FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 15


__ADS_3

Merasa nyaman dalam pelukan Cicilia Fhadlan diam, mengangguk setuju saat Cicilia membawaya ke sebuah pangkalan taksi terdekat.


"Bang antar ke terminal bus jurusan Kota Malang yang terdekat" ucap Cicilia saat memasuki sebuah taksi.


"Baik buk .. terminal terdekat ada di Rawamangun bagaimana bu?" tanya sopir taksi.


"Ok Bang tapi omgkosnya jangan mahal ya" pinta Cicilia.


"Gak lah bu, soal ongkos senua taksi itu udah ada standarnya kok buk, ayo pakai sabuk pengaman dan pegang anaknya buk" ucap sopir taksi memperingatkan Cicilia.


Sopir taksi melajukan taksinya ke jalan raya menuju terminal bus Rawamangun. Perjalanan menuju Rawamangun kebetulan harus melewati lorong menuju perumahan elit tempat di mana pak Herman menyekap anak anak yang di ekploitasi menjadi pengemis jalanan.


Semenjak penyergapan terhadap pak Herman dan komplotannya, polisi masih terlihat siaga hingga kepersimpangan memeriksa beberapa taxi untuk memastikan keberadaan anak anak dan beberapa pengasuh anak yang kemungkinan akan melarikan diri.


"Waduh kita terjebak macet .. sepertinya di depan lorong perumahan ada polisi yang sedang menggeledah semua taxi yang lewat" ucap pak sopir.


Cicilia berusaha untuk tenang dia masih bertanya tanya apa yang terjadi dengan semua penghuni rumah. Timbul keinginannya untuk melihat keadaan di perumahan tempat tinggal mereka. Namun pada saat tersebut seorang terlihat melintas dari arah perumahan di samping jalan raya berhenti sejenak tepat di samping taxi yang di tumpangi Cicilia.


Cicilia membuka jendela mencoba bertanya apa yang sedang terjadi.


"Pak... Ada apa rame rame di depan?, sepertinya ada sesuatu yang luar biasa" kata Cicilia.


"Ya neng, barusan polisi menyergap komplotan pencuri organ tubuh, mereka baru saja nengoperasi seorang anak, untung ketauan sama warga. Kalau polisi gak keburu datang mereka pasti tewas di hajar masa" jawab bapak bapak yang di tanyai.


"Sekarang polisi masih mencari beberapa penghuni rumah yang merupakan pengasuh anak anak yang akan di ambil organ tubuhnya, mereka di curigai bekerja sama dengan sindikat pencuri organ tubuh" lanjut bapak bapak yang di tanyai Cicilia.


"Pelakunya banyak dong, pak?" tanya pak sopir juga penasaran.


"Sepertinya begitu polisi memiliki fhoto semua penghuni rumah tempat kejadian, semua mereka adalah tersangka sekarang sedang menjadi buronan polisi" terang bapak yang di tanya

__ADS_1


Mendengar jawaban bapak bapak tersebut Cicilia mengurungkan niat nya untuk kembali kerumah pak Herman, keningnya mulai berkeringat dingin sekarang dia sadar bukan hanya pak Herman yang akan jadi tersangka tapi mereka semua pengasuh anak anak juga termasuk tersangka.


"Berarti Cicilia juga buronan" kata hati Cicilia.


Mobil mulai berjalan pelan lalu berhenti lagi, Cicilia berpikir keras bagaimana cara terhindar dari penetiksaan polisi di depan. Jika dia turun malah lebih besar kemungkinan akan tertangkap. satu satunya cara adalah meminta sopir taksi melewati jalur tikus yang tidak terjaga oleh polisi.


"Kita lewat sini aja bang" pinta Cicilia menunjuk lorong di depan mereka.


"Kami harus naik bus trip terakhir hanya ada jam 1" ucap Cicilia mulai berbohong.


"Baik bu" ucap sopir taksi setuju.


Untungnya sopir taxi juga tidak menaruh curiga segera saja membelokkan taxsinya memasuki lorong yang di tunjukkan Cicilia. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju terminal Rawamangun melalui jalan tikus, tentu saja perjalanan mereka lebih lambat karena harus melalui lorong lorong sempit, penuh belokan dan memutar.


