Fire On Fire

Fire On Fire
Fire On Fire


__ADS_3

Mengetahui jika di dalam perutnya kini telah hadir jiwa baru membuat Alina setengah sadar rasanya. Masih belum bisa percaya jika ia kini sedang hamil, mengandung anak dari Alendra. Seseorang yang tiba-tiba menjadi bagian dalam hidupnya karena jiwa yang masuk ke raga berbeda.


Diusapnya lembut perut yang kini masih terlihat rata. "Kamu cepet banget hadirnya," lirihnya dengan helaan napas yang cukup dalam.


"Sayang, ini susunya." Mama Intan datang dengan segelas susu ibu hamil penuh.


Setelah sampai rumah. Alina tadi kembali diperiksa oleh dokter. Dan dengan sangat jelas dokter tersebut mengatakan jika gadis itu memang sedang mengandung anak dari Alendra. Disaksikan langsung oleh kedua orang tua mereka.


"Diminum ya?" ujar mama Intan memegang pundak Alina dan mengusapnya.


Kepalanya mengangguk. Ia tersenyum lalu meneguk susu yang sudah diberikan oleh ibu martuanya.


"Makasih ma, jadi ngrepotin," ujar Alina mendapat gelengan kepala dari mama Intan.


"Enggak dong sayang, pokoknya mulai sekarang Alin kalau butuh apa-apa bilang mama aja ya? Kadang Endra suka nggak pengertian soalnya, sibuk juga," jelas beliau diangguki oleh Alina.


Di tempat berbeda. Darah segar mengalir pada bagian sudut bibirnya. Tamparan beberapa kali yang dia dapatkan membuat pipinya terasa kebas dan juga panas. Ia menatap nyalang gadis di depannya yang sudah berani memperlakukannya demikian. Namun ia lemah tidak bisa melawan karena kalah jumlah.


"Itu bayaran lo karena lo nggak kasih tahu gue hubungan pak Endra sama si bi*ch itu!" ujar Aurel menepuk pipi Widya pelan.


"Mau lagi lo?" tanya Aurel meremehkan.


"Guys! tambahin gih," suruh Aurel kepada teman-temannya.


Pukulan demi pukulan kembali didapatkan dari teman-teman Aurel pada wajah Widya. Salah satu dari mereka ada yang sengaja menendang perut juga bagian lutut. Lalu setelah puas mereka semua menyiram Widya dengan air kotor yang sengaja sudah disiapkan.


"Cabut guys!" titah Aurel setelah merasa puas melihat teman-temannya menyiksa Widya.


Setelah kepergian Aurel dan teman-temannya. Widya menangis pilu dengan keadaannya, namun detik berikutnya, tangis itu berubah menjadi tawa yang cukup menyeramkan.


"Tamat riwayat kalian semua," lirihnya tersenyum iblis.


Dengan tubuh tertatih Widya mencoba untuk bangkit. Tangannya mengambil sebuah ponsel dengan kamera yang sedari tadi menyala, merekam semua tindakan kejahatan yang dilakukan Aurel beserta teman-temannya kepada Widya sendiri.


Setelah kurang lebih selama 4 hari tidak sekolah untuk memulihkan diri. Alina kini kembali untuk sekolah. Ada harapan dalam dirinya jika teman-temannya mau menerimanya kembali seperti dulu, namun jika tidak ia sudah bertekad untuk pamit dari sekolah pada hari ini.


"Udah siap sayang?" tangan Alendra melingkar pada pinggang ramping Alina. Lalu mengelus lembut bagian perutnya yang masih rata.


"Ayo," balas Alina menoleh.


"Jangan lupa susu hamilnya, ada anak kita di sini," sekali lagi Alendra sengaja mengelus perut rata milik Alina lalu mengecup lembut bagian puncuk kepala Alina.


"Kayak bukan Ale yang gue kenal tahu nggak," balas Alina merasa semua sikap dan juga tindakan Alendra berbeda dari biasanya.


Apa yang dilakukan oleh Alendra kini terhadapnya begitu manis. Bahkan kemarin Alina diberi kejutan makan malam bersama dengan teman-teman Alendra, tidak lupa Boy juga ikut di sana. Dan itu jauh dari perkiraan Alina tentang Alendra yang dulunya terkesan cuek dan tidak tahu diri.


