
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba Diko mencekal pergelangan tangannya. Niatnya untuk menghindar dari Diko membuatnya harus tertahan. Alina menatap tajam Diko, namun cowok itu malah menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk Alina mengerti. Tatapan itu seakan menghipnotisnya.
Tidak dipungkiri memang, terkadang sebenci apapun kita dengan orang dimasa lalu, kalau dihadapkan langsung dengan sikap yang manis atau cara berbeda pasti akan luluh juga. Meski tidak menutup kemungkinan rasa kecewa itu masih ada.
"Lo udah nampar gue waktu itu, sebagai perminta maafan dari lo kita harus ngobrol malam ini," ujar Diko menatap lekat manik mata hitam jernih itu.
Dan di sinilah Alina sekarang. Duduk bersama dengan seseorang yang sebenarnya ialah pemberi luka pertama di hatinya. Tetapi sebisa mungkin Alina bersikap untuk tenang. Ia tidak mau gegabah dan membuatnya terlihat aneh, bagi Diko jelas ia gadis asing yang tidak dikenali.
Tidak lupa tadi ia memberi tahu Boy untuk mengamati dari kejauhan. Alina diam-diam sudah mengirim pesan kepada Boy jika ia tanpa sengaja tadi bertemu dengan Diko.
"Kenalin gue Diko," cowok itu mengulurkan tangannya.
Hatinya semakin geram rasanya melihat betapa mudahnya Diko mengajak cewek lain berkenalan. Namun kini Alina mempunyai rencana sendiri melihat situasi yang cukup menguntungkan untuknya.
"Alina," balasnya menjabat uluran tangan Diko.
"Nama yang cantik, sesuai sama orangnya," puji Diko membuat Alina tersenyum tipis. Itu dibibirnya karena hatinya sudah mengumpat kesal melihat rayuan yang Diko berikan untuk menahlukkan mangsa.
"So...gue nggak mau basa-basi lagi, jadi kenapa waktu itu lo nampar gue?" tanya Diko dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah bisa Alina tebak.
"Sorry kejadian waktu itu buat lo nggak nyaman, lo mirip banget sama mantan gue yang paling breng**k," jelas Alina membuat Diko terkekeh.
"Sebreng**k apa sih mantan lo?" tanya Diko terdengak sok akrab dengan Alina.
"Apa ya? Lo tahu burung dara nggak? Nah itu kayak burung dara sana sini mau," jelas Alina seketika membuat tawa Diko semakin meledak.
"Apa banget deh nih cowok, sok akrab gila," gumam Alina melirik sinis Diko.
"Lo makin cantik kalau lagi marah," ujar Diko membuat Alina mencebik.
"I know," singkatnya.
Tiba-tiba ponsel yang berada digenggamannya kembali bergetar. Kali ini bukan Mama Intan lagi yang mencoba menghubunginya. Namun Boy yang entah bermaksud apa menghubungi Alina disaat ia sedang menjalankan misinya untuk membalas dendam perbuatan Diko dulu.
"Bentar ya?" ujar Alina sedikit menjauh dari Diko.
Setelah mendengar apa yang Boy katakan. Mendadak Alina jadi tidak tenang, ekor matanya terus mengarah ke semua penjuru ruangan. Baru setelah itu ia dapat melihat orang yang Boy maksudkan barusan.
__ADS_1
"Gawat," lirihnya memutuskan sambungan telepon Boy.
"Ada apa?" tanya Diko tetap tenang.
"Sorry gue harus segera pergi," pamit Alina berniat untuk pergi.
"Oke, semoga kita bisa ketemu lagi," seru Diko tidak lagi dipedulikan oleh Alina.
Berita dari Boy begitu buruk menurutnya. Alina saja sampai menunduk dan sedikit bersembunyi dibelakang orang-orang untuk menghindari tatapann dari kedua teman Alendra yang baru saja datang. Sekadar informasi jika tadi Boy sempat melihat kedatangan Alendra juga di sana. Namun entah perginya laki-laki itu kemana karena Boy kehilangan jejak.
Bruk
Saking gugupnya Alina tanpa sadar menabrak seseorang yang berada di depannya kini. Niat hati untuk menghindar dari teman-teman Alendra malah dibuat bertemu dan menabrak langsung dengan si paling ia hindari. Perasaannya mulai cemas dan khawatir. Ia merasa seperti nyawanya sudah diujung tanduk.
Buru-buru ia berniat untuk kabur sebelum laki-laki itu sadar akan siapa dirinya. Namun nasib buruk kini sedang terjadi dengannya. Cekalan dari orang yang baru saja dia tabrak seketika menghentikkan langkahnya.
"Ikut aku," ujarnya dengan gerakan cepat membawa Alina pergi dari kerumunan orang-orang.
