
Setelah bel istirahat. Alina dan Gevan kini berada di ruang BK, mereka diam dan terus mendengarkan ocehan dari guru di depannya.
"Kalian ersihkan ruang perpus setelah ini," final guru BK diangguki setuju oleh keduanya.
"Dan kamu Gevan. Hukuman kamu bapak tambah besok bersihkan ruangan lab juga, jadi ketua OSIS bukannya memberi contoh yang baik malah ikut-ikutan bolos. Kamu harusnya tahu Alin itu ist-"
"Alin kenapa pak?" tanya Gevan penasaran.
"Ah sudah... kalian boleh keluar sekarang," titah beliau dituruti oleh Alin adan Gevan.
"Baik pak, kita permisi," ujar keduanya bersamaan.
"Lo kenapa Lin?" setelah keluar Gevan langsung bertanya dengan Alina apa yang akan dikatakan oleh guru BK tadi.
"Gue nggak papa, palingan tadi juga mau dibilang tukang bolos. Udah yuk ah mending kita ke perpus!" ajaknya langsung berjalan. Diikuti Gevan dari belakang yang sedang tersenyum sembari menatap punggung Alina di depannya.
Setengah perjalanan, tepat di pertigaan. Langkah kaki Alina terhenti. Alendra tiba-tiba datang dan mengejtukannya, hampir saja keduanya bertabrakan jika saja Alina tidak reflek untuk berhenti.
Untuk beberapa saat keduanya saling melempar pandang. Sebelum akhirnya Alina memutuskan untuk mengalihkan pandangan matanya dan berniat kembali berjalan.
"Pak Endra," sapa Gevan dilirik sekilas oleh Alendra. Namun sama sekali tidak menjawab. Justru melihat Gevan sekarang membuat Alendra ingin sekali menendang salah satu anak didiknya itu.
Gevan terlalu berani mengajak Alina untuk bolos bersamanya. Niat Gevan jelas baik, agar Alina tidak lagi mengingat kejadian tadi di dalam kelasnya. Dimana teman-temannya memperolok dan berniat mempermalukannya dengan tulisan-tulisan di depan papan tulis. Tanpa tahu siapa Alina sebenarnya.
"Alina, kamu ke ruangan saya sekarang! Banyak soal yang harus kamu kerjakan," ujar Alendra datar.
"Maaf pak nggak bisa, saya sedang dihukum untuk membersihkan ruangan perpus sekarang," tolak Alina secara halus.
"Permisi," lanjut Alina dengan sopan.
Mendapat penolakan langsung dari Alina apa lagi di depan Gevan seketika membuat Alendra merasa kesal. Tanpa sadar tangannya sudah mengepal di dalam saku celananya.
"Jangan lupa kerjakan 30 soal dari saya dan kumpulkan besok," final Alendra membuat langkah Alina kembali terhenti sebentar.
"Pak Endra, i-ini jawaban anak-anak." Widya datang dan langsung menghampiri Alendra.
Sejenak Alina terdiam saat suara Widya terdengar. Ia ingin berbalik dan melihat interaksi yang terjadi di antara Alendra dan Widya sekarang. Namun hal bodoh semacam itu tidak mungkin dia lakukan dengan adanya Gevan di sana.
__ADS_1
"Alin, ayo!" ajak Gevan diangguki oleh Alina.
Samar-samar masih dapat didengar oleh Alina jika Alendra menyuruh Widya langsung ke ruangannya sekarang. Entah kenapa feeling Alina terhadap Widya kini mulai berubah. Meski dia mencoba untuk mengenyahkan pikirannya tentang sahabatnya itu. Tetapi sikap Widya yang semakin hari semakin berbeda membuat ia merasa ada sesuatu yang Widya sembunyikan darinya.
Tidak begitu kentara, namun Widya semakin berani berhadapan dengan Alendra, padahal ia termasuk gadis pemalu apa lagi dihadapkan dengan laki-laki seperti Alendra. Harusnya Widya tidak cukup nyali untuk sekadar memberikan jawaban dari teman-teman kelasnya.
Di ruangan Alendra. Widya meletakan lembaran kertas jawaban dari teman-teman kelasnya. Ia terdiam seraya menatap Alendra yang sedang duduk seraya mengecek lembaran buku di depannya.
"Kamu bisa langsung pergi Widya," titah Alendra tanpa menatap ke arah Widya.
Diam tidak ada jawaban dari Widya. Karena gadis itu kini sedang bergelayut dengan pikirannya tentang laki-laki di depannya ini. Tubuhnya bergetar hebat kala melihat dagu seksi dan bibir Alendra. Tanpa disadari Widya menelan salivanya dengan susah payah.
