
"Marantika dan Fhadlan..?!"
"Srat-srat-sing-singgggg...!"
Hampir semua mulut menyebut nama mereka berdua dan seperti dikomando, tiga belas batang pedang sudah tercabut dari sarungnya, berkilauan di tangan ketiga belas orang anggota Imperum Balqis. Dengan gerakan lincah namun teratur mereka lalu bergerak mengurung dengan sikap mengancam sekali.
Tika masih tenang dan dia hanya mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berkata, "Harap tuan dan nyonya yang gagah perkasa tidak salah sangka. Kami datang bukan dengan niat buruk, namun kami sengaja datang untuk menemui para pemimpin Imperum Baqis untuk menanyakan orang yang telah merampas kalung adik saya, dan mencoba meracuni kami"
"Niat baik kah dalam hatimu?, untuk menuntut pangeran Imperium Balqis yang lebih berhak terhadap pusaka Nusantara" mendadak seorang di antara tiga orang wanita gagah itu bertanya, nadanya juga marah.
"Kakak dan adik sama saja, bahkan menurut Beni dan pangeran Linggo kedatangan mereka berdua sangatlah berbahaya. Tidak boleh dipercaya!" teriakan-teriakan ini dengan kacau terdengar dari banyak mulut dan pedang di tangan mereka yang tadi melintang di depan dada kini telah menodong ke depan.
Perlahan-lahan tiga belas orang anggota Imperum Balqis itu melangkah miring ke kanan, kaki bersilang, terbuka lagi, bersilang lagi dan dengan demikian mereka mengitari Tika dan Fhadlan perlahan-lahan dalam jarak tiga meter di mana Tika dan Fhadlan yang berada di tengah-tengah lingkaran itu.
Seorang di antara mereka yang tertua, yakni seorang pria berjenggot panjang lalu berkata.
"Kalian adalah musuh besar Pangeran Linggo dari Imperum Balqis, kami seluruh pengawal pangeran tidak akan membiarkan kalian mendekatinya"
Melihat mereka semakin dekat, Tika masih tetap tenang dia yakin dengan bantuan Fhadlan akan dapat dengan mudah menundukkan mereka, lalu Tika menawarkan sebuah solusi.
"Hemmm, Jika saya menghendaki maka dengan mudah dan dalam waktu singkat kami dapat membunuh kalian semua. Namun kedatangan kami dengan niat baik, oleh karena itu jika kalian memaksa maka terpaksa kami akan melucuti senjata kalian".
__ADS_1
Wajah ketiga belas orang itu menjadi merah karena marah dan penasaran. Orang yang berjenggot panjang mengerutkan kening. Boleh jadi mereka semua bukanlah orang yang terlalu lihai, akan tetapi kedudukan mereka di Imperium Balqis adalah barisan pengawal tingkat dua.
Masa kini dengan tiga belas orang menghadapi pemuda ingusan dan wanita muda, dalam waktu singkat mereka akan mampu melucuti senjata mereka?
"Baiklah, Wanita sombong! Kami berjanji, apa bila engkau dapat melucuti senjata kami, maka kami akan membawamu menghadap petinggi kami."
"Ingat seorang pendekar tidak akan mengingkari janjinya, jika kami berhasil maka setelah itu harap kalian sudi membawa kami menghadap ketua kalian" ucap Tika.
Akan tetapi tiga belas orang itu tidak ada yang bergerak menyerangnya, hanya kembali melanjutkan gerakan kaki mereka melangkah miring yang tadi dihentikan ketika mereka bicara. Hanya pedang yang menodongnya kini ditarik kembali melintang di depan dada.
Ternyata pengawal pangeran ini amat hati-hati dan agaknya terlatih dengan baik. Kini mereka bersikap untuk bertahan atau mempertahankan senjata mereka agar tidak terampas, dan mereka menanti Tika dan Fhadlan melakukan gerakan lebih dulu.
