FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 75


__ADS_3

"Hemmm, Jendral Benyamin. Agaknya engkau pun hanya kacung Imperium Balqis yang haus kekuasaan. Aku melihat kalian tidak ubahnya bagaikan maling, yang memanfaatkan situasi Negara yang sedang kacau. Ingat Jendral Benyamin aku menemuimu hanya untuk menastikan kalian itu teman atau musuh?" ucap abu Ghafur yang mempertahankan misinya.


Fhalan memperhatikan empat orang laki-laki pengawal jendral Benyamin yang berada di dalam ruangan. Empat orang lelaki ini terlihat sangat waspada dalam menjaga keamanan, dengan semua senjata mengarah pada Fhadlan dan abu Ghafur sangat kecil kemungkinan untuk melepaskan diri dari mereka yang berjaga jaga dengan senapan siap tembak.


"Sungguh berani pemimpin resimen Hamdani mengirimkan kalian ini kepadaku, di mataku kalian hanyalah dua ekor lalat yang menjijikkan" lalu jendral Benyamin memerintahkan pengawalnya untuk menangkap abu Ghafur dan Fhadlan.


"Tangkap mereka" teriak jendral Benyamin yang sudah emosi menghadapi sikap abu Ghafur.


"Paman lari...!" Fhadlan berteriak sambil meloncat ke luar ruangan Jendral Benyamin dengan menyeret abu Ghafur.


Empat pengawal jendral Benyamin yang terkejut tak menyangka Fhadlan melakukan tindakan seperti itu, langsung melepaskan tembakan, bahkan pemimpin mereka jendral Benyamin juga sudah memegang senjata.


"Tar tar tar" terdengar ledakan di ikuti bunyi desing peluru sangat dekat di telinga Fhadlan.


"Mampuslah kalian, .....!" kata salah seorang di antara mereka smbil melepaskan tembakan.


"Tar tar tar tar" suara senapan di arahkan pada Fhadlan dan abu Ghafur. Letupan senapan serbu dan senjata mesin di barengi dentuman ledakan terdengar bersahut-sahutan di arahkan pada Fhadlan dan abu Ghafur.


"Ayo paman kita harus mencari tempat berlindung" ucap Fhadlan menyeret abu Ghafur ke balik sebuah mobil. Anehnya semua senjata seperti berhenti menembak saat Fhadlan dan abu Ghafur bersembunyi di balik mobil tersebut.


"Nak Fhadlan ... paman yakin mobil ini penuh peledak, hingga mereka tidak berani menembak" ucap abu Ghafur.


"Resimen Hamdani mulai membalas tembakan" ucap Fhadlan.


Sebentar saja pertempuran sengit sudah terjadi antara Pasukan Imperium Balqis dengan resimen Hamdani, Meski sudah terdesak dan berada di lapangan terbuka, ternyata tidak mudah bagi Imperium balqis menaklukkan resimen Hamdani.


"Pertempurannya sangat sengit. Perlawanan Resimen Hamdani juga keras, walaupun Imperium Balqis memiliki posisi yang sangat strategis mereka masih bisa bertahan,... paman tunggu di sini biar Fhadlan mencoba meyerbu dari belakang markas mereka," kata Fhadlan membawa abu Ghafur ke dalam parit perlindungan.

__ADS_1


"Ehh, ehhh, omongan apa ini?" Abu Ghafur yang mukanya menjadi merah karena malu menegur Fhadlan dengan suaranya yang galak.


"Engkau bilang bahwa kau akan menyerbu dari belakang mereka?, sementara engkau meminta paman diam di lubang ini?" ucap abu Ghafur tidak terima.


"Fhadlan akan mencarikan senjata buat paman... kemudian paman lindungi Fhadlan" ucap Fhadlan lalu berkelebat beberapa saat kemudian dia kembali ke tempat perlindungan abu Ghafur.


"Paman gunakan ini ... " ucap Fhadlan memberikan sebuah senapan laras panjang pada abu Ghafur.


"Nak Fhadlan! Apakah engkau akan menantang mereka berkelahi?" tanya abu Ghafur saat melihat Fhadlan kembali berkelebat tanpa senjata.


Fhadlan terus berlari ke arah belakang markas dimana tempat ini cukup sepi dari tentara Imperium Balqis. Sambil menoleh ke kanan kiri memandangi bangunan-bangunan di dalam komplek markas Imperium Balqis.


