakan kakek Ammar kembali mendekati Fhadlan. Mencoba memegang Fhadlan, tapi Fhadlan kembali mendorongnya, kali ini kakek ammar tidak merasakan adanya tenaga dahsyat dari tubuh Fhadlan.
Suatu kemukjizatan telah terjadi pada Fhadlan dalam saat racun jahat dan obat anti racun bekerja pada tubuhnya secara tak di sadarinya tubuhnya telah membentuk antibody yang bisa membuat Fhadlan kebal terhadap racun. di samping itu secara ajaib suatu kekuatan dahsyat juga terhimpun dalam dirinya tanpa disadari Fhadlan.
Sebuah kekuatan tenaga dalam yang jika seseorang melakukannya dengan berlatih harus melakukan latihan bertahun tahun untuk dapat mencapai kekuatan seperti yang di miliki Fhadlan. Secara ajaib pula tanpa di dadarinya meredian meredian Fhadlan telah terbuka sepenuhnya.
Kakek Ammar merupakan prsktisi bela diri di waktu mudannya tentu saja bisa melihat ada perubahan yang sangat nganjil dalam diri Fhadlan. saat ini Fhadlan mungkin tidak menyadarinya dan tak juga mampu menggunakannya. tapi kakek Ammar yakin kalau Fhadlan suatu saat nanti akan mampu menggunakan kekuatanya.
"Mungkin saat dia kaget dan takut kekuatannya secara otomatis tersalurkan" pikir kakek Ammar.
*****
Hari ini Perdinan dan Sherina tidak meninggalkan rumah sengaja menunggu kedatangan abu Daud dan istrinya Umi Sarah. Fhadlan dan Rania asik bermain di halaman rumah di awasi kakek Ammar.
Umi sarah meminta suaminya berhenti di halaman rumah Perdinan memperhatikan anak laki laki yang sedang asik bermain. Dia adalah Fhadlan, pandang matanya sangat tajam mencerminkan kecerdasannya, Umi Sarah melomgo hampir tak percaya kalau itu anaknya, seperti tak puas dia memandang Fhadlan dari balik kaca mata hitamnya.
Fhadlan yang merasa di perhatikan balas menatap, namun betapa kagetnya ketika menyadari orang yang berdiri di depannya adalah seorang ibu muda cantik dengan kaca mata hitam. Dalam pikirannya yang berdiri di depannya adalah ibu Zakiah. Rasa takut spontan merasuki jiwanya bulu romanya pada berdiri bahkan terlihat jelas rambutnya ikut berdiri karena rasa takut yang sangat.
"Mama mama mama" teriak Fhadlan lalu lari ke kamar Sherina dan sembunyi di balik pintu.
"Ini mama lan" ucap umi Sarah menyusul Fhadlan masuk, tapi dia tidak menemukan keberadaan Fhadlan.
"He he Hehehe... Fhadlan nya masih takut mamanya" kakek Ammar tertawa melihat Fhadlan lari seperti melihat h4ntu.
"Umi Sarah, abu Daud.. ayo masuk" sapa Perdinan dan Sherina yang sudah menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
"Ayo bikin kopinya pak Daud, umi Sarah" kata Sherina.
Kebiasaan peduduk Kota Tapus menjamu tamunya dengan kopi yang di seduh sendiri hanya di sediakan termos, gula kopi dan gelas. Demikian keadaan saat Abu Daud dan istrinya mengunjungi Perdinan dan Sherina istrinya, mereka tamu dan tuan rumah sama sama menyeduh kopi sesuai selera masing masing.
Umi Sarah jadi penasaran setelah cukup lama ngobrol tapi anaknya Fhadlan tak nongol nongol juga.
"La Fhadlan nya kemana.. Ran" tanya Umi Sarah pada Rania.
"Ma dedek Lan ma" ucap Rania menarik tangan Sherina ibunya, menunjuk ke kamar.
"Oh iya umi, Fhadlan nya kayaknya masih takut" ucap Sherina, lalu berdiri menuju kamarnya.
Sherina yang sudah hapal tabiat Fhadlan setiap melihat ibu Zakiah, sudah tau kalau Fhadlan ngumpet di balik pintu. Sherina segera menghampiri Fhadlan yang sedang duduk ketakutan di balik pintu.
"Nak Fhadlan ... sini nak ada umi Fhadlan" ucap Sherina.
"Dak, dak mau" teriak Fhadlan di balik pintu.
Sherina menggendong Fhadlan membawanya ke umi Sarah, sementara Fhadlan masih ketakutan mrmbenamkan mukanya ke dada Sherina, tangannya memeluk sherina dengan kuat.
"Lan ... ini Umi" kata Umi Sarah.
Fhadlan diam makin mempererat pegangannya.
"Lan sayang, sini sama umi yuk" Umi Sarah menmbujuk Fhadlan.
"Dak mau, umi jahat" kata Fhadlan.
"Gak umi gak jahat lagi, umi tak kan meninggalkan Lan lagi" kata umi Sarah coba memeluk Fhadlan.
Saat tangan umi Sarah meraih tubuh Fhadlan, ketakutan Fhadlan memuncak kembali bulu bulu romanya berdiri karena takut.
"Dak mauuuuuu" pekik Fhadlan tangannya mendorong umi Sarah.
__ADS_1
"Braak" umi Sarah terbanting sangat kuat oleh dorongan Fhadlan, hingga beberapa saat dadanya terasa sakit, Umi sarah terpekik kaget tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.