
Alina memeluk erat Boy yang kini sedang menjadi sandaran untuknya. Dalam keadaan seperti sekarang ini Boy cukup gantle untuk seorang laki-laki. Apa lagi untuk Jennifer yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
"Sudah Jen, sampai kapan lo terus begini?" tanya Boy mengelus lembut rambut Alina.
Alina tergugu. Air matanya semakin mengalir disetiap mengingat kata-kata Diko tadi.
Setelah kepulangan mereka dari bandara. Tadi Alina bersama dengan Diko dan Boy berlanjut mengunjungi kafe terdekat. Boy yang memang sudah sangat penasaran dengan rahasia yang masih disembunyikan oleh Mommy Sheren dan juga Diko. Sementara Diko penasaran dengan rahasia yang Boy katakan tadi.
Meski begitu sampai detik ini Diko belum tahu mengenai Jennifer masuk ke tubuh Alina. Seribu alasan tadi Boy berikan ketika Diko menanyakan tenyany rahasia besarnya.
Padahal Alina dan Boy kini tahu. Jika kesalahan tidak sepenuhnya ada pada Diko. Karena sebenarnya Daddy Jennifer lah yang diam-diam menemui Diko sebelum kecelakaan itu terjadi.
Pak Leon ayah dari Jennifer diam-diam menemui Diko dan menyuruhnya untuk meninggalkan Jennifer. Beliau mengira dengan hubungan yang terjadi di antara Jennifer dan Diko akan menghambat karir Jennifer pada waktu itu.
Hal itu yang membuat Jennifer pada malam itu melihat Diko bersama dengan gadis lain di sebuah kelab malam. Rupanya Diko cukup stres dengan permintaan dari Pak Leon. Diko sangat mencintai Jennifer itu yang membuatnya kini berusaha mendekati gadis-gadis agar mudah melupakan Jennifer. Lalu kini ia bertemu dengan Alina, gadis yang memiliki bola mata sangat berbeda dengan Jennifer, namun setiap melihat sorot mata gadis itu Diko dibuat teringat dengan Jennifer.
"Gue harus gimana Boy? Ternyata dad yang bikin hubungan gue sama Diko rusak."
"Gue nyesel banget kenapa waktu itu langsung pergi gitu aja. Kenapa nggak tanya Diko dan malah langsung egois banget." Alina semakin terisak setelah mendengar pengakuan dari Diko tadi.
Bahkan sekali pun tadi Diko mengatakan jika ia memang tertarik dengan Alina karena tatapannya yang mengingatkan dirinya dengan Jennifer itu sama sekali tidak membuat Alina marah. Justru ia merasa tersentuh dan semakin menyesal. Begitu juga dengan Mommy Sheren yang sama menyesalnya dengan Alina.
Jika saja beliau tahu lebih dulu, mungkin anak gadisnya tidak akan pergi secepat ini. Itu yang membuat Mommy Sheren setengah marah dengan Diko namun juga kasian dengan nasibnya yang sekarang.
"Hidup itu emang terkadang jalannya tidak bisa kita bayangkan sebelumnya Jen, penuh dengan lika-liku seperti jalanan yang terjal untuk dilewati. Tapi gue yakin yang namanya Jennifer itu pasti bisa melalui dan mengatasi ini semua." Boy berusaha untuk menenangkan Alina.
Ia sendiri cukup terkejut dengan pengakuan Diko tadi. Yang membuat Boy marah ialah kenapa tidak mengatakan langsung kepada Jennifer atau kepadanya dulu disaat Pak Leon memintanya.
"Diko kenapa jadi bod*h banget lagi," keluh Boy gemas sendiri.
"Lo kayak nggak tahu dad aja Boy?" ujar Alina membuat Boy mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah Mommy Sheren tahu kejadian itu. Kini hubungan kedua orang tua Jennifer mulai merenggang. Mommy Sheren sangat kecewa dan marah. Karena suaminya anaknya kini tidak ada di dunia lagi. Beliau sangat menyalahkan pak Leon atas kejadia yang menimpa Jennifer.
Pukul 7 malam. Alina baru saja sampai di apartemen. Seharian ini ia menghabiskan waktunya bersama dengan Boy. Beruntung seakan Alendra sedang tahu keadannya sampai tidak datang secara tiba-tiba seperti yang sudah-sudah.
