
Sesuai perjanjian yang disepakati mereka tadi. Kini Alina sudah bisa memegang ponsel barunya, bahkan ponsel dengan keluaran terbaru seperti milik Jennifer. Senyumnya terus terbit saat melirik Alendra yang terlihat sudah tidak nyaman. Tadi ia memang sengaja berlama-lama di konter untuk mengerjai Alendra.
Semakin Alendra merasa tersiksa semakin Alina suka. Lihat saja setelah ini Alina akan lebih membuat Alendra semakin tidak nyaman lagi.
"Nggak usah ditekuk gitu wajahnya. Udah jelek semakin jelek," ujar Alina seketika membuat Alendra menatap ke arahnya.
Alendra jelek? Yang benar saja... Alina ini memang matanya perlu diperiksa. Bila perlu dicongk*l sekalian biar bisa membedakan lelaki tampan dan jelek.
"Kamu nggak lihat dari tadi banyak yang lihatin aku?" sarkas Alendra yang dijawab Alina dengan anggukan kepala.
"Lihat gue, tapi mereka bukan liatin ke lo. Tapi gue... Udah ah buruan gue mau belanja bh sama cd," ujar Alina dengan gaya menyebalkan.
Alendra tergelak. Ia tidak menyangka jika Alina benar-benar sangat niat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan karena kesepakatan di antara mereka. Namun demi namanya yang bagus Alendra rela saja asal tidak lagi mendengar panggilan 'Ale'.
"Masuk," titah Alina ketika mereka tepat berada di depan toko khusus pakaian dalam wanita.
"Aku tunggu di sini," balas Alendra cuek.
Masuk ke toko yang isinya membuat Alendra panas dingin karena malu jelas tidak mungkin dia lakukan. Sekalipun Alina meminta sampai seratus kali juga tidak akan pernah Alendra iyakan.
"Oke, tapi setelah ini temenin gue ke salon. Lebih lama lho di sana," ujar Alina setengah menakut-nakuti Alendra.
Terdengar helaan napas dari Alendra. Tanpa menjawab ucapan Alina sepatah katapun Alendra mulai melangkah dan masuk ke toko tersebut.
Senyum kemenangan terlihat jelas dari bibir Alina. Ini saat yang tepat untuk mempermalukan Alendra. Alina tidak berniat melakukannya di depan banyak para gadis yang sedang berkunjung di toko, tetapi di depannya. Pembalas yang setimpal menurut Alina setelah apa yang dilakukan oleh Alendra tadi malam.
"Wah... Ganteng banget."
"Mana mau nemenin beli ginian lagi."
"Gue jadi pengen minta pendapat dia bra yang pas buat gue."
"Kiyowo banget nggak sih tuh cowok. Jarang ada cowok yang mau nganter beli ginian."
Bukannya mendapat malu. Alendra justu malah mendapat banyak pujian dari beberapa gadis yang sedang berada di toko tersebut. Tak khayal membuat Alina yang mendengar menjadi geram sendiri. Niat untuk mempermalukan Alendra malah membuat cowok itu besar kepala nantinya.
__ADS_1
"Ayo," ajak Alina menarik tangan Alendra untuk menjauh dari pengunjung lain.
Apa yang dilakukan oleh Alina jelas membuat Alendra berdecih. Tadi saja sangat terlihat jelas ada maksud lain ketika Alina memintanya untuk masuk ke toko pakaian dalam tersebut. Namun kini lihatlah yang terjadi.
"Ck, nggak konsisten," decak Alendra mengikuti langkah cepat Alina.
Ketika Alina sibuk memilih ukuran yang pas untuknya, Alendra lebih memilih untuk bermain dengan ponselnya. Sesekali ia sengaja menghubungi nomor Alina yang dulu, siapa tahu saja gadis itu membohonginya untuk mendapatkan ponsel baru yang jauh lebih mahal. Namun nomor Alina dulu memang tidak dapat dihubungi.
"Ale yang ini gimana?" tanya Alina seketika mendapat tatapan tajam dari Alendra.
"Maksud gue Endra," ulang Alina dengan senyum dibuat semanis mungkin.
Alendra melirik tanpa minat ke arah barang yang sedang dipegang Alina. Detik berikutnya tawanya terdengar saat menyadari pilihan Alina itu terlalu berlebihan. Berlebihan untuk punya Alina yang ukurannya tidak seberapa itu.
"Itu untuk siapa?" tanya Alendra memastikan.
"Ya buat gue lah. Pake nanya lagi," ketus Alina yang malah semakin membuat tawa Alendra menjadi.