Dari gerakan mereka, tahulah Tika bahwa tiga belas orang ini memiliki ilmu pedang yang sangat lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sebenarnya agak berbahaya kalau Tika dan Fhadlan melucuti mereka dengan tangan kosong. Jika Tika menggunakan Sabuk yang tersembunyi di balik bajunya dan Fhadlan menggunakan stik bambunya tentu akan jauh lebih mudah.
"Sekalipun ilmu pedang mereka sangat lihai tapi jika kita menggunakan kekuatan tenaga dalam tentu akan berhasil" bisik tika pada Fhadlan.
"Benar mbak Tika Fhadlan juga yakin bisa merampas pedang mereka dengan tangan kosong" Fhadlan balas berbisik.
"Tuan tuan dan nyonya, awas serangan kami"
Tiba-tiba Tika membalik ke kiri, melakukan pukulan dengan tangan ke arah seorang laki-laki tinggi besar yang cepat mengelebatkan pedang membacok lengannya, dibantu oleh dua orang di kanan kirinya yang juga membacok lengan itu. Mereka bertiga saling bekerja sama, sekaligus menangkis dan mengancam untuk membabat putus lengan tika.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba saja Tika membalikkan tubuh secepat kilat sehingga tidak tersangka-sangka oleh semua pengeroyoknya dan benar saja dugaannya. Pada saat tiga orang yang berada di depannya itu menangkis, yang sepuluh orang di lainnya telah menggerakkan pedang, ada yang menusuk dan ada yang membacok.
Sambil membalikkan tubuh, kedua tangan Tika dan Fhadlan mendorong ke depan dengan tenaga dalam yang amat kuat. Angin dorongan dari kedua tangannya seperti angin taufan meniup dan sepuluh orang itu terhuyung ke belakang sambil mengeluarkan seruan kaget.
Barisan mereka jadi kacau-balau dan mereka menjadi makin panik ketika tiba-tiba saja ada bayangan putih berkelebatan di depan mereka. Seorang demi seorang merasa lengan kanan mereka lumpuh dan tahu-tahu pedang mereka telah terampas oleh Fhadlan dan Tika.
Melihat pedang saudara-saudaranya sudah dirampas, ketiga orang yang kini berada terpisah, berseru keras sambil menyerang nekat. Fhadlan menggunakan sebuah pedang rampasan, sementara empat buah pedang dipondong di lengan kiri, menangkis sambil mengerahkan tenaga.
Trang-trang-trangg…"
Tiga batang pedang di tangan tiga orang penyerang itu terlempar ke atas. Lalu dengan ringan Fhadlan meloncat ke atas, memutar pedang rampasan yang dipakai menangkis tadi, terus diputar dan menerima tiga batang pedang yang melayang turun dan pedang-pedang itu seperti melekat di pedangnya.
Sementara itu sekilas Tika melihat sosok pemuda melesat dengan kecepatan luar biasa memasuki gerbang bangunan megah yang sedang tidak terjaga.
"Kita di dahului seseorang Lan" ucap Tika cemas.
"Tuan tuan dan nyonya kami bukan datang untuk bermusuhan, maka saya harap kalian tidak ingkar janji untuk membawa kami menghadap ketua Imperum Balqis." ucap Tika.
"Baiklah, kami tidak akan melanggar janji, mari kami antar menghadap ketua kami" ucap pria berjenggot panjang.
tiga belas orang itu lalu mengawal Tika dan Fhadlan yang berjalan di tengah naik memasuki gedung megah di depan mereka. Saat mereka mrmasuki gedung mereka mendengar teriak dan pekik pertempuran, makin kedalam pekikan semakin ramai dan seru.
__ADS_1
Tika dan Fhadlan terasa tegang saat memasuki ruang utama. Ruangan itu luas, akan tetapi kini dikelilingi pagar hidup berupa pengawal kelas satu yang berdiri dengan disiplin baik, tidak ada yang bicara, namun dengan sikap siap siaga dan penuh kewaspadaan, semua mata ditujukan seorang pemuda di tengah ruangan.
Taksiran Tika jumlah pengawal yang berkumpul di situ tak kurang dari seratus orang.