FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI

FHADLAN GENERASI MILINIUM-TRENDI
Episode 90


__ADS_3

"Dengan segala kerendahan dan kesenangan hati, Jendral yang mulia saya pikir sudah terlambat isi ajimat sudah lebur jadi debu!, ini .... Josef terimalah ...." kata wanita bercadar menambah tenaga dalamnya, kalau tadi dia bertahan menggemgam kalung di tangannya sekarang justru sebaliknya dengan tenaga dalam penuh kalung ajimat di lemparkan pada Josef.


Dia tersenyum dan mengedipkan mata mengejek Josef yang menerima kalung itu. Senyum dan kedipan matanya itu seakan-akan mengatakan bahwa betapa pun juga, Josef itu tak berhasil merampas kalung darinya.


Bahkan si wanita merasa sudah mendapat kemenangan dengan memanfaatkan perintah Jendral Cahyono, dan saat yang dia rasa sangat tepat waktu Josef mengurangi tenaganya si wanita bercadar melepaskan seluruh tenaganya menghantam Josef. Akan tetapi yang diejek tetap tenang dan malah tertawa terbahak bahak.


"Kha.. kha kha... Trik mu terlalu mudah di duga nona" ucap Josef menerima kalung dengan enteng seoerti tak terpengaruh aedikitpun oleh hantaman tenaga dalam yang amat dahsyat.


Josef berjalan santai lalu mempersembahkan kalung tersebut kepada Jendral cahyono.


Mereka bertiga, Jendral Cahyono, Jendral Perdinan dan Josef sendiri memeriksa keadaan kalung. Hal ini juga tak luput dari pengamatan Fhadlan yang masih berdiri tak jauh di belakang Jendral Cahyono.

__ADS_1


"Jrndral Perdinan mari kita periksa" ucap jendral cahyono memeriksa dan membuka pembungkus bandul kalung, ketiganya menjadi kagum sebab mengenal bandul kalung itu benar-benar merupakan peninggalan Zaman Kediri.


Bandul yang tadinya terbungkus sutra merah sekarang hanya terlihat terbungkus rapi dengan lempengan timah hitam. Dengan hati hati mereka membuka lempengan timah luarnya.


"Seeet....." terdengar sesuatu robek.


"Ahhhh...." saat menyadari kalau timah luarnya telah robek.


"Palsu" guman Fhadlan yang ikut menyaksikan. Fhadlan tau kalau yang asli bukan terbungkus dari lembaran timah hitam. tapi dari kotak yang terbuat dari timah hitam dan kertas yang di pakai bukan dari daun lontar tapi dari sutra yang halus.


"Hati hati jendral, saya dengar kalung itu bukan ajimat tapi sebuah petunjuk penting tentang perbendaharaan raja Nusantara dan juga petunjuk keberadaan pusaka pedang. Pemegang pedang inilah yang akan berkuasa di akhir zaman" ucap Jendral Perdinan.

__ADS_1


"Oooo begitu..... saya pikir tadinya berisi taktik-taktik ilmu perang yang amat penting, atau sebagai ajimat yang memberi efek kekebalan pada senjata tajam" Jendral Perdinan mengingatkan.


"Jendral Perdinan Segera periksa di Labor" Jendral Cahyono merasa tidak bisa untuk membukanya lalu memberikannya pada Jendral Perdinan untuk membukanya.


"Engkau perlu membukanya lalu mempelajarinya sebelum Meninggalkan Yaman, Jendral Perdinan," Jendral Cahyono berkata sambil menyerahkan Bandul kalung kepada Jendral Perdinan.


"Siap ..." Jendral Perdinan menerima lalu menyerahkannya kepada Josef untuk disimpan.


Pengawal lihai yang ini menyimpan menyimpan bandul kalung yang sangat penting itu ke dalam saku bajunya sebelah dalam.


"Sebentar Josef ... " teriak Jendral Perdinan kemudian berdiri di tempatnya sambil mengutuk.

__ADS_1


"Celaka, kertas lontarnya berisi bubuk racun jamur merah yang sangat ganas" sambil memperhatikan tangannya yang panas, dan mulai merah secara pelan menjalar dari ujang jarinya.


Jendral Perdinan mengeluarkan tiga butir pil anti racun dari kantongnya lalu di telan satu dan yang lain di serahkan pada jendral cahyono dan Josef.


__ADS_2