
Semuanya menatap Gevan serius ketika sedang menerangkan apa saja kegiatan pentas seni yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Termasuk Alina yang menyimaknya dengan serius. Namun tidak pada Alendra yang malah kesal sendiri melihat tatapan Alina untuk Gevan. Padahal sangat terlihat jelas jika Alina menatap Gevan murni karena sedang membahas tentang pentas seni yang juga menyeret namanya. Namun sepertinya hati Alendra sudah membutakan matanya sampai tidak bisa membedakan tatapan kagum dan serius karena sesuatu hal.
"Ck, awas kamu," gumam Alendra yang dapat didengar oleh bu Tina.
"Ada apa pak Endra?" tanya beliau membuat Alendra melirik sekilas. "Panas," balas Alendra sekenanya.
Siapa sangka, mendengar keluhan Alendra justru membuat bu Tina beranjak pergi mencarikan minuman segar untuk Alendra.
"Sebentar pak, biar saya ambilkan minuman yang segar untuk bapak ya?" ujar beliau seketika membuat semua anak-anak menatap bu Tina bingung.
Tadi pembahasan sedang serius-seriusnya, tetapi guru itu main pergi begitu saja. Semua tampak menggeleng dengan tingkah bu Tina sebagai mahluk wanita. Benar kata pepatah wanita selalu benar dan tidak bisa dibantah.
Sikap cuek Alendra untuk bu Tina, juga tatapan mata Alendra untuk Alina tidak luput dari pengamatan Widya. Bahkan gadis itu tidak begitu fokus dengan apa yang Gevan dan anggota OSIS lainnya jelaskan.
"Gimana bapak setuju?" tanya Gevan diangguki oleh Alendra.
"Tambahan, pesta dansa dengan topeng akan menjadi penutup di malam harinya," usul Alendra seketika membuat semua yang berada di sana mengangguk setuju.
"Ide pak Endra keren, jadi kayak difilm-film," ujar salah satu siswi yang merupakan anggota OSIS juga.
"Baik pak," balas Gevan dan Nando bersamaan.
Jika yang lain tampak semangat dengan usulan Alendra tadi. Lain halnya dengan Alina yang malah menatap Alendra tidak suka. Kejadian kemarin petang menjelang malam kembali teringat, dimana Alendra menariknya untuk berdansa dengan debat kecil yang terjadi di antara mereka, juga ciuman dan sentuhan-sentuhan jemari nakal Alendra pada tubuhnya. Seketika membuat Alina menggeleng dan langsung berdiri untuk menolak.
"Enggak! Gue nggak setuju!" tolaknya dengan tubuh tiba-tiba berdiri.
Semua tampak menatap Alina cengo. Kecuali Alendra yang tersenyum miring melihat kebod*han yang dilakukan oleh Alina sekarang. Juga Widya yang bisa menebak apa yang Alina pikirkan. Karena jelas kemarin sore Widya melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana dansa panas itu terjadi di kamar atas sana.
Mendadak hati Widya kembali bergejolak setiap mengingat itu. Ia menatap Alina dengan pandangan berbeda.
"Kenapa kamu Alin? Apa kamu tidak bisa berdansa?" tanya Alendra sengaja menggoda.
"Bukan, tapi sa-saya-"
"Saya sangat setuju pak, bagaimana kalau kita juga mencari queen and king pada pesta dansa malamnya?" usul bu Tina yang tiba-tiba datang.
"Boleh," balas Alendra membuat bu Tina kegirangan sendiri.
__ADS_1
"Yes, ini minumnya pak, buat bapak biar nggak panas lagi lihat bodi saya yang seksi," ujarnya penuh percaya diri.
Seketika semua yang berada di ruangan tersebut menahan senyum melihat sikap bu Tina kepada Alendra yang terkesan sangat memaksa untuk mendapat perhatian.
"Baik anak-anak rapat kali ini kita akhiri sampai di sini, jika ada yang mau memberi usulan nanti kita bahas di rapat akhir minggu depan," ujar Alendra beranjak dari duduknya.
Sebelum pergi. Alendra melirik ke arah Alina dengan senyum miringnya. Entah kenapa ia suka sekali melihat Alina kesal karena kalah darinya, entah dalam hal apa pun itu.
"Pak, pak Endra! Minumnya!" seru bu Tina mengambil kembali minumannya untuk ia berikan sekali lagi kepada Alendra.
Langkah Alina cukup pelan untuk menuju kembali ke kelasnya. Sengaja ia tidak menunggu Widya tadi. Bahkan karena penampilan baru Widya tadi. Beberapa anggota OSIS ada yang sengaja menggoda Widya. Namun Alina tidak lagi berani melerai atau ikut campur. Toh... Widya saat ini sedang tidak ingin dengannya.
"Alin!" Gevan datang dengan pelastik putih di tangannya.
"Apa?" tanya Alina yang langsung membuat Gevan menyerahkan pelastik putih di tangannya.
"Belum makan kan? Nih gue bawain makanan buat lo," ujar Gevan membuat Alina terdiam. Ingin menolak tapi dia memang lapar. Tidak menolak Gevan malah semakin gencar mendekatinya.
