Fire On Fire

Fire On Fire
Mulai Terungkap


__ADS_3

Ternyata apa yang Widya katakan tadi dengan teman-teman kelasnya benar. Alendra mendadak ke luar kota. Bahkan laki-laki itu tidak memberitahu Alina sama sekali, dia justru tahu dari sopir pribadinya.


"Apa dia udah buka suratnya? Kok nggak kasih tahu gue sih kalau ke luar kota," gumam Alina mengaduk es jeruk di depannya.


Tangannya terampil mengetik sesuatu untuk dia kirimkan kepada Alendra, niatnya pura-pura minta maaf karena tetap berangkat sekolah, namun detik berikutnya Alina menghapus semua kata yang akan ia kirimkan kepada Alendra. Ia ragu dan tidak cukup yakin untuk mengirim pesan kepada Alendra.


"Apaan sih gue?" Alina kembali menaruh ponselnya ke dalam saku. Ia akan melanjutkan makannya.


"Alin," sapa Gevan duduk di depannya.


Tadi Alina memang duduk seorang diri. Bahkan setelah berita tentang dirinya dan Gevan juga Diko itu muncul banyak juga yang masih berpikir negatif tentangnya. Alina cuek, namun dibalik itu semua ada yang masih terus berusaha membuatnya nama baiknya hancur.


Sebuah kamera ponsel yang cukup jauh dari keberadaan Alina sekarang kini terfokuskan dengan interaksi yang terjadi di antara Alina dan Gevan. Diam-diam seseorang bermain curang dan sengaja mengambil momen yang pas untuk membuat berita tidak benar tentang Alina. Tentu saja hasil jepretan atau video dari kamera ponselnya itu tidak akan dia sebarkan untuk konsumsi berita di sekolah. Namun akan dia kirimkan langsung kepada yang bersangkutan dengan Alina.


"Masih belum baikan sama temen lo?" tanya Gevan yang mendapat gelengan kepala dari Alina.


"Nggak tahu lah, aneh Widya," ujar Alina membuat Gevan seketika terkekeh.


Melihat tanggapan Gevan membuat Alina menatapnya aneh. Menurutnya Gevan sok iya banget.


"Padahal gue belum bilang sama lo kan kalau Widya tuh pernah bilang sama gue kalau dia punya rahasia besar tentang lo, emang rahasia apa sih Lin? Rahasia lo berubah jadi cantik gini?" goda Gevan dengan kekehannya.


Namun Alina, ia terkejut sampai tersedak dengan apa yang baru saja Gevan katakan. Buru-buru Gevan membantunya dan mengambilkan botol mineral untuk diberikan kepada Alina.


"Pelan-pelan elah, takut banget rahasia kecantikan lo kebongkar," ledek Gevan.


"Kapan?" tanya Alina membuat Gevan bingung. "Apanya?" tanya Gevan dengan polosnya.

__ADS_1


"Widya bilang gitu ke lo, kapan?" tanya Alina mulai penasaran.


"Oh... Waktu itu, sorry aja nih ya...gue pas liat lo masuk ke mobil cowok, setelah itu Widya datang nyamperin gue," ujar Gevan jujur.


"Btw Lin, tuh cowok siapa lo?" tanya Gevan penasaran.


Alina melirik ke arah Gevan. Bukannya menjawab ia malah kembali bertanya. "Terus Widya bilang apa lagi?" tanya Alina semakin penasaran.


"Ck, malah nanya." Gevan menaruh sendok yang berada di tangannya, ia menatap Alina sengan serius. "Gue yang nggak mau tahu rahasia besar lo, jadi gue bilang aja ke dia, kalau lo emang teman baik Alin, nggak gini caranya, Widya sama aja kek mau jatuhin lo nggak sih? Sorry nih bukannya gue mau profokasi lo, tapi si Nando bilang pernah mergokin Widya ngikutin mobil lo pakai taksi," ujar Gevan seketika membuat Alina semakin terkejut.


Taksi? Yang benar saja. Widya biasanya berangkat pakai angkot atau bus, naik motor saja kadang-kadang, jika Alina tidak salah dulu Widya pernah bilang ingin berhemat termasuk tidak menggunakan motor Ayahnya karena harus membeli bensin dan menservicenya terlebih dahulu.


"Alin mau kemana?" tanya Gevan tiba-tiba melihat Alina bangkit dari duduknya.


"Ke toilet," balasnya tetap meninggalkan Gevan.


