
Baca juga novel sebelumnya dengan judul:
Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN),
*****
Sebuah angkot berwarna biru muda berhenti di depan mereka, sopir angkot mengeluarkan tangan menyapa mereka,
"Gunung Kawi buk?" tanya pak sopir.
"Aku munggah nang Gunung Kawi" sapa pak sopir yang mengatakan kalau dia akan naik ke Gunung Kawi.
"Ya mas" kata Cicilia singkat, hari sudah siang jika masih menunggu mobil sudah sangat susah karena memang untung untungan ada angkot yang ke gunung Kawi saat jam segini.
Sopir angkot turun lalu membawakan tas ibu Gayatri lalu di simpan ke dalam angkot. Mereka menaiki angkot setelah semua duduk mobil mulai berjalan pelan.
"Angkot yang ke gunung kawi hanya yang berwarna biru muda, hari ini satu satunya yang naik ke gunung kawi ya mobil ini" kata pak sopir saat mobil mulai berjalan.
Di bangku depan terlihat sepasang suami istri setengah baya duduk di samping sopir mereka sepertinya keturunan tionghoa. Cicilia memaklumi kalau tidak semua angkot mau terus ke gunung kawi kecuali jika penumpang bisa empat atau lebih "ya mungkin karena mereka saja angkot ini mau naik ke gunung kawi" pikir Cicilia.
"Mau ke gunung kawi ya bu?" tanya laki laki separuh baya di depan dengan logat Tionghoa.
"Iya .. bapak juga ke gunung kawi kan?" tanya Cicilia.
"Iya ... Kami suami istri di beri tahu teman kalau di gunung Kawi ada seorang dukun sakti yang bisa membantu kelancaran rezeki dan mengatasi masalah kesulitan memperoleh keturunan" ucap lelaki tersebut.
"Ooo begitu" ucap Cicilia paham memang nuansa mistis tionghoa agak kental di wilayah lereng Kawi. Tidaklah mrngherankan bagi Cicilia kalau orang tionghoa bayak yang ke gunung kawi sekedar melakukan ritual perdukunan.
Angkot berjalan cukup pelan entah karena tanjakan atau karena mobil yang kurang sehat, padahal penumpang hanya ada empat orang, ditambah Fhadlan dan Tatang. Beberapa saat kemudian, mobil mereka memasuki perkebunan pinus yang sepi. Jalanan terlihat lengang, jarang sekali ada mobil yang berpapasan dengan mereka, Gunung Kawi seharusnya hanya tinggal satu jam lagi dari sana.
Tiba tiba mesin mobil mati tak kuat melewati sebuah tanjakan, entah kenapa mobil sangat susah di hidupkan kembali membuat sopir angkot terlihat jengkel, hingga hari menjelang isa barulah mobil kembali hidup.
Fhadlan dan Tatang yang tadi tertidur tergeragap bangun, ia mengusap wajahnya saat mobil kembali berjalan. Perutnya mulai keroncongan karena dari siang belum makan.
Terlihat dari balik kaca mobil, pohon-pohon pinus berjejer rapi. Sopir angkot berdecak kesal, seharusnya ia berangkat lebih pagi agar tidak kemalaman seperti ini.
Fhadlan yang merasa lapar mulai merengek pada Cicilia.
__ADS_1
“Tan...Gua lapar,” ujar Fhadlan pada Cicilia.
“Sama, lan. Mana enggak ada pedagang lagi,” timpal Cicilia.
Cicilia minta sopir memperlambat laju mobil.
“Pelan-pelan aja pir, siapa tahu kita nemu angkringan di depan,” kata Cicilia.
Benar saja secara mengejutkan Cicilia melihat sebuah warung angkringan di pinggir jalan. Tampaknya seperti warung kopi yang menyediakan menu mie rebus juga.
"Stop pir berhenti dulu anak saya lapar" ucap Cicilia.
Sopir berhenti agak maju dari posisi warung angkringan. setelah mobil berhenti mereka semua turun lalu menyerbu warung angkringan. Perut mereka sudah sangat lapar, tak sabar lagi rasanya ingin cepat di isi makanan.
Ada tiga orang laki-laki yang sedang mengunjungi angkringan itu. Mereka bertiga berbadan kurus, mengenakan kaus warna cokelat yang lusuh dan celana panjang hitam. Tanpa menghiraukan ketiga laki laki tersebut Cicilia mendekati pemilik warung memesan mi rebus.
"Mbak pesan mie rebus empat" ucap Cicilia lalu kembali ke tempat di mana Gayatri dan anak anak duduk.
Setelah pesanan mereka siap, mereka segera menyantap makanan mereka, entah karena lapar atau memang mie nya yang enak, sehingga sebentar saja mereka telah menghabiskan mie rebus pesanan mereka.
