
Hari ini di sekolah digemparkan dengan berita dari akun lambe-lambe lampis sekolah. Dimana kemarin Alina sedang bersama dengan kedua cowok di depan minimarket dekat sekolah kini tersebar luas fotonya. Salah satu cowoknya berasal dari sekolah berbeda, sementara yang satunya lagi sudah sangat mereka kenali dan bahkan membuat beberapa anak tidak habis pikir dengan tindakan Alina yang semakin berani.
Kemarin, dimana Gevan dan Diko sedang bersama dengan Alina di depan minimarket kini telah menjadi berita hangat di sekolah. Foto-foto ketiganya tersebar, dan bahkan kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat karena setelahnya Alina langsung pergi mencari alasan dan meninggalkan dua cowok yang sedang mencoba mendekatinya.
Banyak di antara mereka yang menyayangkan sikap Alina. Mendapat perhatian dari Alendra namun masih memberi harapan dengan yang lain.
"Cieee...yang mulai double gebetannya."
"Gue kira cewek kayak dia itu tulus, eh ternyata modus."
"Bisa gaet yang itu, yang lain dicoba juga..gatel banget kayaknya."
"Biasanya yang keliatannya lugu ternyata suhu nggak sih?"
"Bener, jangan liat dari covernya aja, jaman sekarang bi**h itu yang lugu-lugu."
Alina melirik mereka yang tadi sengaja dikeraskan suaranya ketika ia lewat. Namun Alina masih tidak sadar jika apa yang teman-temannya katakan itu sindiran untuknya.
Dengan langkah santai Alina kembali melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba dua orang menarik tanggannya dan langsung membawanya ke toilet.
Bruk
Tubuhnya terhantam dinding cukup keras, Alina meringis sakit, ia menatap ke arah dua gadis yang tadi sengaja menariknya ke toilet.
Mereka teman-teman Aurel. Namun ada yang berbeda dengan perundungan yang didapatkan sekarang, Aurel tidak bersama dengan teman-temannya.
"Lepasin anj*r!" umpat Alina mencoba untuk melepaskan cekalan dari mereka.
Bukan karena Alina lemah, hanya saja dikroyok dengan cara dadakan jelas membuatnya tidak bisa melawan. Alina belum siap tadi.
Ceklek
Pintu toilet terbuka. Kini datang satu lagi teman Aurel yang tidak begitu Alina kenali. Wajahnya cukup kalem, namun begitu tersenyum, senyuman itu bak iblis yang mempunyai segala rencana jahat untuk Alina.
"S**l, antagonis banget mukanya," gumam Alina melirik ke arah Loli.
"Lepas aja, dia nggak akan berontak kok," titah Loli kepada Evelyn dan Gress.
__ADS_1
"Beraninya main keroyokan," cibir Alina tanpa rasa takut.
"I know, gadis licik seperti lo emang sekali-kali harus dikasih pelajaran, biar nggak ngelunjak," ujar Loli membuat sudut bibir Alina tertairk ke atas.
"Keliatan kok takutnya, nggak heran gue," balas Alina seketika membuat Loli mengepalkan tangannya kuat.
Melihat gaya pongah Alina malah membuatnya tidak tahan untuk segera memberi pelajaran. Terlebih ketika tubuh Alina malah sengaja bersandar pada dinding seakan menantang mereka yang jelas-jelas lebih banyak jumlahnya. 1 banding 3 jelas sesuatu yang mustahil jika Alina sampai bisa menang.
"Bac*t banget lo." Evelyn mulai panas melihat Alina yang masih bisa santai.
"Buruan gih, tangan gue udah gatel banget ini," timpal Gress menambahi.
Tangan Loli merogoh ponsel di tangannya. Ia mau menghubungi seseorang.
"Mau diapain nih cewek belagu?" tanya Loli dari sebrang telepon.
"Terserah kalian, yang penting hancur tuh cewek dan jangan sampai bikin gue kena skors lagi," ujar seseorang dari sebrang telepon.
Seketika Loli tersenyum miring. Wajahnya terlihat sangat jahat ketika menatap Alina yang masih bersikap santai di depannya.
"Oke," balasnya menutup sambungan telepon.
"Bentar," ujar Gres mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Bukannya takut mulai mendapat ancaman. Alina justru malah tertawa. Membuat mereka bertiga yang berada di sana menatap Alina aneh.