"Aihhh, sungguh banyak sniper mereka yang di tempatkan di atas bangunan markas ini. Fhadlan harus mengambil tindakan sebelum mereka memakan korban." guman Fhadlan saat melihat beberapa sniper yang ada di atap gedung markas.


Dari pembicaraan mereka Fhadlan tau kalau linggo juga sedang berada di markas tersebut.


Kepala sniper mengerutkan alisnya, saat melihat Fhadlan sudah berdiri di atap gedung yang sama dengan mereka. Hatinya tidak senang mendengar suara ketus serta melihat sikap Fhadlan yang sangat tidak menghormat terhadap Kaisar mereka, maka dia menjawab,


"Tidak mungkin begitu mudah. Siapa pun yang hendak menghadap, harus terlebih dahulu mengajukan permohonan disertai keterangan nama, tempat tinggal dan keperluannya. Lagi pula, permintaan itu baru dapat diajukan besok pagi, saat ini kaisar sedang beristirahat, tidak boleh diganggu." ucap nya.


"Apa kau bilang?" Fhadlan menudingkan telunjuknya ke arah muka kepala sniper.


"Apa kau kira tanpa laporanmu aku tidak bisa menemui kaisar kalian" ancam Fhadlan.


Mendengar ini barulah para sniper itu sadar kalau mereka tidak mengenal Fhadlan sama sekali.


"Siapa kau.., tanpa surat ijin khusus, tak akan ada yang berani mengganggu Kaisar, sebaiknya kau segera pergi dan jangan membikin ribut di sini sebelum kami kehilangan kesabaran" ucap mereka

__ADS_1


"Keparat! dia penyusup...!" teriak salah satu mereka, langsung dia melangkah ke depan sabil menodongkan senjatanya.


Delapan orang sniper yang ada di atap tekah menodongkan senjatanya pada Fhadlan saat menyadari Fhadlan bukan bagian dari mereka.


"Minggir kalian!" Fhadlan membentak lalu berkelebat menyerang para sniper tersebut. Maka terdengar suara senjata-senjata mereka terlempar disusul tubuh delapan orang penjaga itu terpelanting ke kanan dan kiri.


"Tangkap penyusup" Mereka berteriak kaget dan marah.


Mereka cepat melompat bangun lagi dan siap menerjang, namun mereka terbelalak saat melihat Fhadlan sudah berdiri tegak di depan mereka dengan senjata rampasan.


Fhadlan bergerak menyambar senjata senjata mereka yang tadi terlempar, kemudian sambil memandang mereka dengan senyum di bibir, kedua tangannya mematah-matahkan senjata mereka dengan mudahnya seperti orang mematahkan sebatang lidi saja.


Melihat demonstrasi kehebatan Fhadlan delapan sniper terbelalak dengan muka pucat, kedua kaki mereka mundur-mundur dan tak ada seorang pun di antara mereka berani menerjang ke depan. Tanpa mereka sadari mereka sudah berada di tepi atap gedung.


"Ahhhhhhh" satu persatu akhirnya mereka terjatuh dari atap gedung.


"Anjing-aniing pengacau dari mana berani membikin ribut di sini?!" Bentakan ini disusul munculnya tiga orang pengawal yang bertubuh tinggi besar dan bersikap garang.


Melihat munculnya tiga orang pengawal yang terkenal jagoan ini, delapan orang sniper kembali berbesar hati. Kepala Sniper segera berkata, "Dia memukul kami hingga kami terjatuh, dia juga hendak membunuh Kaisar,"


"Mundur kalian!" Fhadlan kembali menerjang ke arah pengawal yang baru datang.


Tentu saja tiga orang pengawal itu tidak mempedulikan bentakan ini dan sama sekali tak peduli akan dorongan tangan Fhadlan. Akan tetapi segera mereka itu berteriak kaget pada saat merasa betapa tubuh mereka terdorong oleh angin yang amat dahsyat, yang membuat mereka tidak mampu mempertahankan diri dan terjengkang ke belakang! semua senjata mereka juga beterbangan terkepas dari genggaman, Ketika mereka merangkak bangun dan memandang, ternyata Fhadlan telah lenyap dari hadapan mereka.


"Heii, ke mana dia'...?" tanya mereka.


"Celaka... dia memasuki gedung di mana Kaisar berada..," jawab para penjaga yang tadi hanya memandang dengan mata terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2