Malam ini Alina sudah di'izinkan oleh mama Intan untuk menginap di rumahnya bersama kedua orang tua Alina asli. Ada banyak hal yang harus Alina ketahui tentang persahabatan Alina asli dan juga Widya yang terjalin selama ini. Ditariknya beberapa buku yang tadi tersusun di atas lemari. Buku dengan tampilan sudah cukup usang karena banyaknya debu yang menempel.


Aneh juga Alina menaruh buku tersebut di atas lemari pakaian miliknya. Padahal banyak sekali rak buku di kamarnya.


"Sorry Lin gue harus cari tahu tentang sahabat lo," ujar Alina mulai membuka lembaran buku tersebut.


Di dalamnya, tampak beberapa foto sedang Alina asli dan juga Widya yang terpajang. Keduanya tersenyum manis dengan penampilan n*rd dari dua-duanya. Rupanya penampilan Alina yang dulu tidak jauh berbeda dengan Widya sebelum berubah seperti sekarang.


Mencoba membolak-balikan buku tersebut namun tidak ada keganjalan yang dapat Alina ketahui tentang Widya. Karena dalam catatan buku tersebut hanya ada masa-masa indah Alina asli lewati ketika bersama dengan Widya.


"Aneh," gumam Alina menaruh kembali buku tersebut ke dalam tempatnya.

__ADS_1


"Perlu bantuan Boy nggak ya?" gumamnya bimbang. Ia tampak berpikir sebelum meminta bantuam Boy untuk mencaritahu penyebab berubahnya sikap Widya. Namun setelah ia pikir-pikir lagi. Alina lebih baik mencari tahu sendiri.


Ting


Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya. Ia pikir itu Alendra yang akan memberitahu jika dirinya tiba-tiba pergi ke luar kota. Namun ternyata Alina salah besar, mama Intan yang mengirim pesan dan mengingatkan Alina untuk makan malam.


Setengahnya Alina sedikit kecewa dengan Alendra. Namun ia juga merasa sedikit lega, setidaknya dengan jauhnya mereka sekarang bisa membuat Alina berpikir bagaimana baiknya ke depan untuk hubungan mereka berdua.


"Punya mama martua baik banget sih? Beda banget sama anaknya," kekehnya sembari membalas pesan singkat tersebut.


Tanpa Alina ketahui. Alendra dengan wajah merahnya melucuti pakainnya secara asal. Rasanya marah bercampur kecewa dengan Alina. Video yang baru saja dia dapatkan seketika membuat darahnya terasa mendidih. Baru saja ditinggal sehari Alina sudah semakin berani dekat dengan cowok lain.


"Tunggu sampai aku pulang Jenni," gumamnya melempar asal ponselnya di atas ranjang.


Pagi harinya. Alendra sudah siap untuk ikut manager di kantor Ayah Dirta untuk menemui klien. Ia kini berperan sangat penting agar kerja sama yang sudah pak Dirta dan kliennya rencanakan berjalan dengan lancar. Tidak ada pembatalan kontrak kerja sama seperti yang sudah klien pak Dirta katakan tempo hari.


Tangannya mengambil kembali ponsel yang tadi malam sempat ia remat karena sudah berani sekali menyuguhkan vidio kebersamaan Alina dan Gevan. Namun lagi-lagi mata Alendra dibuat panas ketika nomor tidak dikenali kembali mengirim sebuah foto kebersamaan Alina dengan cowok lain lagi.


"Dia? Berani sekali," rahang Alendra semakin mengeras saat melihat foto Alina yang akan naik ke atas motor milik Diko. Ia sudah tidak sabar untuk menyelesaikan pekerjaannya dan kembali pulang untuk memberi pelajaran secara langsung dengan Alina.


Memang benar. Alina yang sekarang jelas sangat berbeda dengan Alina yang dulu, terbukti Alendra terus dibuat panas oleh foto atau vidio yang ia dapatkan. Dan bodohnya Alendra sama sekali tidak curiga dengan nomor yang terus mengirimnya foto atau vidio tentang kegiatan istri kecilnya. Tentu saja pikiran Alendra kini dipenuhi dengan aksi nakal dari Alina bersama dengan cowok lain.


"Diko makasih, kalau nggak ada lo telat gue," ujar Alina diangguki oleh Diko.


"Nyante aja lagi, mobil lo biar nanti gue yang urus," balas Diko diangguki oleh Alina.


Setelah pamit dari Diko dan mengucapkan rasa terimakasihnya sekali lagi. Alina langsung masuk ke gerbang. Berlama-lama dengan Diko di depan sekolahnya tentu saja akan menimbulkan berita baru di sekolah nantinya. Jika tidak kepepet sekali seperti tadi. Alina juga pasti akan menolak tumpangan yang Diko tawarkan.

__ADS_1


__ADS_2