Merasa ada yang aneh, barulah Alendra mendongak. Rupanya Widya masih berdiri di sebelah mejanya. Terdengar helaan napas dari Alendra sebelum ia kembali bersuara untuk menyuruh Widya keluar dari ruangannya.
"Ada lagi Widya?" tanya Alendra seketika membuat Widya terkejut.
Kepalanya menggeleng, matanya yang sedari tadi nakal berani menatap wajah tampan Alendra seketika menunduk.
"Kalau begitu kamu bisa keluar dari ruangan saya sekarang," ujar Alendra diangguki oleh Widya dengan gugup.
"Ma-maaf pak, kalau begitu saya permisi," pamit Widya keluar dari ruangan Alendra.
"Kak Lendra," lirihnya melangkah.
Sudah hampir selesai membersihkan ruangan perpus. Gevan duduk untuk beristirahat sejenak. Tidak lama Nando dan teman-teman yang lain datang membawa sebotol air mineral juga roti dan cemilan lainnya.
Kedatangan Nando seketika membuat Gevan karena tawa tidak manusiawi dari Nando. Teman-teman Gevan kini sedang menertawainya karena hukuman yang Gevan jalani sekarang. Juga untuk yang pertama kalinya seorang Gevan mendapat hukuman selama sekolah di sana.
"Ha..ha..ha... pecah telor," ujar Nando dengan tawanya.
"Bisa sesat semua kalau ketua OSISnya aja gini," ujar salah satu teman Gevan yang lain.
"Diam kalian, mana minumnya," sela Gevan dengan kesal.
Gevan mengambil dua botol air mineral, satunya untuk dirinya sendiri dan yang satunya untuk Alina.
"Alin, sini!" teriak Gevan membuat Alina menoleh dan menghampirinya.
__ADS_1
"Wait...wait, jangan bilang si Alina juga dihukum?" tanya Nando dengan polosnya.
Seketika rasa kesal yang tadi ada pada Gevan sedikit menghilang, berubah menjadi cibiran yang siap ia lontarkan untuk membalas tawa jahat Nando tadi.
"Emang iya, gue bolosnya sama Alin," jelas Gevan seketika membuat Nando mendelik.
"Bangs*t, tadi si Agam bilangnya sama si Widya. Tahu gitu gue juga ikutan bolos tadi," umpat Nando tampak sedikit kecewa dengan berita yang ia terima dari salah satu anggota OSISnya.
"Paan sih pada lebay deh." Alina tertawa dengan gelengan di kepalanya.
"Hahahaha makan tuh berita hoax," cibir Aldin yang tadi datang bersama dengan Nando.
"Sorry Do, lo bukan termasuk murid VIP di sini, jadi jangan coba-coba deh," ujar Gevan yang tidak diterima oleh Nando. Cowok itu memasang wajah garangnya untuk Gevan.
"Mamp*s! Makanya pinter dulu jangan game mulu otak lo, kalau perlu oplas dulu biar Alina mau dihukum bareng lo!" lagi-lagi Aldin kembali mencemooh.
"Sat kalian semua, teman lakn*t!" umpat Nando membuat tawa mereka meledak.
"BTW Lin, lo cewek pertama yang udah bikin Gevan bolos selama sekolah di sini, so... you is keren sekali Alina," ujar Nando. Matanya kini beralih melirik ke arah Gevan penuh dengan segala rencana menyesatkan.
"Jadi...jangan lupa Gev, makan-makannya," girang Nando menatap Gevan dengan alis dinaik turunkan.
"Makan tinggal makan aja sih ribet banget," ujar Gevan yang langsung membuat Nando girang. "Tapi bayar sendiri," lanjutnya seketika membuat tubuh yang tadi tegap langsung melosot seketika.
"Apa banget deh mereka," gumam Alina dengan senyumnya. Tanpa sengaja mata Alina menangkap seseorang yang sedang mengalihkan ponsel kepada mereka.
Alina terdiam, detik berikutnya ia baru sadar jika pasti orang tersebut akan mengambil foto atau video mereka dan akan kembali disebarkan sebagai berita.
"Sia**n, siapa sih pengecut banget," gumam Alina yang tidak tahu siapa pelaku tersebut.
Orang itu memakai seragam sepertinya. Jelas ia juga sekolah di sana, tetapi memakai hoodie besar dan juga masker membuat Alina susah untuk mengenalinya.
"Bentar deh." Alina berniat untuk menghampiri si pelaku yang diam-diam sedang mengambil gambarnya bersama dengan Gevan. Namun ia tidak lagi melanjutkan langkahnya ketika orang tersebut pergi tahu jika dilihat oleh Alina tadi.
"Bener kan pengecut," decak Alina.
"Kenapa Lin?" tanya Gevan memperhatikan Alina.
__ADS_1
"Bukan apa-apa tikus caper keknya," balas Alina sekenanya.