Fire On Fire

Fire On Fire
Alina Pingsan


__ADS_3

Matanya terpejam. Napasnya terasa berat setiap kali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Alina menatap ke arah luar jendela. Gerimis kecil semakin menambah suasana hatinya tidak menentu. Namun ada yang berbeda kali ini, Alendra tiba-tiba datang dan memeluknya dari arah belakang.


Menghirup aroma wangi yang sangat ia rindukan dari gadis itu.


"Kamu terlalu berani ketika tidak ada aku Jenni," ujar Alendra tenang.


Tadinya Alendra ingin marah dan meluapkan rasa kesalnya kepada Alina. Melihat foto-foto yang terus memperlihatkan kebersamaan Alina dengan cowok lain membuat Alendra meradang, namun hanya berlangsung sebentar, karena sejatinya ia tahu dibalik foto atau vidio yang dia dapatkan ada seseorang yang sengaja ingin membuat hubungan mereka berantakan.


"Udah baca surat itu?" tanya Alina seketika membuat Alendra terdiam.


Cup


Puncuk kepala Alina ia kecup dengan begitu lembut. Tangannya terlepas dari tubuh gadis itu, ia mulai mencari kemeja yang ia kenakan waktu itu, seingatnya kertas yang Alina taruh di meja dekat ranjang terakhir dia letakkan di saku sebelum kepergiannya.


Alina menoleh. Melihat Alendra yang sedang sibuk membuat langkah gadis itu mendekat.


"Ada apa?" Alina mendekat dimana kini Alendra berdiri dengan satu kertas yang berhasil ia temukan.


"Ini kan maksud kamu?" tanya Alendra memperlihatkan kertas di tangannya.


Kepalanya mengangguk. Senyumnya sedikit terukir bersamaan dengan bola mata yang kembali menatap Alendra dengan serius.


"Gue harap lo udah punya keputusannya," ujar Alina duduk di tepi ranjang.


Kepalanya mengangguk. Alendra ikut berjongkok tepat di depan Alina. "Tulisan tangan ini tidak berati apa-apa untuk hubungan kita Jenni, aku dulu pernah membuat satu kesalahan yang sangat fatal, maka dari itu sekarang aku akan mencoba untuk memperbaikinya. Bersama kamu," ujar Alendra menaruh kertas itu ke dalam telapak tangan Alina.


Mendengar kata-kata Alendra justru membuat Alina semakin bingung rasanya. Sebenarnya Alendra sudah membaca dan sudah tahu kegundahannya selama ini atau hanya menyimpulkan saja.


"Lo belum baca kan? Ini surat dari Alin-"


"Ssstttt...." telapak tangan Alendra menghentikan ucapan Alina pada bibir mungil itu.


"Aku sudah membacanya, jangan harap aku akan tinggalin kamu Jenni. 5 hari hidup tanpa kamu saja hampir membuatku gila," ujar Alendra seketika membuat sudut bibir Alina tertarik ke atas.

__ADS_1


"Lo nggak lagi mabuk kan bilang kayak gitu?" Alina mencoba untuk mencari kebenaran dari kata-kata Alendra barusan.


Kepala Alendra menggeleng, ia menggenggam tangan Alina untuk ia kecup dengan begitu lembut.


"Tentu aku mabuk, jika tanpa kamu bisa membuatku terus mabuk rindu," balas Alendra membuat Alina terkekeh.


"Biarkin ini menjadi rahasia kita nanti, siapa pun kamu sekarang tetaplah disampingku, bantu aku agar bisa menjadi suami yang baik untuk kamu," lanjut Alendra menatap Alina begitu lekat.


Ia tanpa sadar masuk ke dalam dekapan Alendra. Entah kenapa hatinya tiba-tiba mudah sekali luluh, padahal niat awal Alina bukan seperti ini, ia ingin membuat Alendra menyesal dengan perbuatannya di masa lalu, siapa sangka Alina atau Jennifer kini malah terjebak sendiri oleh perasaan yang dimiliki.


Keesokan harinya. Alina sudah siap dengan seragam sekolahnya. Begitu juga dengan Alendra yang juga siap untuk kembali mengajar. Keduanya kini sarapan bersama dengan orang tua Alendra.


