Fire On Fire

Fire On Fire
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

Tangan Alina terkepal untuk berjaga-jaga. Barang kali Alendra akan berbuat sesuatu hal yang membuatnya nanti kewalahan. Apa lagi Alendra kini dalam keadaan mabuk. Namun detik berikutnya Alina dibuat terkejut sekaligus kewalahan menopang tubuh besar Alendra.


Laki-laki itu ambruk di tubuh kecil Alina.


"Jangan bertingkah Alina," gumamnya sebelum memejamkan mata.


Kejadian ini persis seperti Alina ketika mabuk waktu itu. Setelah mengatakan unek-uneknya ia langsung tertidur tanpa beban.


"Ale! Ale." Alina mencoba menyadarkan Alendra. Namun hasilnya tetap sama, Alendra kini sudah terbawa alam bawah sadarnya.


"Berat banget, mana bau lagi," keluh Alina berusaha menyeret Alendra menuju ke ranjang.


Pagi harinya. Alina dikejutkan dengan tidak adanya Alendra di sampingnya. Seingatnya tadi malam Alendra dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri. Lalu kemana perginya laki-laki itu dipagi seperti ini.


"Sayang," sapa mama Intan melihat kedatangan Alina.


Gadis itu kini sudah siap dengan seragam sekolahnya lengkap.


"Ma, kak Endra dimana?" tanya Alina membuat sudut bibir mama Intan tertarik ke atas.


"Duh...pagi-pagi udah nanyai Endra aja sih? Tuh lagi olahraga di depan," ujar mama Intan seketika membuat Alina melotot.


"Panggilin sayang, kita sarapan bersama," titah beliau diangguki oleh Alina.


"Ck, tadi malam mabuk berat, sekarang udah olahraga aja si Ale, dasar kamuflase," decak Alina mencari keberadaan Alina.


Benar apa yang dikatakan oleh mama Intan tadi. Alendra memang sedang berolahraga, lari pagi tadi di komplek. Dan kini pemandangan yang cukup membuat Alina panas sedang dia saksikan.


Beberapa wanita yang masih terlihat muda dan mungkin saja seumuran dengan Alendra kini sedang mengobrol dengan Alendra. Ada juga dari mereka yang sengaja bertanya-tanya agar lebih dekat.


"Ini bukan olahraga tapi caper," gerutu Alina melihat tidak suka ke arah Alendra dan wanita-wanita itu.


Tangannya bertolak pinggang. Napasnya ia hirup sangat dalam. Langkahnya cukup lebar untuk menghampiri Alendra.


"Lihat aja gue kipas semua cewek gatel itu," seru Alina melangkah ke depan.


"Sayang, kok langsung lari sih? Emangnya nggak capek?" tanya Alina membuat Alendra beserta dayang-dayangnya yang sedang merayu menoleh ke arahnya.


Melihat kedatangan Alina membuat Alendra berdecak. Ia masih ingat dengan apa yang Alina lakukan kemarin. Bolos sekolah dan pergi sampai larut malam. Itu harus Alendra kasih pelajaran sebenarnya.


"Siapa sih kak?"


"Adiknya ya?"


Para wanita itu melihat kedatangan Alina yang sudah mengganggu waktu terbaiknya bersama dengan Alendra. Selangkah lagi mereka bisa saja dekat dengan Alendra. Atau pura-pura bertukar telepon agar bisa lebih dekat.


"Kamu kenapa di sini? hmm?"


Alendra dengan sengaja menarik tubuh ramping Alina untuk dia dekap. Ia akan mengambil kesempatan itu untuk mengerjai Alina balik

__ADS_1


"Eh," kaget Alina melihat respon Alendra.


Salah langkah Alina ternyata, dia lupa kalau Alendra itu seperti serigala berbulu domba.


"Ini adikmu Ndra?"


Kepala Alendra menggeleng. Ia menatap Alina yang sudah berada di dekapannya. Lalu dengan sengaja mengecup bibir gadis itu di depan wanita-wanita tersebut.


Cup


"Dia istriku," ujar Alendra membuat mereka semua terkejut.


Begitu juga dengan Alina yang sama terkejutnya dengan pengakuan Alendra.


"Ayo kita lakukan sekali lagi sayang, sebelum kamu berangkat sekolah," ujar Alendra terdengar sangat ambigu.