Sorot mata Alendra begitu tajam melirik ke arah Boy yang sedang menutup mulutnya tidak percaya melihat Alina seperti sudah berada di tangan musuhnya.
Dan di sinilah Alina sekarang. Berada di dalam mobil Alendra dengan kecepatan penuh. Lagi-lagi Alendra ugal-ugalan setiap kali dibuat marah oleh Alina. Sepertinya Alendra ingin mengulangi kecelakaan yang terjadi dengan Alina dan membuat gadis itu kembali berubah sikap lebih kalem lagi. Alendra tidak suka gadis lugu seperti Alina yang dulu, namun kelewat bar-bar seperti sekarang juga cukup menjengkelkan bagi Alendra.
Sseetttt
Mobil berhenti di sebuah rumah besar yang entah Alina tidak tahu rumah siapa. Itu bukan rumah kedua orang tuanya atau martuanya.
"Gue mau pulang Ale," ujar Alina pada akhirnya setelah tadi lebih memilih diam untuk membaca-baca doa agar tidak terjadi kecelakaan karena mobil yang kebut-kebutan.
"Turun," titah Alendra membuat kening Alina berkerut.
"Nggak. Gue nggak mau, gue mau pulang ke rumah mama Intan," bantah Alina seketika membuat Alendra semakin murka.
Melihat Alina yang diam-diam pergi di malam hari tanpa dirinya saja sudah membuat emosi Alendra seakan mendidih. Lalu kini gadis kecil itu kembali bertingkah.
"Ck, rumah martua aja bangga," decak Alendra menatap lurus ke depan.
"Turun Alin, sebelum habis kesabaranku," titah Alendra dengan nada menekan.
__ADS_1
Terdengar helaan napas dari Alina. Sebelum akhirnya ia menuruti apa yang Alendra perintahkan. Alina turun namun dengan sengaja ia membantinf pintu mobil Alendra untuk melegakan kedongkolan hatinya.
"Selamat malam den Endra," sapa salah satu asisten rumah tangga yang memang sengaja sudah dibangunkan oleh Alendra tadi.
Alendra hanya mengangguk. Tatapannya tetap lurus ke depan. "Bawa dia ke kamar saya," titahnya yang diangguko oleh asisten rumah tangga tersebut.
"Hah? Apa-apaan ini? Ale ini rumah siapa?" teriak Alina disaat Alendra sudah lebih dulu melangkah pergi.
Alina dibawa ke sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih luas dibanding di rumah kedua orang tuanya. Lagi-lagi Alina dibuat terkejut dengan ruangan-ruangan asing yang baru saja ia masuki di rumah tersebut.
"Mbak, ini rumah siapa sih?" tanya Alina kepada asisten rumah tangga yang membawanya menuju lantai atas.
Asisten rumah tangga tersebut tersenyum tipis. "Rumah anda dan den Endra non," beritahunya seketika membuat Alina tergelak.
"Ngaco aja, gue sama si Ale selama ini tinggal di apartemen kecil tahu!" beritahunya membuat asisten rumah tangga tersebut mengangguk dan kembali tersenyum tipis. Ingin tertawa mendengar sebutan yang Alina katakan untuk atasan mereka. Namun mereka tidak berani melakukannya.
Alina sudah siap dengan pakaian tidur yang ternyata sudah disediakan banyak di rumah tersebut. Bahkan seragam yang Alina butuhkan untuk besok pagi juga sudah tersedia. Hanya saja baju tidur yang harus dia kenakan kini sangatlah seksi.
Bagian depan yang biasanya terlihat biasa saja seperti rata kini terlihat lebih menonjol lagi.
"Nggak sia-sia gue olahraga terus," gumamnya lalu menggeleng pelan.
"S**lan kenapa wajah me**m Ale sih yang datang," buru-buru Alina berlari kecil untuk mengunci kamar tersebut. Siapa tahu saja kan ada orang yang berniat jahat, salah satunya ya seperti Alendra malam itu.
Setelahnya ia tiduran sembari mengambil ponsel yang tergeletak di dalam tas.
"Boy gimana ya?" gumamnya mencoba untuk menghubungi Boy.
Sambungan teleponnya langsung diangkat oleh Boy, namun suara yang ia dengar seketika membuatnya tergelak tidak percaya.
"Ampun mas ganteng, aduh gue nggak tahan ahhh," buru-buru Alina menutup sambungan teleponnya.
"Boy," lirih Alina bergidik ngeri. Buru-buru ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Padahal ada seseorang yang sedang mengamatinya dengan sorot mata jauh lebih mengerikan.
"Kalau bukan karena mama, sudah habis kamu Alin," gumamnya dengan tatapan lekat menatap ke arah tab di depannya.
__ADS_1