"Ndra makasih banyak, karena kamu proyek papa berjalan dengan lancar," ujar pak Dirta bangga akan apa yang sudah Alendra lakukan.


"Hmm, papa tinggal meneruskan saja, sekarang aku sibuk mengajar lagi," balas Alendra mulai menerima jika ia menjadi guru di sekolah yang ia miliki.


Terlihat anggukan kepala dari Pak Dirta. "Kamu hanya perlu mengajar ketika Alina masih sekolah, kalau dia sudah lulus, tugas kamu meneruskan bisnis papa," jelas pak Dirta seketika membuat Alina mendelik.


"Tentu sayang, Endra mengajar agar bisa menjagamu," balas pak Dirta membuat Alina tersenyum.


Mendengar itu jelas membuat Alina senang. Apa lagi hampir teman-teman sekolahnya menyukai suaminya, bukan selayaknya seorang guru tampan saja tetapi juga untuk dijadikan pasangan, mereka selalu terlihat niat sekali ketika mencari perhatian Alendra.


"Kamu beda sekarang Jenni," ujar Alendra ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Kenapa?" tanya Alina sedikit bingung.


"Jadi keliatan kalau suka banget sama aku," jelas Alendra membuat Alina mendelik.


"Ngaco aja, udah ah buruan jalan nanti gue telat, jam pertama kan diisi sama guru killer, bisa-bisa dikasih hukuman," keluh Alina seketika membuat Alendra terkekeh.


Hari ini ia mengajar pertama di kelas Alina, dan guru yang Alina sebutkan tentu saja Alendra sendiri. Mendengar keluhan Alina yang juga berniat menyindirnya malah membuat Alendra jadi gemas sendiri rasanya.


Sampai di sekolah Alina kembali mendapat tatapan meremehkan dari teman-temannya. Entah gosip apa lagi yang beredar tentang dirinya. Namun ia tetap melangkah mencoba untuk tidak peduli dengan tatapan sinis yang teman-temannya layangkan.

__ADS_1


"Eh... Queen gatal sudah datang, minggir-minggir kalian nanti ketularan," ujar salah satu siswi di kelasnya.


Alina terdiam, ia menatap siswi tersebut masih dengan santainya. Namun ketika Widya tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menunjuk ke arahnya. Alina dibuat terkejut setengah mati oleh tindakan Widya.


"Gue disuruh dia kemarin ke rumah pak Endra," tunjuk Widya ke arah Alina.


"What?" heran Alina tanpa suara.


"Cih, najis banget emang murahan!"


"Ternyata gini cara main kamu biar dapat perhatian pak Endra Lin?"


"Bi'ch!"


Brak


Alina memukul salah satu meja yang berjajar paling depan.


"Stop ya kalian semua ngata-ngatain gue! Yang ke rumah pak Endra itu Aurel sama teman-temannya dan itu juga karena Widya," ujar Alina menatap teman-temannya.


"Lagian gue heran sama lo pada, mau aja di adu domba sama cewek berwajah lugu kaya dia," ekor mata Alina melirik ke arah Widya.


"Lo nyebarin foto gue apa lagi Wid? Gue lagi di rumah pak Endra? Ck, Widya-Widya ngelawak ya lo," setelah mengatakan itu Alina menaruh tasnya.


"Iya, karena kamu nggak pantas buat pak Endra Alin, kamu itu murahan sama siapa aja mau," ujar Widya seketika membuat Alina terdiam.


Semua yang berada di sana terdiam menyaksikan pertengkaran yang terjadi di antara dua sahabat tapi musuh itu sekarang.


Langkah Widya menghampirinya. Ia menatap Alina dengan begitu tajam. Seakan Alina itu seseorang yang harus disingkirkan dari kehidupan Widya.


"Kamu tahu Lin? Pak Endra adalah pahlawan yang pernah menolongku dikejadian itu," bisik Widya seketika membuat Alina melotot.


Sekujut tubuhnya terasa kaku, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi jika yang Widya katakan itu benar. Ia menatap Widya dengan kepala menggeleng tidak percaya. Detik berikutnya perutnya terasa sakit sampai membuatnya hilang keseimbangan, tubuhnya terjatuh bersamaan dengan matanya yang mulai tertutup, Alina tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2