Ingin marah tetapi tidak bisa ia lakukan. Jika saja sekarang ia tidak berada di rumah martuanya. Mulut Alendra sudah pasti ia sumpal tadi. Tetapi lihatlah sekarang Alina hanya bisa tersenyum untuk pura baik-baik saja.


"Tambah dong sayang, biar makin berisi, mama perhatiin Alin sekarang makin bagus badannya," ujar mama Intan seketika membuat Alendra tersedak.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


"Kamu kenapa Ndra? Merasa ikut andil untuk membuat tubuh Alina makin berisi?" tanya mama Intan begitu menohok Alendra.


"Alin sekarang banyak makan ma, karena nggak banyak pikiran lagi," balas Alina melirik ke arah Alendra.


Mendengar penuturan Alina barusan membuat Alendra buru-buru mengambil minumannya lagi. Ia tidak mau sampai harus terbatuk karena kata-kata yang Alina ucapkan tadi.


"Kita berangkat ma, pa?" pamit Alendra beranjak dari duduknya.


"Ma, pa. Alina berangkat sekolah dulu," lanjut Alina melihat Alendra yang sudah melenggang pergi.


"Ehem... Ada yang merasa nggak enak nih," sindir Alina masuk ke dalam mobil.


Alendra melirik sekilas. Lalu tanpa membalas sindiran Alina ia melajukan mobilnya.


"Eh...den Endra, nggak sama mamang?" tanya mang Udin yang mendapat gelengan kepala dari Alendra.


"Lagi ngerasa nggak enak mang," teriak Alina melirik ke arah Alendra.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja. Alina sesekali melirik ke arah Alendra. Entah kenapa dia begitu puas melihat wajah Alendra sekarang.


"Kalau nggak ngerasa nggak usah cemberut gitu sih," ujar Alina.


Terdengar helaan napas dari Alendra.

__ADS_1


"Kata-kata apa yang aku ucapkan sampai sekarang bikin kamu nggak bisa lupa Alin?" tanya Alendra serius.


Deg


Alina sedikit terkejut dengan pertanyaan yang Alendra berikan. Ia malah bingung sendiri untuk mengatakan.


"Perselingkuhan lo salah satunya," ujar Alina sekenanya.


Lagi-lagi Alina mencari aman saja. Ia tidak tahu kata-kata kasar Alendra yang begitu membekas sampai membuat Alina susah untuk memaafkan atau melupakan.


"Oke, aku akan putusin Pinka," ujar Alendra seketika membuat mata Alina membola.


Semudah itu Alendra mengambil keputusan.


"Nggak yakin dan nggak percaya gue," ujar Alina melirik ke arah Alendra.


Memamgnya siapa yang bisa percaya begitu saja dengan kata-kata dari mulut laki-laki seperti Alendra. Banyak membual.


"Nanti malam kamu ikut aku," ujar Alendra bersamaan dengan mobil yang berhenti di parkiran guru.


Alina mendesah kesal. Ia harus berhati-hati ketika turun. Jangan sampai bu Tina kembali nongol dan memergokinya. Bisa panjang urusannya nanti.


"Kenapa di sini sih?" protes Alina seketika membuat Alendra tersenyum tipis.


"Latihan biar kamu nggak tegang terus," balas Alendra membuat Alina mencebik kesal.


Orang-orang kalau berucap tentang apa yang harus dia lakukan selalu segampang itu. Tidak Boy dan juga Alendra. Mereka hampir sama saja.


"Tunggu Alin." Alendra mencegah pergelangan tangan Alina.


"Apa?" tanya Alina yang langsung mendapat tatapan lekat dari manik mata elang Alendra.


Cup


"Sebagai ganti ronde pagi yang tadi tidak kita lakukan," ujar Alendra mengecup bibir Alina dengan lembut.


S**lan memang Alendra. Dia selalu bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dan kenapa Alina tidak menaruh curiga lagi dengan laki-laki seperti Alendra?


Tok


Tok


Tok


"Pak Endra," pintu mobil Alendra diketuk dari arah luar.


Pelakunya tidak lain dan tidak bukan ialah bu Tina. Guru muda yang selalu mencari perhatian dengan Alendra. Alina sempat terkejut melihat bu Tina yang kini terlihat sedang merapihkan tatanan rambutnya di luar.


"Ma**us," gumam Alina khawatir. Namun Alendra laki-laki itu malah tersenyum tipis dengan situasi yang terjadi sekarang.

__ADS_1


__ADS_2