"Dasar gil*!" hardik Evelyn.
"Kalian mau apa sih? Buru gih," ujar Alina semakin membuat mereka tertantang.
Satu gunting besar berhasil Gres keluarkan. Lalu ia serahkan pada Loli yang bertugas sebagai eksekusi Alina kali ini. Aurel sudah membayar mahal untuk ini, karena apa yang akan mereka cukup berisko, namun Aurel sangat marah besar ketika melihat foto Diko sebagai salah satu cowok yang bersama dengan Alina kemarin. Pantas saja Diko tidak datang untuk menjemputnya. Ternyata semua karena Alina. Si gadis lugu yang kini bergerak bagaikan suhu.
Diam-diam Alina memikat banyak cowok sampai membuat Aurel semakin tidak suka dengannya.
"Pegangin," titah Loli yang langsung membuat Evelyn dan Gres kembali memegangi Alina.
Kali ini tidak seperti tadi. Alina justru sengaja mengambil air di toilet dan langsung disiramkan kepada ketiganya. Yang tadinya sudah bersiap mengeksekusi Alina mereka malah menjerit karena seragam yang mereka kenakan basah.
__ADS_1
"Ah... Anj*r bar-bar banget lo!" umpat Gres menutupi bagian wajahnya.
"Gila, berhenti Alin!" tukas Loli ikut protes.
Alina terkekeh melihat ketiganya dengan seragam basah yang dikenakan. Lalu melewati begitu saja mumpung mereka masih sibuk karena tindakannya itu.
"Kalian... Lose," ujar Alina sebelum kepergiannya.
Semua menatap Alina tidak suka. Bukannya puas melihat Alina yang tertindas karena mereka. Justru mereka sendiri malah yang dikerjai oleh gadis itu. Tidak begitu serius, namun rencana mereka untuk membuat Alina hancur gagal total, Aurel jelas akan marah besar sekarang.
"Gimana sih kalian! Suruh pegangi tangannya aja nggak becus banget!" omel Loli mulai ketar-ketir akan mendapat amukan dari Aurel.
Alina duduk di bangkunya. Ia sudah sampai di kelas dan kembali mendapat tatapan aneh dari teman-teman kelasnya. Semuanya kini bersikap aneh tidak seperti biasanya.
"Cantik sih, tapi pacar orang diambil juga."
"Namanya juga bi**h, pastilah semua mau."
"Pak Endra harus tahu kalau murid kesayangannya ini seorang bi**h kecil yang licik, sayang banget lho guru setampan pak Endra jatuh ditangan seorang ja**ng."
Kali ini membuat Alina cukup panas mendengar ocehan dari teman-temannya. Sedari tadi ia sudah mencoba untuk bersikap cuek, toh...ia berpikir itu bukan dirinya. Namun ketika membawa nama Alendra jelas ada kaitannya dengannya.
Alina melirik ke arah Widya yang sedang membaca buku di depannya. Seakan cuek dengan apa yang sedang terjadi di dalam kelas. Terdengar helaan napas dari Alina. Tangannya sengaja menggebrak meja cukup keras sampai membuat Widya tersentak.
Brak
Tubuhnya berdiri. Ia menatap gerombolan siswi yang sedang duduk dan menatapnya acuh.
"Emangnya apa yang kalian liat? Apa yang kalian tahu tentang gue?" tanya Alina membuat mereka terdiam.
"Ck, fake banget ya kalian, beraninya ngomongin dibelakang, giliran gue labrak gini langsung pada diem." Alina melirik ke arah Widya sekilas. "Pecundang," setelah mengatakan itu Alina keluar dari kelasnya. Moodnya sudah hancur. Ia tidak minat lagi untuk sekolah dan ingin kembali membolos.
"Alina!" teriak Gevan menghampiri Alina.
Langkahnya terhenti. Ia menatap Gevan yang sedang mendekat ke arahnya. Hal itu tidak luput dari beberapa siswi yang langsung memasang mata mereka.
"Eh...Gevan nyamparin," ujar salah satu siswi.
__ADS_1
Biasanya hal semacam itu terjadi terlihat biasa saja. Namun sejak beredarnya foto Alina bersama dengan dua orang cowok dengan beberpaa tulisan yang sengaja untuk menggiring opini membuat teman-teman sekolahnya kini melihatnya dengan cara berbeda.