
Pagi harinya Alina melakukan aktifitas seperti biasanya saja. Tidak ada kejadian apa-apa tadi malam. Alina tidur tanpa gangguan dari manapun, termasuk nyamuk sekali pun tidak ada di sana.
Karena waktu yang masih cukup banyak untuk berangkat sekolah. Sengaja ia berkeliling ke rumah tersebut. Jika tadi malam ia tidak percaya itu rumah Alendra. Lain halnya dengan pagi hari ini, ia sudah percaya jika itu memang rumah Alendra. Foto-foto menawan Alendra terpajang di dinding rumah tersebut. Sangat besar dan cukup menyilaukan mata bagi yang melihat, wajah rupawan Alendra terlalu mencolok di foto tersebut.
Entah bertujuan untuk apa Alendra selama ini tinggal di apartemen mewah yang menurut Alina tidak seberapa luasnya itu dibanding dengan rumahnya. Namun yang jelas kini Alina semakin yakin jika Alendra memang bukan hanya anak dari pengusaha kaya raya saja. Tetapi ia juga berbakat menjadi penerus orang tuanya.
"Gara-gara si Ale nih gue jadi belum lihat isi surat Alin," gumam Alina dengan langkah kecil melewati beberapa ruangan.
Seakan tidak sadar jika itu berada dimana. Alina tetap melangkah maju.
"Kalau dipikir-pikir kompakan juga ya nama mereka? Alina-Alendra, janjian apa gimana sih?" terlihat gelengan kepala dari Alina setelah mengatakan hal itu. Sangat konyol menurutnya sampai nama saja dipermasalahkan.
Langkahnya kembali ia lanjutkan. Rasa penasarannya cukup tinggi juga dengan hal-hal baru di dalam hidupnya.
Tepat saat ia akan kembali melangkah maju. Alina terdiam di tempatnya. Dari sudut ruangan terlihat Alendra mengenakam kaos putih polos yang sangat tipis, sehingga bentuk tubuhnya tercetak dengan sangat jelas dengan posisi Alendra saat ini.
Alendra baru saja berolahraga, itu yang membuat tubuhnya tercetak dengan jelas di kaos putih tipisnya, keringat yang keluar membantu membuatnya terlihat semakin seksi dan menggoda saat ini.
Berani taruhan jika saja Alendra ini bukan orang yang menyebalkan. Alina yang dulu atau Jennifer sudah pasti tertarik jika bertemu dengan laki-laki seperti Alendra ini. Jujur ia sendiri selama bekerja sebagai model atau ikut bermain film belum pernah bertemu dengan lawan jenis yang begitu menarik seperti Alendra.
Bisa dikatakan, ia menemukan keindahan yang tersembunyi jauh di depan layar.
Glek
Tanpa ia sadari, ia tertegun melihat keindahan yang tercipta karena Alendra. Tindakan Alendra untuk mengusap peluhnya dengan mengangkat sebagian kaos yang sedang dikenakannya terlihat sangat seksi. Perut kotak-kotaknya terlihat mengkilat karena keringat. Alina akui itu, jika Alendra ini memang sangat menawan untuk saat ini.
Jemarinya terus ia remas untuk menyadarkan diri. Barang kali ia akan bertindak yang nantinya membuatnya menyesal karena kebodohannya. Pikirannya terus menyuruhnya untuk pergi, namun lagi-lagi tubuhnya sangat berkhianat. Terbukti dari rasa kaku yang tiba-tiba menyerang disekitar tubuhnya. Kakinya seakan tidak bisa digerakan untuk tetap berada di sana menikmati keindahan secara diam-diam.
Tubuhnya semakin menegang tatkala Alendra menoleh dan mendapati dirinya yang masih berdiri di tempatnya. Perlahan langkah Alendra mulai maju menuju ke arahnya.
Ayo kabur woy, kenapa sih ini badan. Dumel Alina dari dalam hatinya.
__ADS_1
Melihat Alendra yang semakin mendekat malah membuat tubuh itu tidak bereaksi apa-apa. Alina terus mencoba untuk menggerakan kakinya. Namun hasilnya tetap saja sama. Tubuh Alina tidak bisa diajak bekerja sama.
"S**lan, kenapa gue mendadak struk gini sih!" dumelnya menatap Alendra yang semakin mendekat.
Deg
Jantungnya terpompa dengan sangat cepat ketika Alendra berdiri tepat di depannya. Tatapan Alendra begitu lekat menatap manik mata hitam jernih itu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Alendra, namun sorot mata itu menyiratkan akan sesuatu.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Alina sedikit salah tingkah. Entah kenapa ia jadi seperti terbawa suasana karena Alendra. Biasanya ia akan berontak dan tidak menanggapi serius apapun itu yang terjadi di antara dirinya dan Alendra. Namun kali ini ada yang berbeda.