Akhirnya Cicilia bisa bernafas lega setelah dua jam perjalanan mereka sampai di halte terminal Rawamangun. Cukup mujur nasip Cicilia bertepatan dengan kedatangannya bus terakhir menuju Malang belum meninggalkan terminal.


"Boleh .. kosong kok bu" ucap ibu tersebut.


Dalam bus ada dua baris tempat duduk yang di pisahkan oleh sebuah lorong, tempat duduk baris sebelah kiri lorong terdiri dari dua bangku sedangkan baris di kanan Lorong ada tiga bangku. Cicilia memperoleh tempat duduk di baris sebelah kanan bangku ke lima di belakang sopir. Cicilia hanya membeli satu tiket dengan demikian Fhadlan harus dia pangku. Dua bangku di sebelah Cicilia di tempati seorang ibu muda dan anak laki lakinya seusia Fhadlan.


"Ini ada temannya, ayo Fhadlan kenalan dong" kata Cicilia saat bus mulai meninggalkan terminal.


"Ini Tatang.. adek siapa namanya?" si ibu mewakili anaknya memperkenalkan diri.


"Saya Fhadlan tante" ucap Fhadlan memandang ibu muda di sebelah Tatang.


Ibu muda tersebut tersenyum senang mendengar jawaban Fhadlan.


"Wah... pinter... kalian mau kemana?" tanyanya pada Cicilia.

__ADS_1


"Kami mau ke gunung kawi" ucap Cicilia.


"Kalau ibu mau kemana?" Cicilia balik bertanya.


"Sama ... Kami juga mau ke gunung kawi kebetulan ayahnya Tatang sedang ada tugas di wilayah gunung kawi" ucap ibu muda tersebut.


"Saya Cicilia tinggal di wilayah kereng gunung Kawi, kalau ibu siapa, tinggal di mana?" tanya Cicilia.


"Saya Dewi Gayatri, suami saya juga tugas di wilayah lereng Kawi" ucap Gayatri.


Bus terus melaju melewati kota demi kota sesekali Gayatri bertanya tentang hal hal asing baginya, karena pada dasarnya dia kelahiran Cianjur dan di besarkan di Cianjur. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjadi akrab bahkan Dewi Gayatri ibu Tatang tidak keberatan saat Tatang mau berbagi tempat duduk dengan Fhadlan. Sekarang mereka sudah sama tau tujuan dan alasan mereka ketempat yang kebetulan sama.


Di sepanjang perjalanan banyak penumpang yang turun dan masuk tapi lebih banyak penumpang yang turun di banding penumpang yang naik di tengah jalan. sehingga saat akan memasuki kota Malang bus yang tadinya penuh sesak oleh penumpang dan barang hanya tersisa sepertiganya saja. Bus tiba di Terminal Arjosari Malang pada minggu pagi rasa penat dan letih mereka terobati sudah saat keluar dari bus.


Merasakan udara pagi kota malang dengan keadaan sehat walafiat merupakan anugrah terbesar bagi Cicilia, setidaknya sementara waktu dia bebas dari buronan polisi.


Dari terminal Ajosari Mereka mereka mencari angkot menuju Kepanjen tapi sialnya angkot arah Kepanjen tidak adanya agak siang, Dewi Gayatri terlihat agak bingung saat tatang anaknya mulai rewel.


"Udah kita naik angkot jurusan Blitar aja, nanti kita turun di Gadang dari gadang kita bisa ganti angkot yang menuju Kepanjen" ajak Cicilia.


Dewi Gayatri hanya menurut karena memang tak paham situasi, mereka turun di Gadang lalu berganti kendaraan menuju Kepanjen, di Kepanjen mereka turun di terminal di turunkan di terminal Talanggagung.


Cicilia membawa Gayatri ke depan terminal mencari angkot jurusan gunung Kawi, setelah sekian lama menunggu angkot tak kunjung datang.


"Angkot ke gunung kawi dari sini adalah angkot berwarna biru muda" ucap Cicilia.


Cicilia berjalan di ikuti Gayatri terus kepertigaan di pertigaan terlihat di mana jalan ke kanan tertulis "Jalan Raya Gunung Kawi" mereka terus menyebrang Jalan, bertepatan dengan sebuah mobil yang meluncur kearah mereka dengan kecepatan tinggi.


"Tiiiiit" bunyi klakson mobil di barengi suara mencicitnya ban saat sopir menginjak rem.

__ADS_1


__ADS_2