"Apanya yang lucu sih?" Alina mulai kesal dengan tanggapan Alendra itu.
Ia melirik ke arah bagian dadanya. Memang benar apa yang Alendra katakan. Tetapi dia tidak terima. Sebentar lagi pasti Alendra akan menarik kata-katanya itu.
"Minimalis-minimalis, lihat saja kalau punya gue udah jumbo, jangan ngiler lo," ketus Alina memilih yang lain dengan ukuran yang lebih pas untuknya.
Alendra masih terkikik. Namun diam-diam dia kembali mengambil br* yang tadi sempat Alina pilih itu. Lalu sengaja ia kasihkan ke Alina.
"Apa? Mau ngejek gue?" tanya Alina masih dengan nada ketus.
Alendra menggeleng. Ia kemudia manaruh br* tersebut ke dalam tas belanja yang Alina bawa.
"Buat persediaan, siapa tahu punya kamu cepet numbuh," ujar Alendra membuat rona merah terlihat di pipi Alina.
Alina sangat malu. Ia menatap sengit Alendra. Sebelum kembali melanjutkan acara pilih memilih pakain dalam yang dia inginkan.
Selesai berbelanja. Alina meminta untuk makan terlebih dahulu. Langit pun kini sudah berubah menjadi gelap. Tanpa mereka sadari keduanya berada di pusat perbelanjaan itu cukup lama. Namun karena ada saja tingkah keduanya membuat semua terasa biasa seakan tidak lama.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Alendra melirik Alina sekilas.
Keduanya sudah berada di dalam mobil dengan perjalanan pulang. Namun sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
"Terserah lo deh," balas Alina yang hanya diangguki oleh Alendra.
Mobil Alendra memasuki parkiran resto yang cukup besar. Terlihat tidak begitu ramai karena memang resto tersebut untuk kalangan orang-orang dengan banyak uang saja. Dilihat dari menu dan tempat pun akan membuat kejang untuk orang biasa apa lagi anak remaja yang uang saja masih meminta kepada orang tua.
Keduanya memasuki resto dan duduk di meja pojok yang kosong. Awalnya masih aman dan biasa saja, namun tidak lama setelah itu Alina terdiam melihat Diko kembali dengan seorang gadis. Ini gadis yang berbeda dengan yang Alina lihat ketika itu.
Tangannya terkepal, perasaanya mulai tidak menentu. Meski sudah bukan siapa-siapnya lagi namun Alina tidak bisa menghindari rasa kecewa dan amarah terhadap Diko. Dendamnya belum tersampaikan.
"Ternyata gue cuma salah satu dari sekian kolekasi lo Diko," lirih Alina tidak lekat menatap tajam Diko.
Sengaja ia beranjak dari duduknya. Mengambil minum yang baru saja pelayan resto taruh di depan mejanya. Langkahnya pelan menghampiri seorang yang sedang memadu kasih dengan mesra di meja lain.
"Alin," panggil Alendra namun tidak mendapat respon dari Alina.
Merasa ada yang tidak beres, Alendra segera bangkit untuk menghampiri Alina. Namun alangkah terkejutnya Alendra ketika melihat Alina yang sengaja menyiram seorang cowok dengan minuman yang dibawa olehnya. Dengan dalih tersandung dan tidak sengaja.
"Upss.. sorry-sorry gue nggak sengaja," ujar Alina yang mendapat tatapan tajam dari Diko.
"Eh..lo apa-apaan sih nyiram cowok gue? Nggak punya mata?" sungut gadis yang sedang bersama dengan Diko itu tidak terima.
"Cowok lo ya mbak? Hati-hati lho nanti cuma dijadikan selingan aja. Becanda nggak usah baper," ujar Alina membuat Diko menatap tidak percaya dengan apa yang gadis tidak dikenalnya itu lakukan dan katakan.
"Lo..nggak usah ikut campur urusan gu-"
Ucapan Diko terpotong saat melihat tatapan mata gadis di depannya itu. Entah kenapa dia jadi teringat dengan Jenni.
Tatapan itu. Batin Diko menatap sorot mata tajam gadis di depannya.
"Alin," panggil Alendra menghampiri mereka.
Namun ketika menoleh ke arah cowok yang rupanya pernah ia lihat ketika terjebak lampu merah itu seketika membuat Alendra meradang. Ia tahu apa yang Alina lakukan itu karena cowok tersebut sedang bersama dengan seorang gadis.
__ADS_1
"Sayang ayo..." Alendra dengan sengaja menggenggam tangan Alina untuk segera pergi.