"Di pinggir lapangan aja, ayo," ajaknya menarik tangan Alina.
Alhasil Alina kini berada di pinggir lapangan bersama dengan Gevan. Banyak para siswa dan siswi yang melihat ke arah mereka. Menurut mereka keduanya sangatlah cocok, yang satu siswa terpopuler dan yang satunya lagi siswi lugu yang kini menjelma menjadi paling cantik di sekolah. Jangan lupakan Alina yang juga sangat pemberani sekarang.
"Keliatan banget ya kalau kita lagi nggak baikkan?" tanya Alina membuat Gevan terkekeh.
"Pertemanan cewek unik ya? Ada masalah nggak kelar-kelar," ujar Gevan yang hanya dijawab Alina dengan anggukan kepala.
Memang benar apa yang Gevan katakan. Dan bahkan bisa tiba-tiba berubah sikap tanpa kita ketahui apa penyebabnya, yang lebih parah lagi kalau kita mencoba bertanya tetap tidak mendapat jawaban dan malah terkesan cuek, itu menurut Alina pertemanan yang fake sekali.
Sangat berbeda ketika ia berteman dengan Boy, hampir 6 tahun bersama, namun tidak pernah berada di situasi yang seperti sekarang ini Alina rasakan dengan Widya.
"Kemarin Widya nemuin gue," ujar Gevan menatap lurus ke depan. Lalu menatap Alina yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Tahu nggak dia ngomong apa?" tanya Gevan mendapat gelengan dari Alina.
"Katanya, dia punya raha-"
"Kak Gevan! Ada yang berantem di kantin!" ujar salah satu siswa kelas 10.
__ADS_1
Keduanya saling tatap dan beranjak dari duduknya.
"Alin, gue tinggal dulu ya?" pamit Gevan diangguki oleh Alina dengan senyum.
"Sorry banget nih!" seru Gevan berbalik kembali menatap ke arahnya ketika sudah berlari.
"Nyante sih!" balas Alina.
Sejujurnya ia cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Gevan tentang obrolannya dengan Widya.
"Widya ngomongin apa ya?" Punya apa sih emang?" gumam Alina tampak berpikir. Namun lagi-lagi dia tidak mau mengambil pusing. Alina memilih untuk langsung pergi ke kelas. Makanan yang diberikan oleh Gevan tadi cukup membuat Alina kenyang.
Pukul 2 siang. Alina sudah berdiri di mini market dekat sekolah. Meski Alendra menyuruhnya untuk langsung ke parkiran guru saja. Namun tidak Alina lakukan, mengiyakan permintaan Alendra sama saja dengan bunuh diri namanya. Jika kepala sekolah yang melihat, Alina masih bisa bernapas dengan lega, namun jika bu Tina yang tiba-tiba datang seperti waktu itu, Alina tidak mau masalah merembet kemana-mana.
"Ck, lama banget sih Ale? Katanya mau ke makam?" dumel Alina kesal sendiri.
Ekor matanya melirik ke dalam mini market di belakangnya. Senyumnya terbit saat melihat lemari pendingin untuk es krim yang terdapat di dalamnya.
"Nyatanya hidup emang butuh yang seger-seger," kekehnya masuk ke dalam minimarket tersebut.
Ia memilih beberapa es krim kesukaannya. Setelah itu langsung membayar dan kembali keluar untuk menunggu Alendra.
Tidak lama setelah itu, suara motor yang cukup dikenalinya terdengar. Motor besar berwarna hitam berhenti tepat di depan minimarket. Alina menoleh dan mendapati Diko yang sedang turun dari atas motor besar miliknya. Buru-buru ia menggunakan tas miliknya untuk menutupi wajah agar tidak terlihat oleh Diko. Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. Bukannya masuk ke minimarket, Diko justru sengaja menghampiri Alina.
"Kenapa ditutupin sih? Abis nyuri emang?" ujar Diko langsung membuat Alina menyingkirkan tasnya dari wajah.
"Diko, ngapain di sini?" tanya Alina pura-pura tidak tahu.
"Ck, lo lucu kalau lagi ke gep gini," komentarnya membuat Alina mencebik.
Diko masih dengan seragam sekolah miliknya. Duduk di kursi tidak jauh dari Alina. Ia menatap Alina yang terkesan lucu.
"Tadi gue mau jemput temen, kebetulan liat lo jalan ke sini, langsung putar balik deh buat temenin lo? Ngapain sih di sini? Nungguin Boy?" tebak Diko membuat Alina mendelik.
"Enggak, ngapain nungguin Boy!" balasnya.
"Berati nungguin gue dong, ayo naik kuda besi besar milik gue," ujar Diko seketika membuat keduanya saling pandang.
__ADS_1
Kata-kata itu yang dulu sering Diko ucapkan ketika sedang menggoda Jennifer yang ngambek karena ia telat menjemput. Entah kenapa momen disaat mereka masih bersama dulu kembali teringat. Meski Diko belum tahu siapa gadis di depannya ini, namun setiap kali melihat tatapan mata Alina ia seperti melihat seorang Jenni.
"Alina,k" suara seseorang berhasil mengalihkan atensi keduanya.