"Emang bukan, aku sekarang calon ayah dari anak kamu Jenni, jangan lupakan itu," balas Alendra membuat Alina menggeleng dengan senyumnya.


Tentang jati diri Alina yang asli keduanya sepakat untuk merahasiakan dari siapa pun termasuk kedua orang tua. Hanya mereka dan juga Boy saja yang tahu, terlebih Alina kini sedang mengandung buah cinta mereka.

__ADS_1


Untuk kedua orang tua Jennifer juga Alina bisa bertemu selama masih ada Boy di sisinya. Apa lagi mendapatkan orang tua dan ibu martua yang sangat baik membuat Alina kini bisa merasakan kasih sayang dari orang tua.


Kedatangan Alina kembali di sekolah kini tidak lagi mendapat tatapan tajam atau bisikan-bisikan gaib dari teman-temannya. Malah ia mendapat senyum simpul dari beberapa murid yang berpapasan dengannya.


Alina terdiam, ia merasa aneh kenapa semua murid kini bersikap berbeda dari biasanya. Diperlakukan seperti itu malah membuat Alina merasa aneh sendiri rasanya.


Tepat ketika Alina masuk ke kelasnya. Ia kembali dikejutkan dengan sepanduk besar yang terbentang di depan matanya. Bukan lagi tulisan yang mencemooh seperti biasanya. Namun tulisan besar sebagai bentuk ucapan selamat datang untuk Alina.


Welcome back Alina Ghaveza!!


Alina semakin terkejut saat tiba-tiba Gevan dan yang lain muncul di hadapannya. Sudut bibir Gevan tertarik ke atas, bersamaan dengan beberapa teman OSIS lainnya yang ikut membantu.


"Selamat datang Alin," ujar Gevan tersenyum manis.


"Selamat juga untuk kehamilannya," ujar Gevan seketika membuat Alina terperangah kaget.


Lebih kagetnya lagi semua mengangguk dengan senyum. Lalu menghampiri Alina dengan kata maaf dari beberapa teman-temannya yang pernah sengaja mencari masalah dengan Alina.


"Alin, maafin gue ya?"


"Lin. Gue juga minta maaf ya?"


"Gue juga Lin, sorry banget kelakuan kita dulu terlalu berlebihan."


"Kita harap lo mau maafiin kita semua."


Alina pikir. Setelah mereka tahu kebenarannya. Mereka semua akan semakin gencar mencari masalah atau tidak suka dengannya. Namun ternyata teman-teman sekolahnya justru malah bertindak diluar dugaannya. Entah itu karena setatusnya yang kini menjadi seorang istri dari Alendra. Atau memang tulus meminta maaf, Alina tidak akan memusingkan hal itu, baginya ia dapat melanjutkan sekolah dengan tenang itu sudah lebih dari cukup, sebelum ia benar-benar memilih untuk berhenti dan sibuk dengan kehidupan baru sebagai seorang Ibu.


Jika harus menghentikan sekolah demi anak, Alina rela melakukannya. Ia tidak mau anaknya sampai kurang kasih sayang dari orang tua seperti halnya dirinya dulu. Baginya pendidikan memanglah sangat penting, tetapi berada di posisi Alina seperti sekarang ini. Hamil ketika masih sekolah jelas Alina akan memilih untuk merawat anaknya meski harus meninggalkan sekolah. Pilihan yang sangat sulit namun dia yakin tidak akan menyesalinya. Selama orang di sekitarnya juga mendukung apa yang dia inginkan.


Setelah bel istirahat. Alina duduk bersama dengan teman yang lain di kantin. Melihat Widya sendiri sebenarnya membuat hatinya mencelos iba, namun untuk kembali dekat dengan Widya harus Alina pikirkan matang. Ibu Widya kini juga sudah tidak bekerja di rumah Alendra lagi. Namun tetap diberi kerjaan yang lain, menunggu toko kue mama Intan yang baru beberapa hari ini buka.


"Eh... Apa ini?"


"Gila. Sadis banget."


"What? Sebrutal itu ternyata Aurel?"


"Nggak nyangka sih gue, muka dua banget nggak sih mereka?"


"Parah sih kalau ini, gua yakin Aurel nggak bakal sekolah di sini lagi."