Detik berikutnya tubuh Alina kembali melayang saat Alendra sudah berhasil menggendongnya dan membawanya ke meja makan untuk sarapan.
"Ale lepas," berontak Alina baru bisa mengeluarkan suaranya.
"Ale! Lepasin gue," protes Alina lagi, namun Alendra tidak peduli, dia tetap membawa Alina sampai di meja makan dan mendudukannya dengan cara tidak hati-hati sampai membuat Alina mengeluh sakit.
"Auw, sakit Ale," kesal Alina membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas.
Tidak, dia tidak mau menunggu Alendra, yang ada malah nanti ia akan telat berangkat. Sekarang sudah hampir pukul 7 pagi dan Alina masih harus menunggu Alendra? Jelas ia akan menolak langsung.
"Nggak mau, gue mau berangkat sekarang!" Alina beranjak dari duduknya.
Tangannya mengepal. Alendra berbalik badan dan langsung kembali menggendong Alina layaknya karung beras.
"Ale, lepasin gue!" Alina kembali mencoba untuk berontak. Namun kali ini Alendra tidak akan menuruti permintaan gadis itu. Ia tetap membawa Alina dan bahkan melewati meja makan.
"Bi, bawakan sarapan ke kamar saya untuk dia," beritahu Alendra sebelum naik ke atas tangga.
Mata Alina melotot ketika mendengar jika Alendra akan membawanya ke kamar. Sebisa mungkin Alina kembali berontak agar Alendra melepaskannya dan mengurungkan niatnya itu.
"Ale! Gue udah telat, lo breng**k banget sih!" dumel Alina membuat Alendra terkekeh.
__ADS_1
"Lepasin gue atau gue loncat!" ancam Alina yang membuat tawa Alendra semakin terdengar.
Ancaman macam apa itu? Loncat diatas gendongan Alendra tidak akan membuat Alina mati, yang ada dia malah akan kesakitan karena tindakan konyolnya itu.
Kittt
Alina terbelalak saat Alendra dengan sengaja mengigit bagian belakang Alina yang memang tepat di wajahnya.
Hanya gigitan kecil namun efeknya membuat Alina diam dan tidak lagi berani berontak.
"Rewel lagi, aku kasih yang lebih Alin," ancam Alendra membuat Alina terdiam.
Bagian belakangnya baru saja Alendra gigit? Alina sendiri saja membayangkan sangat risih, kenapa Alendra tidak risih? Kepalanya menggeleng bersamaan dengan ekor matanya melirik ke arah tubuh tegap yang sedang membawanya pergi.
"Lo guru term*s*m Ale," ujar Alina membuat Alendra tersenyum miring.
Bruk
Dengan sedikit brutal Alendra membaringkan Alina di ranjangnya. Ini kamar yang beda lagi dengan yang Alina tempati tadi malam. Namun ukurannya sama luasnya.
"Masih untung kamu cuma aku gigit Alina," tekan Alendra meninggalkan Alina yang masih terdiam di tempatnya.
Maksud Alendra tadi memangnya apa? Alina tidak merasa beruntung, justru dia merasa sedikit nyeri dibagian belakangnya karena gigitan kecil dari Alendra tadi.
"Untungnya gue dimana coba?" gumam Alina menggelengkan kepalanya.
Tidak lama terdengar suara ketukan dari luar pintu. Alina buru-buru bangkit untuk membuka dengan niatan akan kabur dari kamar Alendra. Namun betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu yang berderet di depannya sudah ada 4 orang lebih. Niat sekali memang Alendra untuk mengurung dirinya.
"Makasih, lain kali nggak usah repot-repot sampai 4 orang juga kali yang bawain makan," ujar Alina membuat beberapa asisten rumah tangga tersebut tersenyum tipis.
"Sudah menjadi kewajiban kami memberi yang terbaik untuk anda nona Alin," balas salah satu seraya pamit pergi.
__ADS_1
Alina mencebik. Mana ada yang terbaik, yang ada Alina merasa seperti tuan putri yang terkekang di istana. Tetapi tunggu, Alina baru menyadari perubahan pada diri Alendra saat ini. Mungkin nggak sih Alina yang dulu juga pernah dibawa ke rumahnya ini? Alina jadi penasaran seperti apa Alendra memperlakukan Alina yang asli selain pengkhianatan yang Alendra lakukan dengan wanita yang ia sebut sebagai tante itu.