Saking lahapnya makan dari dahi Fhadlan dan Tatang mengucur deras keringat terkadang menetes ke mangkok mie tanpa di sadarinya.
"Gak ... Fhadlan udah kenyang" ucap Fhadlan mengelengkan kepalanya.
Cicilia mendekati pemilik warung angkringan menanyakan berapa harga pesanan mereka.
"Berapa mienya mbak" tanya Cicilia.
Pemilik warung tidak menjawab hanya memberikan kode jarinya sepuluh, mungkin karena bisu tapi yang terbersit di pikiran Cicilia kalau semangkok mie tersebut harganya sepuluh ribu, lalu di keluarnya dua lembar uang Dua puluh ribuan lalu di serahkan pada pemilik warung.
“Mas, kayaknya ada yang nggak beres,” Ucap Cicilia pada sopir saat kembali ke mobil.
Sopir juga terlihat mulai curiga.
“Iya bu, mendingan kita lanjut jalan aja,” ajak Sopir.
Tanpa menimpali perkataan penumpang, sopir angkot beranjak pergi dari angkringan itu. Sesekali ia menoleh ke belakang dan perempuan pemilik warung angkringan tadi masih menatapnya dengan datar.
__ADS_1
"Angkringan setan kali tuh," decak Fhadlan.
"Hus, jangan ngomong sembarangan," timpal Cicilia menarik tangan Fhadlan..
Ada yang aneh saat mereka kembali ke mobil, jok mobil depan di penuhi kembang melati. Entah siapa yang menaburkan kembang tersebut. Sopir dan kedua penumpang di depan mulai panik, mereka lantas membuang melati tersebut dan langsung tancap gas.
Mobil melaju kencang melewati jalan menanjak dan menikung, semua mereka yang duduk di dalam mobil diam tak tau apa yang harus di bicarakan.
"Mas! Mas! Lihat apa itu!" teriak Cicilia menunjuk kedepan.
"Setannnnn" Sopir yang mengemudikan mobil berteriak panik sambil ikut menunjuk-nunjuk sesuatu di depan.
"Hannntuuu..." teriak mereka bersamaan
Terlihat tiga orang lelaki kurus yang tadi duduk di warung angkringan, seperti melayang dengan cepat di depan mobil mereka. Tubuh ketiga laki laki seperti melayang di udara dengan kaki kaki mereka tidak menginjak tanah.
"Kang pelan pelan... di belakang ada mobil" ucap Gayatri.
Sopir dan semua penumpang menjadi sangat lega saat sebuah mobil terlihat di belakang mereka, lalu sopir memelankan laju kenderaan saat mobil di belakang memberi kode supaya minggir memberi jalan.
"Silahkan mas" ucap sopir sambil mengeluarkan satu tangan memberi kode supaya mobil di belakang mendahului mereka.
Anehnya, saat sudah minggir ke kiri sopir terus didim oleh mobil di belakangnya. Ketika melihat ke spion tengah, sopir di buat cukup kesal dengan ulah pengemudi di belakangnya.
"Sentannn ... ayo lewat" ucap sopir kesal.
Namun seketika itu ia kaget, pasalnya ketika ditengok di spion kanan dan kiri tidak ada satu pun kendaraan yang ada di belakangnya. Kondisi jalan pun benar-benar sepi, termasuk di jalur berlawanan arah.
"Buk coba lihat ada mobil gak di belakang kita" pinta sopir.
Secara bersamaan Cicilia dan Gayatri melihat dari kaca belakang, saat itu mobil di belakangnya menyalakan lampu dim lagi. Dan kondisinya pun sama, mobil tersebut hanya terlihat di spion tengah saja. Karena masih penasaran, sopir tersebut beberapa kali menengok ke spion tengah, kiri, dan kanan untuk memastikan keberadaan mobil di belakangnya tadi.
"Gak ada mobil mas, yang ada cuma dua senter yang melayang di udara" suara Cicilia terdengar gemetar
Saat mereka tiba di puncak bukit sang sopir kembali tancap gas, namun saat mobil melaju kencang tiba-tiba di depannya ada truk tronton dan sontak membuat sopir kaget. Untungnya respon si sang sopir sangat cepat lalu membating setir ke kanan untuk menhindari truk tadi.
Kejadian itu benar-benar membuat sopir heran. Pasalnya sebelum kejadian kondisi jalan benar-benar sepi, tak ada kendaraan satu pun di depannya. Namun tiba-tiba bisa ada truk tronton di depannya.
__ADS_1
"Aaaaahhhkkk remnya blong" teriak sang sopir saat menyadari kalau rem terasa blong, sekalipun sopir berusaha membating stir Kembali ke kiri namun mbil tetap melaju ke kanan jalan di mana terdapat jurang yang sangat dalam.
"Braaakk" mobil menabrak pembatas jalan lalu jatuh ke jurang yang tak berdasar.