Beberapa siswi membicarakan vidio yang baru saja tersebar di akun lambe-lambe lamis sekolah. Vidio dimana Aurel sedang merundung Widya dengan cara yang bisa dikatakan brutal.


Sejenak Alina terdiam. Dia yakin pelaku utamanya ialah Widya sendiri meski di dalam vidio terlihat Aurel dan teman-temannya sebagai pelaku pertama. Namun ada niat tersendiri dari Widya yang sengaja merekam tindakan kurang ajar Aurel itu.


"Wwwuuuuu!"


"Dasar tukang bully!"

__ADS_1


"Premanisme sekolah nggak sih!"


"End udah pasti end lah si Aurel."


Komentar teman-teman yang lain ketika melihat Aurel dan teman-temannya menuju ke ruang kepala sekolah untuk diperiksa lebih lanjut lagi.


Sampai di kelas. Terlihat Widya yang baru saja beranjak dari duduknya. Ia juga ikut dipanggil ke ruangan kepala sekolah atas vidio yang beredar.


Keduanya terdiam dengan tatapan saling bertemum.


"Setidaknya Aurel juga harus ikut hancur seperti aku Alina," ujar Widya berlalu meninggalkan Alina di kelasnya.


Ingin mengejar, namun Alina lebih memilih untuk tidak ikut campur lagi. Kini di antara dirinya dan Widya bukan lagi sahabat seperti dulu. Apa yang menimpa Widya bukan lagi tanggung jawab Alina sebagai seorang sahabat untuk melindunginya.


Sepulang sekolah hari ini. Alina sudah janjian dengan Boy untuk pergi ke rumah lamanya. Kurang lebih satu jam perjalanan Alina sampai di depan gerbang rumah yang kini sudah tidak berpenghuni lagi. Rumah besar yang tampak terlihat sepi.


"Ayo," ajak Alendra menyadarkan lamunan Alina.


Kepalanya mengangguk. Kemudian ia turun dengan bantuan dari Alendra. Sejak kehamilannya Alendra benar-benar perhatian dengannya, seakan takut jika terjadi sesuatu dengan Alina.


"Hei bumil, lama bener deh," komentar Boy melihat kedatangan Alina dan juga Alendra.


"Ini kuncinya, cus masuk!" Boy menyerahkan kunci rumah kepada Alina.


Memang ketika rumau tersebut sengaja di kosongkan. Boy lah yang bertanggung jawab memegang rumah lama Alina dulu. Setelah 3 bulan kepergiannya rumah Alina memang sengaja dikosongkan.


Ceklek


Ruangan dengan nuansa abu-abu terlihat masih sama seperti dulu. Kamar yang sangat Alina rindukan, meski menyimpan banyak kenangan pahit.


Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat kaca besar yang kini sudah terpajang kembali. Seingatnya dulu kaca di kamarnya sengaja dia pecah, dan itu sebelum kecelakaan menimpanya.


Cup


Sebuah kecupan pada pundaknya Alina rasakan begitu hangat. Alendra sengaja memeluknya dari belakang.


"Aku seperti sedang melihat wajah asli kamu Jenni," ujar Alendra membuat sudut bibir Alina tertarik ke aats.


"Jadilah Alina dengan fersi kamu, karena aku menyukainya," jelas Alendra membuat Alina menoleh ke arahnya.


"Oh ya? Meski sikap ku terkadang menyebalkan untukmu?" tanya Alina diangguki oleh Alendra.


"Aku suka sikap menyebalkanmu," balas Alendra menatap dalam manik mata Alina.


Untuk beberapa saat keduanya saling melempar pandang. Sebelum akhirnya hanyut dengan ciuman yang hangat dan memabukan. Di saksikan oleh ruangan yang penuh dengan kenangan pahit Jennifer dulu. Lalu tergantikan dengan rasa bahagia yang membuncah karena adanya Alendra dalam hidupnya.


Seperti api di atas api, gairah keduanya semakin tinggi di ruangan yang membuat Alina bisa berada di titik sekarang ini. Karena kejadian malam itu, dan kamar terdahulunya sebagai saksi yang akan terjadi perubahan besar dalam hidupnya.


END

__ADS_1


__ADS_2