"Thank Boy," ujar Alina mendapat senyuman dari Boy.
"See you Jenni, kalau ada apa-apa bilang ya?" Boy pergi meninggalkan Alina yang kini sedang mencoba membuka pintu apartemen.
Namun sepertinya Alina memiliki masalah baru kali ini. Apartemen tidak bisa dibuka meski sudah beberapa kali ia coba menekan pasword yang baru beberapa hari ini Alendra beritahu.
"Ini rusak apa gimana sih?" gumam Alina mulai kesal.
Terua mencoba meski ia tahu apa yang ia lakukan tidak akan membuahkan hasil.
"Kampret emang si Ale, gue harus gimana?" Alina berdecak seraya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke apartemen.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Alina kembali keluar dari gedung apartemen. Ia akan memilih untuk pulang ke rumah ibu martuanya. Sebenarnya ada pilihan lain selain pulang ke rumah orang tua Alendra. Ia bisa saja pulang ke rumah kedua orang tua kandung Alina asli. Namun berkunjung ke sana tanpa Alendra jelas akan menjadi pertanyaan yang sangat besar untuk kedua orang tuanya. Setidaknya Alina sedang tidak ingin menambah masalah setelah mendapat masalah cukup banyak.
"Pasti nemuin si tante," dumel Alina seraya bermain dengan ponselnya.
Ia cukup mendapat banyak panggilan tidak terjawab dan juga pesan singkat. Namun Alendra sama sekali tidak menghubunginya. Alina jadi kesal sendiri dengan laki-laki tidak tahu diri.
"Beneran nggak nyariin gue nih?" gumamnya menggeleng.
Tangannya terampil membuka pesan dari Widya. Baru setelah itu ia tahu jika ternyata Alendra sempat mencarinya di rumah sakit. Tanpa disadari sudut bibirnya tertarik ke atas setelah tahu Alendra mencarinya.
"Kenapa nggak langsung ke apartemen Boy aja sih seperti waktu itu. Dasar gengsian," gumam Alina lagi seraya membalas pesan yang Widya kirimkan tadi.
Tepat di depan rumah mama Intan. Alina turun dan langsung membayar taksi yang mengantarnya.
"Pak," panggil Alina membuat satpam di rumah tersebut menoleh.
__ADS_1
"Lah...neng Alin," balasnya gugup membukakan pintu gerbang.
"Makasih," ujar Alina langsung masuk ke dalam.
"Wah...perang nih," gumam satpam mengingat wajah marah Alendra tadi ketika datang.
"Keadaan rumah cukup sepi. Tidak ada mama intan atau pun pak Dirta di sana. Alina masuk ke dapur belakang. Ia akan bertanya dengan asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
"Bi, mama sama papa kemana ya?" tanya Alina.
"Oh neng Alin, ibu lagi ada arisan berlian non, bapak sudah pasti nganterin dong," balasnya dan diangguki oleh Alina.
"Ya sudah makasih ya mbak." Alina pergi menuju ke atas. Dimana letak kamar Alendra berada.
"Kesempatan nih buat gue," ujarnya penuh percaya diri.
Alina tidak usah mencari alasan jika tadi bertemu dengan martuanya dan menanyakan keberadaan Alendra.
Ceklek.
Alina membuka kamar yang masih dalam keadaan gelap. Ia semakin yakin jika mama Intan pergi sebelum sore tadi. Memang terkadang tidak ada yang berani masuk ke kamar Alendra sekadar menyalakan lampu saja. Hal itu biasanya akan dilakukan oleh mama Intan sendiri.
Tepat ketika Alina menyalakan lampu kamar. Alendra dengan mata sayu sudah berdiri di depannya.
"Hei baby," sapa Alendra menyunggingkan senyum iblisnya.
Deg
Alina terpaku. Ia terkejut setangah mati melihat penampakan Alendra di depannya. Terlebih bau alkohol yang terasa menyengat membuat Alina semakin harus hati-hati. Alendra sedang mabuk.
Perlahan langkah Alendra mulai mendekat. Sudut bibirnya kembali tertarik ke atas melihat wajah takut Alian saat ini. Bau alkohol semakin menyengat kala wajah Alendra begitu dekat dengannya. Dapat Alina rasakan napas Alendra pada sekitar permukaan kulit lehernya.
__ADS_1
"Sudah siap untuk malam ini?" bisiknya.